Sunday, July 29, 2018

Kepribadian Sahabat dan Tabi'in


Oleh : Meto Al-Fath


Kiranya tak perlu disangsikan lagi perihal kepribadian para shahabat dan tabi’in. Mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk melaksanakan setiap anjuran Rasulullah. Tak heran bila kita dibuat takjub oleh pengalaman mereka yang demikian konsisten, seperti batu karang di tengah gelombang kekufuran yang dahsyat menimpa.


Dari perilaku shahabat-shahabat itu, kita pun bisa menilai betapa suksesnya Rasulullah membina dan menempa pribadi-pribadi mereka. Keberhasilan itu sampai kini tak tertandingi hingga semerbak harumnya masih dapat kita rasakan setelah empat belas abad berlalu dari masa beliau.


Ciri khas syakhshiyah pada sahabat dan tabi’in berbeda-beda sesuai dengan tingkatan ilmu, aqliyah, kemampuan hafalan Al-Quran dan hadits Rasul. Berikut beberapa nama Hebat dalam Siroh:


Abu Ubaidah bin Jarrah adalah salah seorang shahabat yang demikian teguh keimanannya. Beliau pantas menduduki jabatan khalifah, sehingga Abu Bakar sendiri pernah mencalonkannya sebagai khalifah dan  menunjuknya ketika terjadi musyawarah di Tsaqifah Bani Sa’idah. Hal ini mengingat keahlian dan keamanahannya.


Abu Ubaidah termasuk salah seorang shahabat yang menguasai dan hafal Al-Quran seluruhnya. Beliau mempunyai sifat amanah sehingga Rasulullah memujinya:


“Sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang yang terpercaya dan orang yang terpercaya dalam ummatku adalah Abu Ubaidah” (HR. Bukhari)


Selain itu beliau memiliki sifat terpuji, lapang dada dan tawadhu’. Sangat tepatlah bila Abu Bakar mengangkatnya sebagai pengelola Baitul Maal dan pada saat yang lain beliau dipercaya sebagai komandan pasukan untuk membebaskan Syam.


Di kalangan shahabat terkenal pula seorang dermawan bernama Thalhah bin Zubair, yang oleh Rasulullah pernah dijuluki Thalhah bi Khoir (Talhah yang baik) dalam perang Uhud. Karena kedermawanannya ia juga mendapat gelar-gelar lain yang serupa, semisal Thalhah Fayyadl (Thalhah yang pemurah) pada saat perang Dzul ‘Aisyiroh, dan Thalhah Al Juud (Thalhah yang pemurah) dalam perang Khaibar. Beliau sering menyembelih unta untuk dibagikan kepada rakyat dan selalu menyediakan air untuk kepentingan umum. Beliau tak pernah lupa menyediakan kebutuhan orang faqir yang ada di sekeliling kaummnya (Bani Tim) dan selalu melunasi hutang-hutang mereka.


Demikian jg Zubair bin Awwam, nabi bersabda:


“Setiap nabi mempunyai hawari (pendamping) dan hawariku adalah Zubair” (HR. Ahmad dengan isnad Hasan dalam “Al Musnad” jilid I/89 dan Al Hakim “Al Mustadrak”, jilid III/462).


Beliau tidak pernah absen dalam setiap peperangan sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga masa Khalifah Utsman bin Affan. Demikian tinggi semangat jihadnya, dengan lapang dada beliau menjual rumahnya untuk kepentingan jihad fi sabilillah. Rupanya andil yang tidak kecil inilah yang menyebabkan Zubair bin Awwam termasuk salah satu dari enam orang yang berhak menduduki jabatan Khalifah menjelang berakhirnya masa Umar bin Khathab.


