Tuesday, July 24, 2018

Menimbang Larangan Pernikahan Dini


Oleh: Ruruh Anjar

Pernikahan dini menjadi salah satu sub-tema yang diangkat pada peringatan Hari Anak Nasional tahun 2018. Pengangkatan tema ini mengingat adanya beberapa peristiwa pernikahan dini yang terjadi akhir-akhir ini. BKKBN mengusung “Stop Perkawinan Anak” dengan alasan sebagai pengingat untuk memperjuangkan hak-hak anak seperti hak kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, mendapat perlindungan, dan partisipasi sehingga menghasilkan generasi yang GENIUS (Gesit, Empati, BeraNI, Unggul, Sehat) dan Generasi Beencana untuk Indonesia Emas. 

Di dalam Islam pernikahan dini bukanlah sesuatu yang tabu dengan syarat sesuai syariat. Bahkan dibenarkan jika pasangan muda-mudi tersebut khawatir terjerumus ke dalam maksiat. 

Di dalam Islam pun tidak serta-merta anak itu menikah tetapi sudah dilakukan pembinaan terlebih dahulu. Pembinaan kedewasaan akan berpengaruh pada kematangan berpikir dan keberanian bertanggung jawab. Karena penilaian dewasa bukan sekedar usia, namun ada pada kedua indikator tersebut. Bagi muslim, awalnya mereka harus dipahamkan bahwa usia baligh menjadi patokan dimulainya pembebanan pelaksanaan hukum syariat Islam. Pada masa inilah mulai berlaku standar pahala dan dosa pada seorang hamba. Karenanya, manusia muslim yang dewasa adalah mereka yang harus siap menjadi hamba Allah SWT seutuhnya, terikat secara kaffah pada aturan-Nya.

Kemudian, memahamkan fungsi dan tanggung jawab masing-masing peran dalam rumah tangga. Pernikahan adalah perjanjian agung di hadapan Allah Swt. yang harus dijalani sebagai bentuk ibadah. Laki-laki akan menjadi suami yang berperan sebagai penanggungjawab keluarga, dialah pencari nafkah bagi keluarga. Juga akan berfungsi sebagai ayah, pengayom dan teladan bagi anak-anaknya. Sedangkan perempuan akan menjadi  seorang istri sebagai manajer di rumah, Ia berkewajiban melayani suami dan menjalani fungsi keibuan, sebagai pendidik generasi atau madrasah yang pertama dan utama.

Selain itu sejatinya, pernikahan di usia muda jelas sangat penting untuk diapresiasi. Nikah dini mungkin tidak selalu menjadi solusi karena situasi dan kondisi tiap orang pasti berbeda-beda. Tapi pernikahan ini menjadi salah satu penjaga kesucian dan kehormatan generasi dari amoralitas pergaulan bebas, paparan pornografi dan pornoaksi yang mengepung secara massif. Mereka yang secara riil telah baligh dan tak kuasa menahan diri, tidak sedikit yang lantas terjerumus dalam perzinahan.  Maka terjadilah kerusakan akhlak dan sistem sosial di tengah-tengah masyarakat. 

Alhasil, menikah muda selayaknya didukung, dan dibimbing. Menikah muda hendaknya tidak melulu dituding merusak masa depan generasi bangsa. Buka mata, maka akan terlihat jelas, perusak kaum muda adalah pacaran dan pergaulan bebas yang tumbuh subur akibat paham liberalisme di negeri ini. 

Selain itu jika seseorang sudah siap menikah namun belum datang jodohnya hendaknya dia menahan diri bukan memenuhinya dengan mencari pacar atau hal-hal lain yang bertentangan dengan Islam. Namun hendaknya ia menahan diri dengan berpuasa dan menyibukkan dirinya dengan ketaatan-ketaatan kepada Allah hingga pada saatnya ia bertemu dengan jodohnya melalui proses ta’aruf. 

Di dalam Islam anjuran menyegerakan penyelenggaraan pernikahan sangatlah besar. 

Rasulullah Saw bersabda:

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menjadi perisai baginya” (HR. Jama’ah dari Ibnu Ma’ud)

Pembatasan usia nikah sesungguhnya memberi peluang besar bagi perilaku seks bebas, meningkatnya prostitusi di dunia remaja, kebebasan bertingkah laku seperti pacaran dan lainnya merupakan masalah yang lebih serius dibandingkan dengan permasalahan pembatasan usia pernikahan.

Tapi harus diakui juga kesulitan saat ini adalah kedewasaan seseorang yang terlambat matang, dan jikapun sudah mengalami kematangan belum mendukungnya untuk membangun rumah tangga karena terbentur mencari nafkah dan menyelesaikan jenjang pendidikannya, misalnya.

Oleh sebab itu giatlah belajar Islam, karena Islam itu ilmu untuk kita mengarungi hidup agar tenteram di dunia dan bahagia di akhirat. Karena sesungguhnya persoalan yang lebih mendasar dari kalangan anak-anak dan pemuda adalah jatuhnya mereka dalam kubangan pemikiran sekuler. Kehidupan hedonis yang gencar menghujani dunia mereka dan kesuksesan materi yang menjadi tujuan kehidupan mereka. 

Jangan sia-siakan waktu kita untuk sekedar bersenang-senang ataupun hura-hura karena nantinya kelak semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.

Wallahua’lam bishshowwab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!