Saturday, July 14, 2018

Ketakutan di cap 'Radikal'


 Oleh : Eva Irma Kusmayanti

(Anggota Revowriter dan Pemerhati sosial)


Mesjid Terpapar Radikal


"Dari 100 masjid sebanyak 41 masjid itu terindikasi radikal," ungkap Agus di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Minggu (8/7/2018). Liputan6.com



Temuan ini merupakan hasil survei Rumah Kebangsaan dan Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) sepanjang 29 September sampai 21 Oktober 2017. (Liputan6.com)



Setelah pesantren dan kampus yang terindikasi radikal. Sekarang muncul temuan dari hasil survei. Bahwa radikal telah menjalar ke mesjid-mesjid yang berada di kementrian, lembaga negara dan BUMN. Dari 100 mesjid ada 41 mesjid terpapar paham radikal.



Paham Radikal


Kata Radikal sekarang ini deras membanjiri masyarakat. Mereka menganggap radikal membawa kearah opini negatif. Sehingga ketakutan terjadi bila mereka dapat cap stempel 'Radikal'. Maka, sebisa mungkin menghindari membahas  opini tersebut. 



Sedemikian menakutkan kata radikal. Telah berhasil 'menghantui' masyarakat.

Indikator konten radikal ini dilihat dari tema khotbah Jumat yang disampaikan seperti ujaran kebencian, sikap negatif terhadap agama lain, sikap positif terhadap khilafah, dan sikap negatif terhadap pemimpin perempuan dan nonmuslim. (Liputan6.com)


Padahal dapat dilihat survei yang dilakukan. Bahwa inti ketakutan pada Agamanya sendiri (Islam). Bisa dibayangkan apabila muslim takut untuk menyampaikan Islam. Maka, lambat laun akan semakin jauh dari agama dan akhirnya meninggalkan secara sempurna. Itulah yang diinginkan musuh-musuh Islam.



Meluruskan Pandangan


Opini negatif radikal yang dituduhkan. Seharusnya diberi penjelasan yang jernih tentang syariat Islam, Islam politik, Khilafah dan Jihad. Agar tidak terjadi monsterisasi terhadap ajaran Islam. Berujung phobia pada hukum-hukum Allah SWT.


Ada opini yang menyatakan positif terhadap Khilafah. Serta, negatif terhadap pemimpin perempuan dan non muslim. Inilah opini terindikasi pemahaman radikal menurut survei yang dilakukan. Padahal, sejatinya ini nyata ajaran dari Islam. Bukan karangan khatib yang menyampaikan apalagi kelompok tertentu.


Karena, Islam mengatur segala sesuatu tanpa terkecuali. Apa yang diwajibkan akan mendapatkan berkah apabila dilaksanakan. Baik itu kewajiban individu, masyarakat bahkan negara. Begitu pula yang dilarang harus dihindari untuk melakukannya. Apabila tetap memaksakan akan membuahkan bencana. 


Jika, terjadi mix antara yang wajib dan haram. Bisa diperkirakan apa yang akan menimpa negara. Wajib menjadi haram untuk dilakukan. Sementara yang haram dilaksanakan tanpa penyesalan. Syariat Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Jadi, tidak ada yang menyalahi aturan. 

WalLahu a'lam bi ash-shawab.[]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!