Sunday, July 29, 2018

Lapas Sukamiskin, Penjara atau Hotel ?


Oleh : Silpianah 

(Akademi Menulis Kreatif)

Pura-pura penjara, judul episode Mata Najwa yang tayang Rabu 25 Juli 2018. Pada episode tersebut team Najwa bersama Diirjen Pemasyarakatan Kementrian Hukum dan HAM melakukam sidak kebeberapa tahanan di lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat pada Minggu 22 Juli 2018.

Pada sidak tersebut team Mata Najwa menyambangi beberapa Narapidana korupsi ternama seperti Setya Novanto, Lutfhi Hasan Ishaaq, OC Kaligis, Nazarudin dan lainnya. Sidak tersebut berhasil memperlihatkan kehidupan para Narapidana koruptor di balik buih penjara.

Mengejutkan, tidak seperti penjara pada umunya,  penjara para koruptor dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah seperti televisi, alat olahraga, pemanggang roti, dispenser, ipad, laptop, printer bahkan yang lebih mengejutkan lagi adanya tempat kerja khusus. Maka tak heran jika ada pernyataan yang muncul di masyarakat "Penjara atau Hotel?"

"Bagi koruptor proses pembinaannya tidak berjalan dengan baik. Tertangkap korupsi, dipenjara malah menyuap." Kata Peneliti ICW, Tama S Langkun dalam program Mata Najwa, Jakarta, Rabu (25/7/2018).

Hukuman yang diharapkan dapat memberi efek jera atau rasa kapok untuk tidak mengulangi adanya tindakan korupsi nampaknya tidak memberi kesan kepada para koruptor. Kenyataannya mereka malah melakukan tindakan suap demi fasilitas mewah. Pantas saja jika korupsi menjadi merajalela di Negeri ini.

Indonesia Corruption Watch mencatat, pada tahun 2017 terdapat 576 kasus korupsi dengan kerugian negara mencapai Rp 6,5 triliun dan suap Rp 211 miliar. Jumlah tersangkanya mencapai 1.298 orang.

Sementara itu ditengah kemewahan fasilitas para narapidana korupsi, ada para  Narapidana umum yang ditempatkan pada sel tahanan yang memprihatikan.

Pertanyaannya, bagaimana bisa ada perbedaan padahal sama-sama narapidana? Apa yang terjadi dengan hukum di Negeri ini jika kemewahan bisa didapat dengan mudah oleh seorang Narapidana? Kasus seperti ini bisa saja terulang lagi dan lagi jika uang yang mengatur.

Begitulah aturan yang terjadi di Negeri ini. Aturan yang dibuat oleh manusia yang punya keterbatasan, maka tak heran jika ada banyak permasalahan yang tak kunjung ada solusi. Tentu sangat berbeda dengan aturan Allah yang sempurna.

Ketika manusia menciptakan sebuah produk tentu dilengkapi dengan buku petunjuk. Begitupun Allah menciptakan kehidupan ini komplit dengan aturannya. Allah maha tahu segala sesuatu yang diciptakannya.

Sejarah  mencatat dengan tinta emasnya ketika aturan islam diterapkan ratusan tahun, Islam melindungi : Akal, Harta, Jiwa, Negara, Agama, kehormatan juga Keturunan. Dimasa kekhilafahan, nyawa seekor keledaipun dijamin keselamatannya apalagi nyawa manusia yang sangat berharga. Kepentingan dan kebutuhan rakyat terpenuhi, bahkan hampir sulit sekali untuk mencari rakyat yang kesusahan.

Sudah saatnya kita menyadari bahwa tak ada aturan yang lebih baik kecuali aturan dari sang pemberi hidup.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!