Figur lain di antara shahabat yang ditunjuk Umar sebagai calon Khalifah adalah Abdurrahman bin Auf. Beliau adalah seorang dermawan yang memberikan sebagian besar hartanya untuk kepentingan jihad fi sabilillah, Az Zuhri meriwayatkan:


“Abdurrahman bin Auf menanggung seluruh ahli Madinah. Sepertiga penduduknya diberi pinjaman, sepertiga lainnya membayar pinjamannya, sedangkan sepertiga sisanya diberikan sebagai pemberian” (Lihat “Si’ar A’lam An Nubala” karangan Imam Adz Dzahabi jilid I/88).


Sedangkan dalam buku Miyatul Aulia karangan Abu Naim, disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf telah memerdekan 30.000 orang hamba sahaya.


Selain itu, diantara yang layak menduduki  jabatan Khalifah dan komandan pasukan adalah Khalid bin Said bin Ash. Beliau diangkat oleh Rasul sebagai Wali di San’a (Yaman), kemudian di masa Abu Bakar beliau diangkat sebagai komandan pasukan untuk membebaskan Syam. Sedangkan  saudaranya yang bernama Abban, pada tahun 9 hijriyah diangkat oleh Rasulullah sebagai Wali di Bahrain.


Di antara shahabat yang mempunyai keahlian di bidang pemerintahan dan perancangan tata kota adalah Utbah bin Hazwan. Beliau diangkat oleh Umar bin Khaththab sebagai Wali sekaligus menata kota Bashroh. Ada pula shahabat terkenal ahli pidato adalah Tsabit bin Qois, Abdullah bin Rawahah, Hasan bin Tsabit dan Ka’ab bin Malik. Dan tidak ketinggalan, shahabat Utsman bin Affan yang terkenal dengan sifat pemalunya, sampai-sampai Rasulullah bersabda:


“Sesungguhnya malaikat pun merasa malu kepadanya”


Ada pula Shahabat Khabab bin Mudzir, terkenal dengan kecermatan pendapatnya sehingga digelari Dzir Ra’yi (intelektual).


Masih ada empat orang shahabat yang terkenal kecerdikannya, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan yang mempunyai jiwa tenang dan lapang dada, Amr bin Ash yang ahli memecahkan masalah pelik dan cepat berfikirnya, serta Ziyad dan Mughiroh bin Syu’bah yang mampu memecahkan masalah besar dan genting.


Selain itu di masa shahabat terdapat seorang shahabat yang mampu berbicara dalam seratus bahasa. Ini adalah kemampuan yang tak tertandingi oleh bangsa dan Ummat yang lain hingga kini. Beliau adalah Abdullah bin Ubeir. Adapun shahabat Zaid bin Tsabit mempunyai keahlian dalam bidang qadla/ kehakiman dan fatwa. Shahabat yang ahli dalam pengkajian kitab Taurat adalah Abdullah bin Amr bin Ash dan Abil Jalad Al Jauli.


Di masa shahabat, ilmu astronomi telah terkenal. Shahabat yang mashur di bidang ini adalah Rabi’ bin Ziyad, sampai-sampai Ibnu Zahar dalam bukunya Al Ishobah mengatakan:


“Tidak ada seorangpun, baik itu Arab maupun bukan (‘ajam), yang lebih ahli dalam bidang ini daripada Rabi’ bin Ziyad.


Pada masa tabi’in tersebutlah Khalid bin Yazid bin Muawiyah yang ahli dalam berbagai cabang ilmu di kalangan Quraisy.  Lebih spesifik lagi, keahlian beliau disebutkan dalam buku Wafiyat Al-’Ayn karangan Ibnu Milikan jilid I/168.


“Beliau memiliki keahlian dalam teori kimia dan kedokteran”


Beliau pun banyak menerjemahkan literatur mengenai Astronomi, kedokteran dan Kimia (lihat Al Jahis, “At-Tibyan”, jilid I/126)


Banyak lagi shahabat yang memiliki kemampuan dan keahlian dalam berbagai disiplin ilmu. Tentulah apabila hendak kita sebutkan satu persatu memerlukan pembahasan yang sangat panjang.

[] M-elfath

____

Tanah Rantau, 14 juli 2018 M..

Referensi: Kisah Teladan*


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!