Thursday, July 26, 2018

Membina Generasi Masa Kini



Oleh: Nor Aniyah, S.Pd


Kamu paham dengan ini, Nak? Orang yang berjoget-joget itu, katanya seperti yang teman-temannya sukai. Dapat dari kakaknya. Begitu ungkap seorang anak usia TK ketika ditanya tentang sebuah video di smartphone-nya. 


Kecanggihan teknologi masa kini tidak berbanding lurus dengan perbaikan moral. Salah-salah banyak yang terlindas jatuh tanpa pegangan. Hancur dan bobrok. Sangat disayangkan, dari berjuta-juta generasi muda yang ada hanya segelintir yang mampu berkembang ke arah positif. Sebagian besar malah layu dan gugur kehilangan harapan. 


Ambil contoh, aplikasi tik tok yang sempat diblokir akibat banyak yang merasa rusaknya generasi kena pengaruh negatif, namun kini diaktifkan lagi. Ternyata, memang aplikasi ini dibuat dan dimiliki negara besar yang ingin mendapatkan keuntungan. Tidak lupa pula tujuan lainnya untuk melengahkan dan menjauhkan generasi dari mencintai dan memahami ajaran agamanya, Islam. 


Kebebasan dan sekuler saat ini telah menyuburkan lahirnya generasi milenia yang alay yang kehilangan identitas diri dan terjerumus kepada fanatik buta pada idola. Sehingga mau melakukan apa saja demi kesenangan dan menyenangkan sosok idola tersebut.


Saat anak dan remaja memang sedikit sulit mengungkapkan yang diinginkan. Mereka masih dalam masa pencarian identitas diri. Mereka masih belum paham mana yang baik dan benar untuk dilakukan, apalagi yang di kehidupan dalam keluarga, orang tua ternyata mengabaikan. Akhirnya, menyimpanglah perilakunya.


Apakah orang tua berpikir dengan mengurung anak di rumah akan aman? Masih banyak hal negatif yang bisa masuk dari luar rumah, misalnya dari smartphone anak. Atau bila sangat mengekang tanpa penjelasan bisa jadi, si anak berontak dan melakukan hal yang tidak terduga, lari dari rumah. Karena emosi mereka yang masih labil dan sangat perlu bimbingan dan keteladanan. 


Anak dan remaja masa kini lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman dan smartphone. Sehingga dibentuk juga oleh lingkungan dan berbagai informasi yang diterimanya. Bila salah dalam bergaul dan bersosial media, akibatnya bisa mengalami kehilangan hakikat dan tujuan hidup mereka yang sejati sebagai generasi Muslim. 


Kenapa bisa terjadi? Mereka merupakan korban dari rusaknya sistem yang menguasai kehidupan. Sistem yang menenggelamkan akal untuk berpikir dan menilai. Hingga, hanya disibukkan memenuhi kepuasan materi, popularitas dan eksistensi tanpa faedah. 


Penggunaan media tanpa batas dan lemahnya kontrol penguasa dalam menjaga remaja dari kerusakan pemikiran dan pergaulan. Mereka malah tumbuh menjadi generasi yang begitu memuja kebebasan. Berperilaku tanpa panduan atau aturan agama. Sehingga makin merusak masa depan generasi kita, membuat mereka hilang rasa malu. 


Padahal Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya rasa malu itu sebagian dari iman.” (HR. al-Bukhari dan Abu Dawud). 


Rasa malu kepada Allah SWT berkaitan dengan keimanan. Malu ini harus dibuktikan dengan meninggalkan berbagai macam keburukan dan kekejian, serta melakukan berbagai macam kebaikan dan kebajikan. Menurut Imam al-Baidhawi, hakikat malu kepada Allah SWT adalah memelihara diri dari segala ucapan dan tindakan yang tidak Allah ridhai (Faydh al-Qadir, 1/623). 


Akan tetapi, jangankan malu kepada Allah SWT berbuat dosa, mereka seakan kehilangan rasa malu sama sekali pada manusia. Sebab, paham kebebasan (liberalisme) telah merasuki dan diagungkan sebagian masyarakat kita, termasuk kaum muda. Ditambah lagi dengan sistem kehidupan yang memakai kapitalisme-sekuler, yang membuat Islam tak lagi dijadikan pedoman. Jika terus dibiarkan begitu, kehancuran peradaban hanya tinggal menunggu waktu. 


Di dalam Islam posisi generasi, baik mulai dari anak hingga pemuda sangatlah diperhatikan pembinaannya. Mereka punya peran yang besar. Sebabnya, generasi harus punya tujuan hidup, saat masih muda diisi dengan mencari ilmu haruslah ditujukan untuk ibadah dan mencari hidayah Allah SWT. Sehingga akan tumbuh menjadi generasi bertakwa, taat pada Allah SWT dan memiliki segudang karya yang bermanfaat bagi manusia. 


Sangat penting untuk segera mengambil langkah mengatasi permasalahan generasi bangsa. Jangan sekadar menyalahkan sikap remaja tanpa mengetahui alasan sebenarnya. Kemudian kita berusaha mencari solusi atas permasalahan yang ada. 


Perlu peran berbagai pihak untuk melindungi generasi terbaik. Semua tidak boleh berdiam diri, berlepas tangan atau tidak mau peduli. Yang mana yang harus dilakukan dan yang diterapkan, semua harus memberikan perhatian. 


Dalam hal ini, memang orang tua perlu membangun kepribadian anak dengan pondasi akidah Islam. Menerangkan bahwa puncak kebahagiaan seorang Muslim bukanlah terletak pada pakaian yang bagus dan mahal. Bukanlah pula ketika memakan makanan lezat dan  fasilitas mewah. Bukan pula menjadi populer dan banyak yang nge-fans. Sebab, semuanya itu akan habis, hilang, dan berakhir. Puncak kebahagiaan seorang muslim sebenarnya adalah manakala mendapatkan ridho dari Rabbnya. 


Lingkungan, termasuk masyarakat dan sekolah juga harus peduli, sama-sama menanamkan pentingnya aktivitas saling menasihati dalam kebenaran dan menegakkan ketaatan kepada syariat. Masyarakat membudayakan amar maruf nahi mungkar. Sehingga terbentuk lingkungan masyarakat yang Islami. 


Negara pun harus ambil bagian, bahkan bisa dibilang yang paling besar. Hanya negara yang berwenang dalam filter dan mengatur. Baik dari segi media, aplikasi, tayangan televisi hingga menerapkan pengaturan sistem pendidikan dan pergaulan di masyarakat. Tidak lain, untuk melindungi aset yang sangat berharga bagi negara kita ini. 


Jadi, dengan dipandu keimanan dan ketakwaan akan membuat hidup kita, khususnya di kalangan muda menjadi lebih terarah. Terbimbing pada jalan yang lurus dan mampu mengembangkan prestasi terbaik untuk umat. Sebab, negeri ini sangat membutuhkan generasi yang memiliki pemahaman agama dan kepribadian yang beriman dan takwa kepada Allah SWT untuk menjadi calon pemimpin di masa depan.[]





*) Pemerhati Masalah Sosial dan Remaja, penulis dari Komunitas Muslimah Banua Menulis. Berdomisili di HSS, Kalsel.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!