Saturday, July 14, 2018

MEKANISME PEMBAGIAN ZAKAT SESUAI SYARIAT


Oleh: Fatimah Fitriana, S. Hut*


Diakhir ramadhan kemarin (14/5) terjadi peristiwa meninggalnya 3 orang saat pembagian zakat dari salah satu pengusaha batu bara di Kalsel.

Tempat pembagian tersebut di batu laki, padang batung, HSS. Korban berdesak-desakan bersama calon penerima zakat. Hal demikian terjadi karena masyarakat takut tidak mendapatkan zakat. Karena amplop yg disediakan hanya 6.000.

Namun ternyata bukan  hanya korban yang meninggal, tetapi banyak juga yang pingsan karena berdesak desakan dan terpaksa dibawa ke rumah sakit.

Sungguh amat disayangkan, niat baik untuk menolong orang mengalami hal yang demikian. Sepertinya memang harus introspeksi dalam mekanisme pembagian zakat, agar hal serupa tak terulang kembali.

Kita sebagai muslim wajib terikat semua syariat-Nya. Maka sudah seharusnya kita mengambil tata cara pembagian zakat sesuai islam.

Zakat merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam yang digunakan untuk membantu masyarakat lain, untuk menstabilkan ekonomi masyarakat dari kalangan bawah hingga kalangan atas, sehingga dengan adanya zakat umat Islam tidak ada yang tertindas karena zakat dapat menghilangkan jarak antara si kaya dan si miskin. 

Zakat merupakan suatu ibadah yang dipergunakan demi kemaslahatan umat, dengan adanya zakat (baik zakat fitrah maupun zakat maal) kita dapat mempererat tali silaturahmi dengan sesama umat Islam.

Zakat merupakan salah satu rukun Islam. Menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu, hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. Zakat termasuk dalam kategori ibadah seperti shalat, puasa dan haji yang telah diatur secara rinci berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah. 

Dalam Al-Qur’an surat At Taubah ayat 60, Pembagian zakat hanyalah kepada orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah.

Menyikapi peristiwa pembagian yang terjadi saat ini, mengapa terjadi desak-desakan dalam mengambil zakat bahkan sampai menimbulkan korban jiwa dan kurang tepat sasaran? Itu terjadi karena mekanisme pembagian zakat yang kurang tepat. Supaya tidak terjadi lagi hal demikian, maka lebih baiknya dalam pembagian zakat mencontoh Rasulullah saw di masa lalu.

Pada masa Rasulullah saw sebagai pemimpin Negara Islam, untuk mempermudah mekanisme pemungutan dan penyaluran zakat. Rasulullah saw mengangkat petugas khusus yang dikenal sebagai ‘amil. Diantara sahabat Rasulullah saw yang pernah menjadi ‘amil adalah Umar bin Khathab dan Muadz bin jabal. Rasulullah saw mengetahui orang-orang yang berhak menerima zakat, sehingga sudah tergambar jelas dalam pendistribusian zakatnya. Karena lazimnya sebagai pemimpin negara adalah memiliki data penduduknya. Sebagaimana firman Allah Swt. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu bersihkan dan sucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya dosa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”, surat At-Taubah ayat 103.

Belajar dari peristiwa di masa Rasulullah saw. Pembagian zakat sebaiknya dikelola oleh Negara. Sebagai tanggung jawab negara dalam menjalankan perintah Allah secara kaffah. Negara akan mudah mengelola zakat karena negara memiliki data kependudukan yang lengkap mengenai delapan golongan yang berhak menerima zakat. Maka hendaknya pemerintah juga mengangkat ‘amil untuk mengelola zakat, agar bisa terdistribusi secara merata. Pengelolaan zakat ini akan bisa diterapkan jika sistemnya islam, menerapkan islam secara menyeluruh.

Negara islam memiliki sistem yang kompleks dalam mengatur kehidupan. Seperti halnya zakat tidak bisa hanya dilihat dari pembagian zakat, namun juga harus melihat siapa saja yang wajib mengeluarkan zakat. Zakat merupakan suatu sarana untuk mewujudkan kemaslahatan bersama tanpa membedakan sikaya dengan simiskin. Artinya, semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama sesuai dengan porsi masing-masing. Oleh karena itu, melalui pengelolaan zakat ini taraf hidup masyarakat secara keseluruhan akan meningkat.[]



*Pemerhati sosial dan generasi. Berdomisili di Hulu Sungai Selatan (HSS).


Biodata Penulis:

Fatimah Fitriana, S.Hut. Berdomisili di Hulu Sungai Selatan (HSS). Alumni Fakultas Kehutanan ULM.

Penulis bisa dikontak lewat email: fatimahfitriana28@gmailcom.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!