Saturday, July 14, 2018

Peran Negara dalam Mewujudkan Ketakwaan Individu


Oleh : Siti Sadja’ah


       Bulan Ramadhan telah kita lewati. Selama sebulan penuh kita menempa diri dengan melakukan berbagai amalan wajib dan sunnah untuk meraih derajat takwa. Namun, untuk bisa menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa, tidak cukup hanya dengan amalan shaleh selama bulan Ramadhan saja. Karena kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk melakukan amal shaleh di setiap waktu. Allah SWT memerintahkan kepada setiap Muslim untuk beribadah kepada-Nya sebagaimana firman-Nya, “Hai manusia, beribadahlah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (TQS. al-Baqarah [2] : 21). Ibadah di sini bukan sekedar menjalankan ritualitas semata seperti shalat, shaum, zakat, dan haji, tetapi menjalankan hukum-hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Aturan Islam tidak hanya digunakan untuk mengatur masalah akidah, ibadah, makanan-minuman, pakaian, dan akhlak saja yang bisa dilakukan oleh individu muslim, tapi juga digunakan untuk mengatur aspek yang lebih luas dalam ranah masyarakat dan negara. 


       Konsekuensi keimanan  kepada Allah SWT mengharuskan seorang muslim hanya menjadikan Islam sebagai satu-satunya jalan hidup yang harus dia tempuh, bukan jalan lainnya. Ini ditegaskan Allah SWT dalam Alquran, “Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain karena bisa menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah kalian diperintahkan agar kalian bertakwa.” (TQS. al-An’am [6] :153). Menurut Imam as-Sumarqandi dalam kitabnya “Bahr al-Ulum”, jalan lurus yang dimaksud dalam ayat ini adalah Islam. Oleh karena itu, jalan Islam yang harus diikuti, bukan jalan yang lainnya, yaitu jalan kaum Yahudi dan Nashrani. Hanya dengan menetapi jalan Islam kita akan menjadi orang yang bertakwa. 


       Seorang muslim wajib mengambil jalan Islam secara totalitas, sehingga dia tidak akan mengambil dan mengamalkan sebagian hukum-hukum Allah dan meninggalkan hukum-hukum Allah yang lain. Dia tidak hanya menggunakan fiqih Islam ketika melaksanakan shalat, shaum, zakat, dan haji, tapi juga ketika dia melakukan muamalah, baik itu di bidang ekonomi, bisnis, politik, pemerintahan, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Seorang muslim yang taat tidak akan merujuk pada hukum-hukum ekonomi dan bisnis Kapitalisme Barat ketika dia melaksanakan aktivitas ekonomi dan bisnis. Dia juga tidak akan mengambil sistem demokrasi dalam menjalankan aktivitas politik dan pemerintahan. Begitupun dalam bidang sosial dan pendidikan, ia tidak akan mengacu pada teori-teori pendidikan Barat yang berasaskan sekularisme.


       Jika seorang muslim telah mengambil jalan Islam secara totalitas, maka ia telah mencapai ketakwaan hakiki. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, apakah di negeri ini yang disebut sebagai bukan negara agama ini ketakwaan hakiki tersebut dapat dicapai? Apakah seorang muslim dapat mengamalkan seluruh ajaran agama dalam negara yang berdiri di atas asas sekularisme yang menafikan aturan agama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara? 


       Ketakwaan tentunya harus diwujudkan tidak hanya dalam ranah individu saja, tetapi juga pada ranah masyarakat dan negara. Inilah yang disebut sebagai ketakwaan kolektif. Ketakwaan kolektif ini akan mendukung seorang muslim untuk mencapai ketakwaan sempurna. Tanpa ada ketakwaan kolektif, seorang muslim yang berjuang untuk senantiasa takwa akan mengalami kesulitan ketika masyarakat tempat dia tinggal jauh dari nilai-nilai Islam. Kemaksiatan dimana-mana dapat melemahkan semangatnya untuk tetap tunduk dan terikat pada aturan-aturan Allah SWT.  Sebaliknya, dorongan ketakwaan individu Muslim akan tetap terpelihara jika dipadu dengan masyarakat dan negara yang senantiasa taat pada aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Dan ini hanya bisa terwujud dalam institusi negara Khilafah yang menerapkan Islam kaffah.[]

Wallahua’lam bish shawab.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!