Sunday, July 29, 2018

Menanti Ulama Pewaris Para Nabi


Oleh: Thos Dini Restu


Situasi panas perpolitikan saat ini nampaknya membawa perubahan besar pada kondisi umat saat ini di Indonesia. Khususnya para ulama'


Masih hangat jadi perbincangan publik tentang beberapa tokoh Islam yang di anggap kontroversi dengan statement nya mendukung rezim.

Padahal sebelumnya getol memperjuangkan aspirasi rakyat yang selama ini kurang mendapat respon dari pemerintah. Muncullah TGB (Tuan Guru Bajang), gubernur NTB yang awalnya ikut mengomandoi aksi 212. Aksi ini di anggap oleh masyarakat sebagai  bentuk persatuan umat Islam.


Namun baru baru ini TGB malah menunjukkan keberpihakannya pada rezim saat ini.

Menurutnya, langkah ini diambil agar menjaga silah ukhuwah ummat. Sebagaimana di katakan TGB usai jumpa pers soal Konferensi Internasional Moderasi Islam di RM Taliwang Bersama, jl. Tebet Raya, Jaksel Jum'at (20/07/2018)


Sikap serupa pun juga di lakukan oleh Kapitra Ampera yang sebelumnya merupakan pengacara H Rizieq Shihab, Ali Mochtar Ngabalin dan yang lain akan menyusul.


Sebenarnya hai ini bukanlah hal aneh di dunia politik saat ini. Dimana ikatan kawan dan lawan di dasari pada kepentingan partai politik. Apalagi sebelumnya telah terjadi pertemuan antara tim 11 ulama 212 dengan Jokowi di istana Bogor (22/4/2018) (www.suara.com)


Sebab yang menjadi dasar persoalan adalah pragmatisme dalam sistem demokrasi sekuler demokrasi. Prekmatisme ini akan menggerus idealisme seseorang meskipun dalam awam, orang tadi di anggap Sholeh, taat, dan bermartabat. Akan tetapi ketika menceburkan diri dalam kubangan sistem demokrasi sekuler, kesalehan dan ketaatan menjadi hilang tak berbekas.


Ada benarnya apa yang dikatakan seorang Yahudi Benjamin Disraeli "The world isi governed by far different personalia from what is imagined by those who are behind the scenes". Situasi politik lokal, regional dan internasional terjadi hakikatnya mengikuti mainstream dari sebuah kebijakan politik.


Oleh karena itu, umat harus mengamati dan memahami semua kejadian tersebut dari sudut pandang Islam. Inilah yang di sebut kesadaran politik Islam.


Peran ulama mendapat porsi penting dalam membentuk kesadaran umat. Hanya ulama yang menjalankan perannya sebagai tempat rujukan umat untuk mendapatkan solusi atas permasalahan mereka tanpa menyampingkan aktifitas utamanya untuk muhasabah pada penguasa.

Yang berani menyampaikan kebenaran dinnul Islam di hadapan penguasa.


Umat merindukan ulama macam imam Ahmad bin Hanbali yang berani meluruskan Kholifah Al Ma'mun yang beranggapan bahwa Al Qur'an adalah makhluk, apapun resikonya.


Tentu saja, ditengah kubangan kotor demokrasi sekuler saat ini bukanlah hal mudah menemukan ulama macam ini.

Karena hanya sistem Islam yang mampu mencetak ulama pewaris para nabi.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!