Saturday, July 28, 2018

Ketidakefektifan Sistem Zonasi



Oleh : Risma Althafunnisa

Sistem zonasi penerimaan siswa baru ( PPDB ) yang diatur dalam Permendikbud No 17 tahun 2017 tentang PPDB, yang kemudian disempurnakan lewat Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018.


Dari Permendikbud tersebut, kriteria utama dalam PPDB adalah jarak, bukan faktor lain seperti usia atau prestasi.


Banyak para orang tua siswa yang mengeluhkan dengan sistem zonasi ini 

bahkan ada siswa yg berani bunuh diri dan para orang tua yang turun untuk berdemo akibat tidak terimanya dengan sistem zonasi tersebut.


bukan sekali dua kali masyarakat indonesia dikecewakan oleh penguasa bahkan sampe semua aspek mulai dari masalah ekonomi kesehatan pendidikan peradilan sosial dll


Sistem zonasi ini bukan solusi yang tepat untuk negeri ini 

yang harus di benahi justru sistem pendidikannya agar bisa melahirkan output yang cemerlang nan takwa


dengan adanya sistem zonasi ini bukan tidak mungkin banyak melahirkan siswa yang tidak jujur

Yakni beredarnya SKTM palsu.  Kemudian adanya perpindahan tempat tinggal calon siswa secara tiba-tiba.


Muncul pula kesenjangan jumlah peserta didik antara sekolah satu dengan yang lainnya. Satu sisi ada sekolah yang kekurangan siswa. Di sisi yang lain justru ada sekolah kelebihan peminat karena berada di zona yang padat. 


Tersebab banyaknya persoalan yang muncul dari sistem zonasi ini, maka FSGI menyatakan bahwa sistem ini harus dirombak total. 

Bongkar pasanga kebijakan dalam dunia pendidikan bukan persoalan baru. 


Tidak hanya soalan teknis PPDB, bahkan kurikulum pendidikannya pun hingga saat ini masih terus silih berganti. 


seharusnya pendidikan harus diarahkan pada pengembangan keimanan, sehingga melahirkan amal saleh dan ilmu yang bermanfaat. Prinsip ini mengajarkan pula bahwa di dalam Islam yang menjadi pokok perhatian bukanlah kuantitas, 


tetapi kualitas pendidikan. Perhatikan bagaimana Al Quran mengungkapkan tentang ahsanu amalan atau amalan shalihan (amal yang terbaik atau amal shaleh).


Pendidikan ditujukan dalam kaitan untuk membangkitkan dan mengarahkan potensi-potensi baik yang ada pada diri setiap manusia selaras dengan fitrah manusia dan meminimalisir aspek yang buruknya.


Keteladanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu proses pendidikan. Dengan demikian sentral keteladanan yang harus diikuti adalah Rasulullah saw.


Tidak seperti sistem saat ini yang justru melahirkan generasi  tinta hitam yang menambah buram potret generasi muda, mereka tak hanya menjadi generasi pembebek dan pengekor tapi juga babak belur dihantam virus hedonis.


Sekarang ayo kita lihat kembali catatan-catatan sejarah, dimana Islam selalu mampu melahirkan generasi-generasi hebat dambaan umat, 


Seperti kisah Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Rasulullah menjadi komandan pasukan kaum muslimin dalam penaklukan Syam padahal baru berusia 18 tahun. Atau kisah Imam Syafi’i yang telah hafal Al-Qur’an diusia 9 tahun serta Ibnu Sina yang telah hafal Al-Quran diusia 5 tahun bahkan kemudian mampu menjadi bapak kedokteran dunia.


Tentu kita belum lupa kisah heroik Muhammad Al Fatih Sang Penakluk Konstatinopel dan mampu menjadi Sultan diusia muda. 


Juga kisah Zaid bin Tsabit yang dengan gagah berani mendaftar jihad diusianya yang baru 13 tahun, dan kemudian diperintahkan untuk menghimpun wahyu diusia 21 tahun. 


Itulah generasi-generasi Muda militant Islam yang gaungnya masih terdengar bahkan setelah ratusan tahun.


Mari kita torehkan kembali tinta-tinta emas untuk kegemilangan peradaban Bukankah kita juga telah dipuji pemilik kehidupan sebagai umat terbaik.


“Kalian semua adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah”. (TQS. Ali Imran 110).


Allahu A'lam


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!