Friday, July 27, 2018

Lepaskan Freeport dari Belenggu Asing


Oleh : Nurmayaningsih 

(Ibu Rumah Tangga Peduli Nasib Bangsa tinggal di Kabupaten Bandung)


Langkah pemerintah untuk mengakuisisi tambang  PT. Freeport sehingga menjadi pemegang saham mayoritas dinilai sebagian kalangan sebagai suatu prestasi besar. Sebagian yang lain justru menyayangkannya karena dalam jangka waktu 3 tahun ke depan  kita akan memilikinya kembali secara cuma-cuma karena kontrak karya freeport berakhir pada tahun 2021. 


Pemerintah memang harus menggelontorkan dana sekitar 53 triliun dalam akuisisi ini dan kembali ‘menggadaikan' tambang emas ini sampai 23 tahun lagi karena kontrak diperpanjang sampai 2041. Sungguh ini suatu logika yang awam sekalipun sulit menerimanya. 


Ibaratnya kita yang punya kenapa susah sekali ingin mengambilnya lagi. Pemerintah berdalih, kita masih memerlukan teknologi mereka serta teknik pemasarannya. Tentu saja hal ini mengundang reaksi yang kadang polemiknya tak berujung. 


Bagaimana sebenarnya sampai freeport ‘jatuh’ ke tangan asing? Dan kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak Sumber Daya Alam(SDA) lain selain Freeport yang dikelola swasta asing. Apalagi hal tersebut juga bertolak belakang.


Jika kita mengacu aturan mainnya kepada  Islam. Bukan seperti sistem pemerintahan kita saat ini yang memisahkan agama dari kehidupan (baca: sekularisme).


Dalam Islam, sumber daya alam merupakan bagian dari kepemilikan umum yang wajib dikelola oleh negara, bukan swasta apalagi asing dan aseng.  Adapun hasilnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat secara utuh. Jadi kita bisa menyimpulkan sendiri kenapa rakyat Indonesia belum sejahtera merata padahal ia memiliki SDA yang luar biasa melimpah. Itu tidak lain karena SDA-nya dikuasai asing dan aseng.


Adapun di antara pedoman pengelolaan kepemilikan umum dalam Islam merujuk pada sabda Rasulullah saw. : 

Kaum Muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api(HR Ibnu Majah). 

Rasul saw. juga bersabda:

Tiga hal yang tak boleh dimonopoli: air, rumput dan api(HR Ibnu Majah). 

Walhasil,  Islam memandang tambang yang jumlahnya melimpah dan menyangkut hajat hidup khalayak ramai berupa garam, batubara, emas, minyak bumi, gas dsb adalah tambang yang berkategori milik umum sebagaimana tercakup dalam pengertian hadist di atas. 


Maka Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni, sebagaimana dikutip Al-'Assal dan Karim (1999: 72-73),mengatakan “Barang-barang tambang yang oleh manusia didambakan dan dimanfaatkan tanpa biaya seperti garam, air, belerang, gas, mumia(semacam obat), minyak bumi, intan dan lain-lain, tidak boleh dipertahankan (hak kepemilikan individualnya) selain oleh seluruh kaum Muslim sebab hal itu akan merugikan mereka.”


Jadi apabila kita kembali pada pertanyaan bagaimana  tambang freeport dan yang lainnya sampai jatuh ke tangan asing karena kita sendiri telah lalai dari aturan Allah. Padahal sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan ketaatan terhadap apa saja yang diputuskan oleh Rasulullah saw. sebagai bukti keimanan kita.Allah SWT telah berfirman: 

Jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara, kembalikanlah perkara itu kepada Allah (al-Qur'an) dam Rasul-Nya(as-Sunnah) jika kalian mengimani Allah dan Hari Akhir(TQS an-Nisa'[4]:59). 

Maka  sudah semestinya kita  untuk bersegera kembali kepada ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya untuk meraih ridho dan keberkahaNya.


Mengaplikasikan Islam secara nyata dan sempurna dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak memilah milahnya. Apalagi sampai memisahkan dari kehidupan dan urusan bernegara.

InsyaAllah,  akan dicapai kehidupan rakyat yang sejahtera merata karena pada dasarnya Indonesia telah Allah bekali dengan SDA yang melimpah ruah. Hanya saja karena pengelolaan yang salah, buah dari sistem sekuler-kapitalis yang diadopsi saat ini sajalah yang telah nyata nyata menyengsarakan rakyat secara umum. Hanya dinikmati segelintir orang dan sebagian besar asing. Sebuah kenyataan yang memprihatinkan dan menciderai nilai nilai kemanusiaan. Wallahu’alam bishowab








SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!