Thursday, July 26, 2018

Menyikapi Pernikahan Dini


Oleh : Sunarti

Muncul lagi kehebohan, berita tentang pernikahan dini. Setelah beberapa waktu yang lalu berita tentang pernikahan pada usia muda dari putra seorang dai kondang sudah tenggelam. Kini kabar pernikahan yang melibatkan anak usia dini kembali mencuat. Pernikahan ABG ZA (14 tahun) dan IB (15 tahun) di Tapin, Kalimantan Selatan sedang di bahas di berbagai pemberitaan dan perbincangan. Layaknya artis, pernikahan ini menjadi opini hangat. Pro dan kontra terhadap pernikahan dinipun bermunculan. 

Pernikahan usia muda/pernikahan dini di negeri ini sebenarnya angkanya cukup tinggi. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pernah melansir jumlah remaja Indonesia yang sudah memiliki anak, cukup tinggi yakni 48 dari 1000 remaja.

Pernikahan dini atau secara bahasa dikatakan sebagai pernikahan "sebelum waktunya" adalah di mana pernikahan dilakukan di negeri ini dengan usia di bawah 18 tahun. Pernikahan anak usia dini sebenarnya tidak diperkenankan menurut UU Perkawinan. Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan menyebut, "Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun".(republika.co.id)

Menikah di usia muda membahas hal ini, sebenarnya, bergantung kepada sudut pandang dari masing-masing pemahaman. Pandangan dalam peradaban sekulerisme, memang kehidupan tidak diatur dengan agama. Maka aturan menikah juga harus sesuai dengan yang ditetapkan manusia. Bukan berpatokan pada ajaran Tuhannya (ajaran Islam). Salah satunya adalah penetapan usia bolehnya menikah, yaitu pada usia di atas 18 tahun. Padahal, perilakunya sudah dewasa. Namun sayang, cara berpikirnya masih anak-anak. Lebih disayangkan lagi, pemikiran mereka tidak mampu menghadapi sekaligus menyelesaikan permasalahan secara dewasa. Ini menyebabkan bermuculannya pasangan muda-mudi yang bukan pasangan halalnya. 

Perbedaan cara pandang dalam sistem sekulerisme dan sistem Islam terhadap usia, membuat berbeda dalam menyikapinya. Sikap mendasar ini berpengaruh juga pada kebijakan yang diterapkan. Dikatakan anak-anak (dalam sistem sekarang) tapi secara anatomi fisiologi sudah menunjukkan perubahan kedewasaan. Misalnya saja, ketika wanita sudah haid, maka ovarium sudah memproduksi sel telur dan kandungan sudah siap untuk menjadi tempat inseminasi. Demikian juga untuk laki-laki, ketika sudah memiliki sperma berarti sudah bisa untuk membuahi. Dalam Islam, kondisi seperti ini sudah dikatakan sebagai usia dewasa. Tapi dalam tatanan sekuler belum boleh menikah apabila belum mencapai usia 18 tahun. Padahal secara biologis, reproduksi mereka sudah matang. 

Bagaimana dalam sistem Islam menyikapi pernikahan di usia muda?

Menikah sebagai salah satu penyempurna ibadah. Selain menjaga keturuanan juga sebagai penyalur naluri nau' dengan jalan yang halal. Persiapan matang sebelum usia baliqh sangat diperhatikan dalam ajaran Islam. Tidak heran apabila menikah di usia mudapun, disahkan dalam Islam. Karena secara biologis dan psikologis sudah jauh hari dipersiapkan. Selain itu Islam menentukan batas seseorang dikatakan dewasa atau disebut baliqh. Dalam usia ini seorang laki-laki dan perempuan sudah terbebani dengan hukum syara', disebut sebagai mukalaf. Kewajiban-kewajiban yang dibebankan pada manusia sudah harus dijalankan. Dan sudah terbebani dosa ketika kewajiban ditinggalkan. Sebaliknya, ketika ada larangan dari hukum syara',  juga harus ditinggalkan.

Adapun tanda-tanda baliqh pada wanita yaitu saat datangnya haid. Dan mimpi basah pada kaum laki-laki. Dalam hadist disebutkan :

”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam menunjukku untuk ikut serta dalam perang Uhud, yang ketika itu usiaku empat belas tahun. Namun beliau tidak memperbolehkan aku. Dan kemudian beliau menunjukku kembali dalam perang Khandaq, yang ketika itu usiaku telah mencapai lima belas tahun.  Beliau pun memperbolehkanku”. Nafi' (perowi hadits ini) berkata : "Aku menghadap Umar bin Abdul Aziz, pada saat itu beliau menjabat sebagai kholifah, lalu aku menceritakan hadits ini, lalu beliau (Umar bin Abdul Aziz) berkata : "Sesungguhnya ini adalah batas antara orang yang masih kecil dan sudah dewasa". (Shohih Bukhori, no.2664 dan Shohih Muslim, no.1868)

Islam mempersiapkan pengajaran seluruh hukum-hukumnya. Pada masa anak-anak dan masa remaja sudah dididik sesuai dengan fase-fasenya. Hingga ketika sudah memasuki usia baliqh, siap menjalankan kewajibannya (sebagai mukalaf). Tidak hanya kewajiban tehadap ibadah mahdlah saja. Tapi seluruh hukum-hukumnya. Termasuk diperbolehkannya menikah, meskipun masih dikatakan usia muda. 

Peran orang tua, mempersiapkan anaknya baliqh sangatlah penting. Mengokohkan keyakinan(aqidah) yaitu konsekwansi keimanan kepada Allah. Pembekalan tsaqafah Islam secara rutin. Penanaman akhlak yang baik. Membentengi pergaulan dengan lawan jenis. Memberikan pengetahuan tentang tanda-tanda baliqh (haid/mimpi basah), semua dajarkan sejak masa kanak-anak. Penanaman akidah dan syariah sejak dini sangatlah diperlukan. 

Lingkungan dan masyarakat juga memiliki peran dalam pendidikan anak. Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam saat usianya baliq kelak. Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas. Di saudara, sekolah, tetangga, teman bermain dan lain sebagainya. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, maka akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.

Sayangnya, masyarakat sekarang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme. Menjadikan anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam. Ini merupakan tantangan tersendiri dalam keluarga muslim.

Aturan negara yang tidak berpihak pada keluarga muslim, membuat para anggotanya sulit mentaati aturan Rabbnya. Menikah dalam Islam dianjurkan untuk melampiaskan naluri nau' dan juga menajga keturunan, menghindari fitnah dan menghindari dosa. Berapapun usianya. Namun aturan (di sistem sekukerisme sekarang) mempersulit melalui batasan usia pernikahan.

Polemik pergaulan akan terus berlanjut, senyampang masih dalam sistem sekukerisme. Pergaulan akan bebas tanpa batas. Pernikahan usia muda yang dipersulit, menjadikan enggan para pasangan untuk menikah. Mereka akan memilih berhubungan tanpa status. Lebih paranya lagi, akan menikmati hubungan badan layaknya pasangan yang sudah menikah. Sementara pandangan masyarakat terhadap pernikahan dini adalah pandangan negatif dan tidak layak.

Sesungguhnya ketika Allah menurunkan segenap aturannya, pasti membawa kebaikan atas segala urusan manusia. Sudah saatnya manusia taat pada aturan Sang Pencipta. Kepada aturan yang sempurna dan kaffah.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!