Sunday, July 22, 2018

Partisipasi Politik Perempuan di Ranah Publik


Oleh: Arin RM, S.Si*


Perempuan itu spesial dalam sudut pandang Islam. Sepanjang sejarah penerapan Islam di masa Nabi hingga menjelang kemundurannya, segala aspek yang berkaitan dengan perempuan diperhatikan. Sosok perempuan dicintai dan diperlakukan sejak ia masih kecil sebagai anak. Dan pengasuhan baik atas nya adalah ladang surga bagi kedua orang tuanya. Ketika menjadi istri ia penyampurna separuh agama suaminya, ketika menjadi ibu surga di bawah telapak kakinya. Sungguh luar biasa. 


Seandainya semua tahu bagaimana mulianya Islam memperlakukan perempuan, dan jika semua perempuan tahu betapa terhormatnya ia dalam penjagaan Islam, masihkah ada yang mengiming-imingi atau perempuan itu sendiri mengajukan diri keluar dari perannya sebagai anak, istri, dan ibu?

Sungguh pemahaman kemuliaan ini tertanam kuat di kalangan para shahabiyah dan istri-istri Nabi. Sepeninggalan beliau, mereka (-yang nyaris lebih baik dari banyak sisi dibandingkan dengan yang ada di masa kini-) tak terdengar bergempita melangkahkan kaki dari luar peran utamanya sebagai istri dan ibu. Jika pun mereka beraktivitas di ranah publik, apa yang dikerjakannya sebatas menjalankan syiar Islam sesuai dengan kapabilitas yang memang merekalah pakarnya. 


Padahal jikalau mereka  mau, mereka memiliki spesifikasi menduduki tampuk kekuasaan. Namun semuanya tidak terjadi. Mengapa? Karena mereka dan juga masyarakat di masa itu memahami dengan benar bahwa di ranah publik, laki-laki lah yang memegang urusan kepemimpinan. Mereka juga paham apa yang dituturkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, telah berkata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak akan beruntung suatu kaum (bangsa) manakala menyerahkan urusan (kepemimpinan) nya kepada seorang wanita.” (HR Bukhari, Ahmad, Tirmidzi,  An Nasai).


Perempuan di masa Nabi dan sesudahnya justru menghebatkan diri untuk melahirkan generasi pemimpin. Mereka menjadi aktor sekaligus sutradara ulung dibalik kelahiran sosok pemimpin dunia sekelas Umar bin Abdul Aziz, Shalahuddin al Ayubi, dan juga Muhammad al Fatih. Tangan dingin dan ketajaman wawasan politik (makna politik sebagai pengurusan urusan umat) para perempuanlah yang menghasilkan sosok bervisi negarawan sejak di usia muda. Dan nyata baiknya suksesi dunia Islam hingga 13 abad ketika perempuan berhasil memainkan perannya sebagai pencetak pemimpin dari ranah domestik.


Fenomena sebaliknya terjadi di zaman sekarang. Perempuan pada umumnya lebih bangga jika berhasil meniti sukses di luar rumahnya. Menjadi pegawai atau berbisnis hingga menduduki posisi-posisi strategis ataupun menjabat sebagai pimpinan. Untuk urusan penyiapan generasi, dipercayakan kepada lembaga-lembaga pendidikan. Setali tiga uang, membaca situasi sibuknya perempuan melibatkan diri di roda perekonomian dan bahkan politik kekuasaan, para pemilik modal menjamah bisnis di balik slogan pendidikan. Sekolah-sekolah di bawah usia TK kian marak bermunculan. Dianggap menstimulasi sejak dini meski pada hakikatnya merampas jatah anak bermain bebas dengan orang tuanya. Menangkan dan mencuri jatah waktu anak berkumpul dengan keluarganya.


Disisi lain, seiring banyaknya perempuan di luaran maka tiindak asusila, kriminalitas, kemiskinan dan juga permasalahan kesehatan yang memposisikan perempuan sebagai korban kian banyak terjadi. Semakin nampak kebiadaban yang menyebabkan kehormatan dan kemuliaan perempuan dinomor sekiankan. Sungguh dilema. Sebab korelasi penurunan problematika perempuan dengan semakin banyaknya perempuan yang mengambil peran di ranah publik belum nampak signifikan. Sebalik lahirnya generasi yang menjauh dari kualitas ideal justru semakin banyak. Memang bukan semua salah perempuan, tapi setidaknya akan berbeda cerita jika perempuan mendekap generasi langsung dengan kelembutannya sendiri.


Peran perempuan sangatlah dominan di dalam keluarganya dengan mandat besarnya memproduksi sosok generasi pemimpin, pengisi peradaban. Ketua AILA, Rita Soebagio, menyampaikan problem terkait pelecehan seksual pada anak, pemerkosaan, hingga paparan LGBT yang ada hari ini lahir dari disfungsi keluarga. Ayah yang tidak berperan, ibu yang tidak berperan, akhirnya anak yang menjadi korban.


Jika terus dibiarkan generasi akan hancur. Eksistensi peradaban di masa mendatang akan terancam. Dan sepertinya kehancuran masa depan anak inilah yang sistematis dibidik musuh-musuh Islam. Mereka tidak menghendaki ada generasi penerus yang hebat yang akan mengalahkan hegemoni kebatilan. Itulah mengapa mereka berupaya mencerabut perempuan dari peran utamanya. Iklan perempuan itu hebat jika jadi pemimpin di publik terus dimainkan. Secara konstitusi dipatok jatah 30% keterwakilan politik perempuan sebagai sebuah perbandingan minimal. 


Memang tidak ada yang salah perempuan bermain poitik, asal makna politiknya bukan sebatas perebutan kekuasaan untuk memimpin sebagaimana konsep kapitalisme. Bahkan Islam memandang aktivitas politik itu mulia, jika dimaknai politik sebagai riayah syuunil Ummah atau mengurusi urusan umat. Dan perempuan tidak dilarang masuk di dalamnya. Bahkan dengan batasan makna tersebut, perempuan boleh ambil bagian dalam upaya politik seperti muhasabah pada penguasa,  melek politik dan mengambil peran dakwah di ranah publik. 


Perempuan perlu tahu kebijakan apa yang tengah dimainkan saat ini. Bukan agar mampu menempati singgasana kepemimpinan di ranah publik, melainkan agar bisa menakar sejauh mana bahaya politisasi kebijakan bagi kelangsungan generasi penerusnya nanti. Agar bisa mengoreksi yang salah dengan pendapatnya. Agar bisa mengcounter balik fasadnya hantaman kerusakan bertubi yang ditembakkan oleh mesin peradaban asing. Semuanya urgen dan diperlukan sebagai  amunisi  untuk mengambil partisipasi aktif mengedukasi dan menyiapkan generasi. Mendidik dan mengarahkan mereka hingga menjadi sosok-sosok hebat yang siap mengembalikan kegemilangan Islam jilid dua. [Arin RM].


*freelance author, member TSC


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!