Monday, July 30, 2018

Masjid (bukan) Sarang Radikal!


Oleh: Moswaa

Pemerhati sosial dan masyarakat.


Bertempat di kantor pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rumah Kebangsaan dan Dewan Pengawas P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) merilis hasil surveinya tentang penyebaran radikalisme di masjid. Minggu (8/7).

Hasil survey tersebut menyebutkan, sebanyak 41 dari 100 masjid yang ada di kantor pemerintahan, lembaga pemerintahan dan kantor BUMN di Jakarta terindikasi terpapar Radikalisme. Dengan metode pengumpulan data yang menyangkut khotbah jum'at, buletin, brosur, kalender, dan majalah dinding, ditemukan beberapa konten radikal. Diantaranya ujaran kebencian, sikap negatif terhadap agama lain,  sikap positif terhadap ide khilafah, sikap negatif terhadap minoritas, kebencian pada minoritas, dan sikap negatif terhadap pemimpin perempuan dan non muslim. 

Menurut Ketua Dewan Pengawas P3M Agus Muhammad, indikasi radikal yang maksud adalah pemikiran atau gerakan yang menghendaki perubahan secara mendasar, secara fundamental, tanpa mempedulikan kelompok-kelompok lain yang beda. (08/07/2017, voaindonesia.com)


Indikator yang kabur 

Hasil survey P3M tersebut sontak menuai kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Wakil ketua MUI,  Prof. Yunahar Ilyas ketika di konfirmasi terkait hasil survey justru mempertanyakan indikator radikal yang dipakai P3M. Karena menurutnya, istilah radikal memiliki permasalahan pada definisi. Jika tidak ada kejelasan ukuran maupun indikator pada definisi yang dipakai,  maka akan terjadi bias. (10/07/2018, kiblat.net)

Ketidak jelasan indikator yang dipakai, tak ayal memunculkan keresahan di kalangan masyarakat. Timbul rasa was-was memasuki tempat suci yang semestinya dapat merasakan ketenangan dan kenyamanan disana. Tak sedikit pula yang akhirnya berwacana bahwa langkah P3M tak lebih dari Islamophobia. 

Jika menilik pada temuan yang dijadikan landasan P3M menentukan masjid terpapar radikalisme atau tidak,  maka terlihat stigma masjid terpapar radikalisme tertempel ketika masjid menjalankan fungsinya lebih dari yang biasanya. Tidak hanya sebagai tempat menjalankan sholat dan mendengarkan tausiyah, melainkan menjadi tempat untuk membahas urusan politik, kebijakan-kebijakan buah dari perpolitikan yang ada, dan problematika yang tengah dihadapi umat. 

Lantas, bagaimana peran masjid yang sesungguhnya?



Fungsi masjid era Rasulullah. 

Tak ada teladan yang lebih baik selain Rasulullah. Termasuk dalam hal mendudukan peran masjid dalam Islam. Pada masa Rasulullah,  masjid memiliki peran yang sangat penting. Hal itu tergambar dari apa yang dilakukan Rasulullah pertama kali setiba di Madinah, yakni membangun masjid. 

Rasulullah memfungsikan masjid tidak semata sebagai tempat ibadah sholat maupun menimba ilmu semata. Melainkan salah satu pojok serambinya dikhususkan sebagai tempat bermukim kaum fakir yang tidak memiliki tempat tinggal. Pada masa itu,  Rasulullah juga memfungsikan masjid sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah, pengaturan tata negara, mengatur siasat perang, pengembangan pendidikan,tempat pengobatan para korban perang, tempat mendamaikan dan menyelesaikan sengketa, tempat menerima utusan delegasi/tamu, sebagai pusat penerangan, dan pembelaan agama. Hal itu tergambar dalam banyak riwayat, diantaranya: 

"Tiang Duta/Utusan : Posisinya menempel dengan jendela kamar Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dinamakan demikian karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa menggunakannya sebagai  tempat pertemuan ketika ada Duta/utusan bangsa Arab yang datang kepadanya.” (Al-Maghluts, Atlas Al-Hajj wal Umrah, hlm. 247)

“Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk merajam keduanya di dekat kuburan samping masjid. Kata Abdullah; ‘Aku melihat lelakinya melindungi dan menutupi wanitanya dari lemparan batu dengan cara membungkukkan badannya.’” (Hr. Al-Bukhari no. 4190)

Dari Aisyah r.a: "Aku melihat Nabi SAW menghalangi (pandanganku) dengan serbannya, padahal aku sedang memperhatikan orang-orang Habsyi yang sedang bermain-main (berlatih perang) di masjid, sehingga aku keluar (hendak melihat mereka lagi). Aku perkirakan masih suka bermain." (Shahih Bukhari dengan syarah Ibnu Hajar, juz IX, no. 5236)

Kebiasaan Rasulullah mengurusi urusan umat di masjid, diteruskan oleh generasi selanjutnya. Salah satunya Ali bin Abi thalib ketika menjadi pemimpin kaum muslim. 

“Ali mendirikan shalat Dzuhur dan kemudian duduk di halaman masjid di Kufah untuk mengurusi masalah-masalah umat sampai tiba waktu Ashar”. (Hr. Bukhari no. 5616)


Potensi kebangkitan umat

Maka terlihat jelas, masjid menjadi sentra bagi seluruh kegiatan kaum muslim. Tempat membahas seluruh permasalahan yang dihadapi oleh umat untuk diselesaikan sesuai syariah Islam, tak terkecuali urusan politik. Dari masjidlah, Rasulullah mendelegasikan Muadz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy’ari untuk berdakwah ke Yaman. Dari pembinaan ruhiyah yang dilakukan di masjid lahirlah sosok-sosok pemimpin tangguh semisal Abu bakar as shidiq, Umar bin khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib. Dari pengurusan perekonomian dengan zakat dan baitul mal, terciptalah masyarakat makmur sentosa. 

Di masjid pula tercipta kesatuan dan persatuan. Saat manusia dapat bersatu padu tanpa sekat duniawi, maka terlahir darinya kekuatan umat yang dahsyat. Dan terbukti, terpisahnya peran strategis masjid dari kaum muslimin sebagaimana yang terjadi sekarang ini,  menjadikan umat islam lemah dan mudah terpecah belah. 

Seyogyanya, setiap individu muslim memahami potensi strategis masjid bagi kaum muslim. Mari mendudukkan masjid pada posisi yang benar, sebagaimana Rasulullah contohkan. Hingga tak lagi berfikir salah bahwa masjid sebatas tempat sujud sebagaimana terkandung dalam makna harfiyah. Dan tak lagi menduga bahwa masjid menjadi sarang radikal ketika didalamnya membahas urusan umat diluar sholat dan kajian ruhiyah. Karena dari masjidlah, nilai-nilai mulia Islam tersebar dari masa ke masa. Maka dari masjidlah kebangkitan umat bermula.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!