Thursday, July 26, 2018

Mencari Sang Pewaris Nabi


Oleh : Tari Ummu Hamzah.


Warisan adalah harta berharga yang ditinggalkan oleh orang yang sudah meninggal, kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Sebab seseorang terkadang mengkhawatirkan kehidupan anak cucunya dikemudian hari. Tapi kali ini yang kita bahas adalah warisan dari para nabi. Siapa dia? Dialah para ulama. 


“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (Fathir: 32)


“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits riwayat Al-Imam At-Tirmidzi)


Dari ayat dan hadist diatas jelas menyatakan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Tapi di era rezim saat ini, ulama yang notabene adalah seorang pewaris para nabi, rupanya makin bias. Bahkan bisa dikatakan mulai sulit mencari ulama yang benar-benar menjadi pewaris para nabi.


Sebab dalam rezim saat ini, sudah menggaungkan opini "Islam Nusantara" . Opini begitu menguat seiring dengan dukungan para ulama yang berdiri dibelakang pemerintah, guna mengawal opini ini, agar terus menggelinding bak bola salju. 


Pemerintah yang notabene semakin menguatkan Islam sekuler di negeri ini, tidak serta Merta bekerja sendiri. Karena dibutuhkan tokoh sekaliber ulama dari berbagai jamaah untuk mendukung opini ini. Karena opini ini juga masuk dalam isu keagamaan. Jadi otomatis harus menggandeng tokoh keagamaan, atau ulama untuk melegalkan status Islam Nusantara, yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. 


Maka dari itu langkah pemerintah dalam membesarkan opini Islam Nusantara adalah, dengan mempererat hubungan pemerintah dengan para ulama, dari berbagai jamaah. Sudah kesekian kalinya Presiden Joko Widodo, melakukan pertemuan dengan para ulama, guna membahas opini ini. 


Pertemuan yang baru-baru ini beliau lakukan dengan para ulama adalah, menghadiri acara peresmian pembukaan MTQ Internasional II dan Nasional VIII antar Pondok Pesantren, serta Kongres V Jam'iyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Nahdlatul Ulama, di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 11 Juli 2018. (Metrotvnews.com?


Dalam pertemuan ini Presiden Joko Widodo, berharap agar ulama menjadikan Islam sebagai agama rahmatanlil Alamin. Presiden mengingatkan umat Islam untuk menjadikan alquran sebagai nafas, pegangan hidup yang hakiki, alquran benar-benar bisa diresapi, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-sehari.


Akan tetapi yang beliau tegaskan dalam acara ini adalah, keindahan lafal Al-Qur'an bisa terdengar hingga ke penjuru dunia melalui Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Maksudnya keindahan bacaan Al-Qur'an yang dikedepankan, agar dunia memahami bahwa Al-Qur'an bisa dibaca dengan tilawah yang merdu. Dengan cara inilah presiden Joko Widodo berharap, Islam sebagai rahmatanlil alamin.


Termasuk upaya agar  Al-Qur'an menjadi panduan dalam menjalankan wasathiyah Islam, Islam yang moderat, Islam yang menyejukkan. Begitulah ucapan Presiden. Ini jelas sekali bahwa ada upaya sekulerisme Islam dalam mengamalkan Al-Qur'an. Rupanya Al-Qur'an hanya di pandang sebagai kitab yang harus dibaca dengan tilawah yang merdu, bukan sebagai pedoman hidup yang memang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Baik itu dalam tatanan kehidupan pribadi, masyarakat dan bernegara. 


Inilah jika penguasa menjadikan sekularisme, sebagai salah satu pilar  negaranya.  Islam hanya akan dijadikan sebagai agama ritual saja. Menjadikan tatanan kehidupan kaum muslimin semakin menjauh dari syariat Islam. Bahkan pemerintah berani menggandeng para ulama untuk menguatkan sekularisme di negeri ini. 


Penguatan opini ini akan menggiring para ulama agar mensyiarkan Islam sesuai dengan arahan pemerintah, yang notabene pemerintah sendiri juga disetir oleh asing. Yang tidak menginginkan syariat Islam tumbuh subur di bumi Nusantara. Akibatnya kedudukan ulama sebagai pewaris para nabi semakin bias.


Dari sini terlihat bahwa, peran ulama sebagai penyambung sekularisasi antara pemerintah dengan kaum muslimin. Inilah yang menyebabkan sulitnya mencari ulama sebagai pewaris para nabi. 


Ulama Bagai Pelita Dalam Kegelapan.


Sejatinya peran ulama adalah, sebagai orang yang menjadi penyambung umat dengan Rabbnya, agama dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Kedudukannya sebagai pewaris para nabi, senantiasa mengokohkan syariat Allah sebagai pedoman di setiap tatanan kehidupan. Bukan malah sebagai antek asing dan penguasa sekuler. 


Ketika kejayaan Islam berlangsung. Ulama memiliki porsi dan posisi tinggi dalam negara. Bahkan ulama sebagai pemandu perjalanan hidup kaum muslimin. Karena ulama lah yang menjelaskan dan mencontohkan pelaksanaan ibadah dan syariat Islam. Maka ketika kita berlepas diri dari para ulama yang benar-benar pewaris para nabi, maka seolah kita akan berlepas dari tali agama Allah. Bahkan siapapun atau kelompok apapun yang mengesampingkan ulama pasti akan tersesat jalannya dan akan binasa.


Tersebab Allah Ta'ala memuliakan  ulama dengan ketinggian ilmu, menghiasi dengan kelemah lembutan, sehingga ummat memahami mana yang haram mana yang halal, mana yang batil mana yang Haq, maka ketika Islam diterapkan, Islam akan menjadikan para ulama senantiasa berada dalam kedudukannya yang benar. 


Wallahu a'lam bishowab.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!