Saturday, July 28, 2018

Mematangkan Emosi Remaja


Oleh : Yanti Ummu Yahya

Sejak pertama kali diciptakan, Allah Ta'ala membekali manusia dengan serangkaian bekal hidup. Berupa kebutuhan jasadiyah dan naluriah. Dua hal ini disebut sebagai potensi kehidupan. Walaupun potensi kehidupan ini sama-sama berupa kebutuhan, akan tetapi karakteristik dorongan kemunculan dan juga urgensi pemenuhannya berbeda. 

Allah Ta'ala telah memuliakan manusia dengan adanya satu keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk hidup lain, yaitu akal. Akal merupakan hasil dari sebuah aktifitas berpikir, yang sangat dipengaruhi oleh beberapa hal. Yaitu fakta yang terindra, (panca) indra, serangkaian informasi dan juga otak yang sehat sehingga mampu melakukan pencerapan terhadap fakta dan informasi yang terekam melalui (panca) indranya.

Dengan begitu ketika manusia bertumbuh dan berkembang, itu artinya secara fisik dia tumbuh. Dan secara akal (penalaran) dia juga berkembang. Sehingga manusia lain akan menilai sesuatu yang tampak dari seorang manusia berupa emosi. Ketika menyikapi dorongan dan juga pemenuhan.

Dengan akal ini, seiring tumbuh-kembang manusia, maka makin dewasa makin matang pula emosinya. Semakin dewasa, semakin mampu pula ia mengelola emosinya. Inilah pentingnya mematangkan emosi. 

Mematangkan Emosi Butuh Proses

Pertama, ingatlah bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik dari kehidupan dunia. 

"Dan akhirat jauh lebih baik dari yang pertama (dunia)". (TQS Adh-Dhuha [93] : 4). 

Setiap kali kita berusaha memenuhi dorongan yang muncul dari serangkaian kebutuhan jasadiyah/naluriah, maka sering kali pula kita mengalami apa yang namanya ‘tidak kesampaian’. Sebagian orang mengatakan ‘gagal’. Semua itu sebagai kesimpulan dari sering ditemuinya aneka kesulitan di tengah jalan.

Tapi tidak bagi seorang yang beriman. Dia akan yakin bahwa hidup ini tidak hanya sekali. Dunia ini hanya sementara, sedangkan akhirat jauh lebih baik dari pada segala-galanya. Jalani hidup ini dengan menempatkan emosi diri (nafsu) di atas rahmat Allah Ta'ala. Artinya menjalani hidup sesuai dengan penuh kepasrahan dan ketaatan pada aturan yang telah Allah Ta'ala tetapkan. 

Untuk apa berhasil di dunia akan tetapi kelak di akhirat celaka. Yakinlah tatkala kita belum mampu memenuhi segenap dorongan jasadiyah/naluriah, pasti Allah Ta'ala telah menyiapkan ganti ataupun reward yang hakiki dan jauh lebih baik di akhirat nanti. 

Kedua, janganlah engkau tergesa-gesa.

"Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa". (TQS al-Isra’ [17] : 11).

Ciri seorang telah matang secara emosial adalah dia tidak seketika memenuhi setiap dorongannya. Akan tetapi dia akan berpikir sejenak sebelum bertindak. Meskipun memang sudah menjadi sifat dasar manusia adalah suka tergesa-gesa. Semua harus bisa diatasinya.

Ingatlah perjuangan adalah suatu arah yang tidak dikehendaki musuh-musuh kita. Baik musuh yang berasal dari hasutan hawa nafsu diri, maupun hasutan orang di sekitar kita. Sama halnya ketika kita dari Surabaya menuju Jakarta. Mantap dengan memilih naik kereta jurusan Surabaya-Jakarta. Maka semua penumpang harus bersabar juga yakin. Bahwa jaminan perjalanan mereka pasti akan sampai pada tujuan. Tidak akan mudah berganti kendaraan lain yang belum bisa memberi jaminan.

Oleh karena itu, ketika kita telah menundukkan segala emosi sesuai aturan Allah Ta'ala. Tetapi belum juga mendapatkan apa yang kita idam-idamkan. Saat itulah kita harus yakin bahwa selama jalan ini adalah jalan yang telah Allah Ta'ala tetapkan. Sungguh semua itu tinggal menunggu waktu memetik hasilnya.

Ketiga, bersabarlah, sebagaimana kesabaran para ulul azmi dan para rasul.

"Maka bersabarlah kalian sebagaimana telah bersabar para ulul azmi dari para rasul". (TQS Al-ahqaf [46] : 35 ).

Tatkala seseorang berada dan berjalan ‘on the track’, tidak akan ada yang perlu dikhawatirkan. Karena hanya jalan itulah satu-satunya cara memperoleh hal yang diidam-idamkan. 

Ketika kita sudah yakin dan mantap naik kereta tadi, kadang kala ada ‘kerusakan’ dan ‘kemacetan’ terjadi di sepanjang jalan menuju kota tujuan. Kita yakin bahwa hanya depo kereta yang bisa mengatasi permasalahan yang ada pada kereta. Kru kereta pula yang tahu betul perkiraan waktu perbaikan. Sementara kita harus yakin dan tidak bisa seenaknya menuntut kereta berjalan dalam kondisi yang tidak memungkinkan.

Dalam kondisi perjuangan tidak semulus yang kita harapkan, lagi-lagi kita harus bersabar. Berkonsultasilah pada orang-orang yang tahu betul setiap permasalahan berikut solusi terbaiknya.

Keempat, tetaplah dalam kesabaran dan dirikanlah sholat.

"Minta tolonglah dengan sabar dan sholat". (TQS. al-Baqarah [2]:153).

Allah Ta'ala itu Maha Baik, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Tidak akan membiarkan setiap manusia yang beriman untuk berjalan sendirian dalam kesulitan. Apalagi kalau manusia itu selalu menengadahkan tangannya ke langit, di tiap penghujung siang dan malam dengan mengharap pertolongan-Nya.

Ketika mulai gontai langkah kita. Atau bahkan hampir-hampir putus asa menghampiri. Tidak sedikit dari kita yang kemudian lupa diri. Mengumpat dan mencaci menjadi pelampiasan emosi. Luapan energi negatif seakan semakin menjadi-jadi.

Di saat itulah kita harus melakukan banyak komtemplasi. Berpikir sejenak menurunkan gelombang sinusodial energi negatif menuju energi positif. Selanjutnya kembali yakin bahwa Allah Ta'ala akan selalu membersamai.

Fokuskan kembali untuk tetap ‘on the track’ pada jalan Allah SWT yang telah kita pilih ini. Bersama segenap sabar dan penuh keyakinan, bahwa Allah SWT senantiasa akan menolong hamba-Nya. 

Wahai remaja ! Jadilah dewasa, jadilah matang, jadilah pemenang. Wallahu 'alam bi showab.  [ ]



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!