Saturday, July 28, 2018

Lawakan Artis Dipanggung Politik


By : Salwa Aisha

Pasti menyenangkan membicarakan para idola. Mereka adalah para "penghibur" yang saban hari wara wiri di layar kaca. Ragam peran dimainkan untuk memanjakan mata pemirsa. Mulai dari penyanyi dengan ragam gendre, pemain film, sinetron sampai komedian alias pelawak. Semuanya mendapat tempat tersendiri dihati pemirsa.

Belakangan para artis tidak hanya aktif wara wiri di dunia hiburan. Tapi beberapa artis lantas mencoba peruntungan melebarkan sayapnya terjun ke dunia politik. Bukan sebagai "penghibur" tapi sebagai politisi.

Sebanyak 54 artis Indonesia telah mendaftarkan diri. Para artis mendaftar melalui beberapa partai. Nama-nama baru terlihat dalam pendaftaran ini. Ada juga artis yang sudah berkecimpung di dunia politik kembali mencalonkan diri. Paling banyak dari Partai Nasdem yang mendaftarkan 25 nama artis menjadi bacaleg (TRIBUNKALTIM.COM).

Fenomena artis berpolitik bukan lagi menjadi hal yang baru. Setelah reformasi bergulir persaingan mendapatkan kursi semakin ketat. Keberadaan artis dianggap mampu mendulang suara berkat kepopuleran dan nama besar keartisannya. Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan "Parpol sudah bergerak menjadi match all party. Bertumpu pada kutup populis dan menjual nama publik figur dalam rangka mendulang elektoral" (Kontan.co.id). Semakin besar ketenaran seorang artis, semakin dilirik oleh parpol.

Perekrutan kader yang dilakukan oleh partai politik dewasa ini semakin instan. Walhasil jadilah para artis sebagai politisi karbitan alias dadakan tanpa memahami arah perjuangan. Meskipun ada beberapa dari artis tersebut yang memiliki basic politik, namun tidak sedikit yang diragukan kemampuan politiknya. Saat terpilih nanti mereka tidak akan mampu mengemban amanat rakyat. Yang ada justru tersangkut kasus seperti yang dialami oleh pendahulu mereka.

Menjadi wakil rakyat tentu bukan  tugas mudah. Ini adalah amanah penyambung lidah rakyat. Demokrasi yang secara teori mengkultuskan suara rakyat sebagai suara tuhan telah menjadikan wakil rakyat sebagai perantaranya. Namun fakta dilapangan justru terlihat sebaliknya. Suara rakyat jarang bahkan tidak pernah terdengar. Suara pemodal lah yang lebih sering diperdengarkan oleh para wakil rakyat tersebut.

Panggung politik harusnya tidak boleh jadi panggung hiburan bagi artis yang "iseng" coba coba. Bangsa ini sedang meluncur bebas pada keterpurukan. Pemimpin yang tidak amanah, hutang luar negeri yang menumpuk, kriminalitas, seks bebas, narkoba dan masih banyak lagi masalah yang mendera negeri ini butuh penyelesaian. Keberadaan artis dipanggung politik nantinya akan memberikan "lawakan" tersendiri yang akan menambah problem yang lain lagi. 

Negeri ini butuh solusi. Indonesia yang dihuni oleh mayoritas muslim harus kembali kepada hukum hukum Allah. Penerapan hukum islam akan mengentaskan segala persoalan yang mendera bangsa. Problem yang sudah bak lingkaran setan di negeri ini terjadi karna penguasa kita tidak berhukum pada hukum Allah. Oleh karena itu mari kembali kepada Islam. Syari'at mesti diterapkan dalam bingkai Khilafah Islamiyyah.

Daulah Islam berkewajiban memperhatikan detail persoalan ummat. Para penyambung lidah rakyak dalam daulah islam berkumpul dalam suatu majelis (lembaga) yang dikenal dengan sebutan majelis ummat. Majelis ummat adalah mejelis yang beranggotakan orang-orang yang mewakili kaum muslim dalam memberikan pendapat dan nasihat dalam berbagai urusan.

Menurut syeikh Taqiyuddin An-nabhani dalam kitab Ajhizah Ad-Daulah Al-Khilafah menyebutkan bahwa Pemilihan anggota majelis ummat harus didasarkan pada dua hal yakni : 

1.Harus mewakili masyarakat secara representatif.

2.Mewakili suatu kelompok masyarakat secara representatif.

Berdasarkan prinsip ini jelas bahwa anggota majelis ummat dipilih karna perannya ditengah-tengah masyarakat ataupun dalam suatu kelompok tertentu dalam masyarakat, bukan hanya karena popularitas. Mereka lah yang akan dipilih menjadi wakil dari ummat dengan harapan mampu menyampaikan segala keluhan ummat atau masyarakat kepada penguasa.

Namun seperti yang kita ketahui, Saat ini kita tidak hidup dalam sistem islam. Kita hidup dalam sistem demokrasi kapitalis dimana kepentingan pemodal lebih utama dibandingkan urusan masyarakat. Partai politik bahkan kerap menjadi kuda tunggangan bagi para kapital. Partai politik berlomba memperoleh suara terbanyak, menghalalkan segala cara termasuk mendompleng popularitas artis. Itu semua dilakukan semata mata bukan demi kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, ummat tidak boleh tertipu terus menerus dengan politik kotor dan trik yang sungguh jauh dari kata cerdas. Sudah saatnya kita sadar. Bangkitlah dan terapkan kembali hukum Allah secara kaffah, Wallahu alam bi ash shawwab.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!