Saturday, July 28, 2018

Mengembalikan Peran Ulama Sebagai Pewaris Nabi


 Oleh: Winda Yusmiati, S.Pd


 _“Sesungguhnya Ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariaskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak_ (HR. Tirmidzi).”


Hadits tersebut sering kita dengar dan sudah masyhur di tengah-tengah masyarakat. Ulama merupakan pewaris para nabi. Sosoknya sangat tepat untuk menjadi tumpuan masyarakat dalam menyampaikan pertanyaan seputar Islam. Perilakunya menjadi teladan, sebagai pelita di tengah kegelapan. 


 *Makna Ulama* 


Dalam _Kamus Besar bahasa Indonesia_ (KBBI) ulama diartikan sebagai orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam. Dalam _Ensiklopedi Islam_ , definisi ulama adalah orang yang tahu atau yang memiliki pengetahuan ilmu agama dan ilmu pengetahuan keIslaman yang dengan pengetahuannya tersebut memiliki rasa takut dan tunduk kepada Allah.


Ulama adalah sosok mulia, karena ia merupakan pewaris nabi, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud:


" _Siapa saja yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, Allah memperjalankannya diatas salah satu jalan surga sesungguhnya para malaikat meletakan sayap mereka karena ridho kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang alim itu dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi hingga ikan yang ada didasar laut. Sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang, sesunggguhnya ulama itu pewaris nabi. Sesungguhnya para nabi tidak pernah mewariskan ilmu. Karena itu siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar_ ". (HR.Abu Dawud, Ibn Majah, At-Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim Al-Baihaqi dan ibn Hiban)


Begitu mulianya kedudukan ulama sampai Rasulullah menyebutnya sebagai pewaris para nabi. Hal ini karena mereka melakukan aktivitas seperti yang dilakukan oleh para nabi, yakni menyampaikan dan menyebarluaskan Islam serta mengajak umat untuk menjauhi kekufuran dan kemaksiatan.


 Ironi Ulama Saat ini


Akhir zaman ini memang begitu banyak nampak kerusakan dan kesesatan. Termasuk di dalamnya ada ulama-ulama su’. Adalah mereka ulama yang menebarkan kesesatan di tengah umat. Menyuarakan sekulerisme, liberalisme, mengatakan semua agama benar, membatasi Islam hanya sebatas ibadah mahdhah saja, hingga menolak penerapan syariat Islam secara kaffah. 


Ulama yang seharusnya menyampaikan dakwah Islam tak lagi menyampaikan apa yang seharusnya di sampaikan tapi justru sebaliknya. Menyampaikan apa yang dipesankan oleh para penguasa saat ini. 


Al Allamah Al-Minawi dalam Faydh al-Qadîr Syarah Jami’ Shogir dari Imam Syuyuthi , mengatakan: 


“Bencana bagi umatku (datang) dari ulama sû’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai oleh kesengsaraannya. Siapa saja yang kondisinya demikian, maka bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat; mereka mengikuti ucapan- ucapan dan perbuatan-perbuatannya. Ia memperindah penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan fatwa untuk penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui.” ( Faydh al-Qadîr , VI/369.)


Padahal sejatinya ulama itu pewaris Nabi yang menyampaikan ilmu kepada kita. Menyampaikan kebenaran Islam tanpa ditambahi dan dikurangi. Ulama itu ibarat lampu yg menerangi bumi. Menunjukkan manusia ke jalan yang benar. Karena sejatinya ulama dan dakwah Islam tidak bisa dipisahkan. Menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah kepada kemunkaran. Termasuk menyeru kepada penguasa terhadap berbagai kebijakan zalim yang diterapkan. 


 Ulama Pewaris Nabi


Kedudukan Ulama sejatinya menjadi tumpuan umat. Mereka adalah pewaris para Nabi (waratsatul anbiya) yang kedudukan mereka dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :


 “ Sesungguhnya perumpamaan ulama di muka bumi laksana bintang-bintang yang ada di langit yang menerangi gelapnya bumi dan laut. Apabla padam cahayanya maka jalan akan kabur.” (HR Ahmad).


Ulama adalah orang yang sangat takut pada Allah SWT baik di dalam hati, ucapan maupun perbuatannya dan berpegang teguh kepada aturan Allah SWT.


 “ _Sesungguhnya mereka yang takut kepada Allah di antara hamba hambaNya hanyalah ulama._ ” (TQS al Fathir [35]:28).


Oleh karena itu, seharusnya para ulama harus menyadari bahwa ia tidak boleh menjadi pion penguasa. Karena ulama tidak pernah mendiamkan, menyetujui dan mendukung kedzaliman dan siapapun yang berbuat dzalim. 


Apalagi saat ini Islam belum diterapkan dalam naungan negara dan problematika umat hadir dari segala lini. Maka ulama tidak boleh mendiamkan apalagi menjadi penentang perjuangan Islam. Karena syari’at Islam bukan pilihan, melainkan kewajiban. Penerapan syariat Islam kaffah menjadi solusi seluruh problematika umat.


 Ulama haruslah berjuang di jalan Allah SWT serta senantiasa memberikan nasihat kepada para penguasa takkala mereka menyimpang dari Islam. Ulama harus menjadi pemandu masyarakat menuju ke jalan Allah. Bukan malah sebaliknya menjauhkan masyarakat dari Islam. 


Saat ini umat butuh ulama pewaris nabi yang siap menjadi panjaga Islam terpercaya, tak mudah terjebak dalam bujuk rayu dunia. Umat butuh ulama yang yang berjuang dalam menjaga kemurnian syariat Islam. Umat butuh ulama seperti para ulama terdahulu. Ulama yang dalam sejarah telah terukir dengan torehan pena penuh semangat. Betapa mengagumkan karya yang mereka wariskan.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!