Monday, July 30, 2018

Mendulang Suara dengan Me-nyaleg-kan Para Artis

.


Oleh Melda Ummu Ghaisan

(Perawat & Ibu Rumah Tangga).



Fenomena  Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2019 akan ramai dengan wajah-wajah publik figur yang sudah tidak asing lagi di jagat hiburan Indonesia. Wajah mereka sering menghiasi media-media elektronik, majalah, surat khabar,  dan internet. Mulai dari penyanyi papan atas dan sejumlah deretan artis sinetron ternama sampai artis yang tidak populer pun, asalkan dia berparas cantik, mereka akan pentas di panggung politik Indonesia jelang Pileg 2019.


Para artis tersebut sudah banyak yang mulai di pinang oleh beberapa Parpol, khususnya parpol-parpol besar,  untuk mendulang suara. 

http://pontianak.tribunnews.com/2018/07/18/dihiasi-wajah-wajah-cantik-inilah-artis-artis-yang-maju-jadi-caleg.


Motivasi yang menggiring sejumlah artis untuk terjun ke dunia politik adalah dengan alasan bahwa mereka ingin ikut berkontribusi Untuk Indonesia lebih baik dan melihat langsung keadaan masyarakat lebih dekat. 

 unhttps://nasional.kompas.com/read/2018/07/16/15420161/jadi-caleg-nasdem-tessa-kaunang-bicara-motivasi-dan-mahar-politik.


Sejatinya melihat fenomena sederet artis yang  berlomba-lomba mendaftar sebagai calon legislatif 2019. Merupakan pengkerdilan makna politik pengaturan umat.  Menjadi ajang lomba untuk menang, dan hiburan, juga sebagai eksistensi semata.

 

Tentu saja,  fenomena seperti ini niscaya hanya ada di sistem Demokrasi. Yang lahir dari aqidah (asas) sekulerisme materialistik. 


Padahal untuk menjadi seorang politisi,   tidak cukup bermodalkan popularitas dan elektabilitas tinggi saja. Karena untuk terjun ke politik sejatinya butuh orang-orang yang kompatibel dan kompeten dI bidangnya,  mereka yang mampu meri'ayah (mengurus)  segala urusan umat/rakyat. Karena semua perbuatan dan pertanggung jawabannya berat di yaumil hisab (akhirat) nanti. 


Dalam Islam, politik adalah sesuatu yang agung krn merupakan bagian hukum syara yang menjadi induk pelaksanaan hukum-hukum syara lainnya. Orang yg terjun dalam politik praktis/ranah kekuasaan dipastikan adalah orang yg paham Islam, paham bagaimana meri'ayah (mengurus) segala kebutuhan umat (rakyat). Mereka juga paham bagaimana menjalankan kepemimpinannya bersandarkan pada hukum sya'ra. Dan menerapkan hukum sya'ra secara menyeluruh (kaffah). 


Padahal Rasulullah mengabarkan dalam hadist 14 abad yang lalu telah mengabarkan tentang kepemimpinan. 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (BUKHARI – 6015).


Hanya ada di sistem Islamlah,  yang jelas akan menghasilkan seorang politisi. Atau seorang penguasa yg paham tentang pengri'ayahan umat dan menyerahkan segala kepemimpinannya bersandarkan pada hukum sya'ra saja yaitu sistem dan ideologi Islam,  bukan yang lain.

Wa'allahu alam bishwab.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!