Monday, July 2, 2018

Mengislamkan Nusantara atau Menusantarakan Islam?


Oleh: Lia DA


Ramainya wacana Islam Nusantara dikalangan para intelektual akhir-akhir ini membuat banyak 'spekulasi' maksud dari Islam Nusantara itu sendiri.


Apa sebenarnya maksud dari Islam Nusantara? Apakah bermaksud mengindonesiakan Islam, agar Islam lebih meng-Indonesia lagi? Sehingga mudah diterima dan seiring sejalan dengan kearifan lokal yang ada?


Bukankah Islam itu Allah turunkan untuk seluruh alam di manapun wilayahnya dengan ajaran yang sama, baik  itu di Nusantara, di Asia, di Jazirah Arab, atau di  Eropa sehingga rahmat-Nya dapat dirasakan bersama? Seperti dalam Al-Quran disebutkan bahwa:


“ Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia ” (QS. Al Anbiya: 107)


Hadirnya Islam di bumi Pertiwi justru bermaksud mengislamkan Nusantara tercinta agar yang sebelumnya masih 'jahiliyah' akan terganti oleh aturan yang benar yaitu aturan Islam, contohnya kebiasaan bersyukur dengan cara wajib  memberi sesajen pada leluhur (syirik) diganti dengan berbagi terhadap sesama, bersedekah dan berzakat.  Islam sama sekali tidak menolak adanya akulturasi budaya selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan syariat. 


Sungguh Islam telah datang dengan sifatnya yang universal, adanya wacana Islam Nusantara justru semakin menyempitkan makna Islam itu sendiri.  


Islam agama yang sempurna, yang tidak memerlukan lagi revisi, dapat diterima di setiap zaman dan disetiap tempat. Firman Allah dalam QS Al-Imran: 19


“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam". (QS Al-Imran:19)


Tidak ada yang lebih sempurna selain agama Islam.


Bersyukur rasanya Islam sampai di tanah Nusantara sehingga kita dapat merasakan manisnya Islam seperti yang dirasakan oleh pemeluknya di berbagai wilayah di manapun berada.


Jadi sangat keliru jika masih ada upaya-upaya 'mengotak-atik' Islam agar dianggap lebih kekinian, karena Islam sudah ditinggalkan Rasulullah SAW dengan kesempurnaannya. Tak perlu lagi diselaraskan dengan berbagai kearifan lokal, karena sesungguhnya kearifan lokal yang ada-lah yang justru harus sejalan dengan syariat Islam, karena sekali lagi Islam hadir dengan berbagai kefleksibelannya tersendiri. 


Sebagai contoh, kita punya kain kebanggaan asli Indonesia yaitu batik, maka tak mengapa jika kain batik kita modifikasi untuk penunjang pakaian muslimah atau penunjang ibadah lainnya, contoh lain adalah kebiasaan suku Baduy dalam mengumpulkan hasil panen di lumbung padi yang sudah dilapisi berbagai dedaunan herbal agar tetap awet meski sudah tersimpan lama sehingga manakala paceklik tiba maka mereka tak kekurangan cadangan makanan, bukankah ini memang dianjurkan dalam Islam, pengelolaan pangan tanpa bahan pengawet yang berbahaya, tidak hanya halal tapi juga toyyib.


Maka dari itu datangnya Islam ke bumi Pertiwi merupakan Rahmat tersendiri yang patut disyukuri.


Wallahua'lam


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!