Saturday, July 28, 2018

Kenapa Harus digembok, Bun?


Oleh : Yuliyati Sambas

Member Akademi Menulis Kreatif



"Teh, tolong buka gerbang depan." Suasana pagi sebelum anak-anak berangkat sekolah dan ayahnya mempersiapkan diri bekerja mencari penghidupan untuk anak dan istrinya mengharuskanku sebagai ibu untuk gesit dan cekatan dalam menyiasati waktu agar dapat  terselesaikan setiap kebutuhan semua anggota keluarga.


"Sebentar Bun, aku cari kerudung dulu." Jawab Teh Aisyah.


Anak sulungku yang kini usianya beranjak 11 tahun tampak sudah demikian dewasa meski sebenarnya belum baligh.


"Kenapa sih Bun gerbang pake harus digembok segala?" Pertanyaan yang enteng tapi bisa dimasukkan opini ke arah solusi islam.


"Biar aman Teh." Sahutku sambil meneruskan pekerjaanku menggoreng nasi sisa kemarin untuk diolah menjadi nasi goreng spesial yang tetap sehat lezat ketika disantap. 


"Emang maling ga takut dipenjara Bun?" Watak kritisnya dari dulu ga pernah berubah, kalau sudah nanya sesuatu bila belum puas dengan jawabannya sulungku ini tak pernah berhenti untuk bertanya.


"Para pencuri sekarang jarang ada yang takut dipenjara teh... Buktinya penjara selalu penuh." Jawabku.


"Mereka lebih berfikir gimana caranya ngedapetin uang buat dikasih anak dan istrinya, sementara sekarang nyari kerja yang halal susah banget." Aku yakin anakku akan meneruskan pertanyaannya.


" _Mmmh_..." Tampak ia sedang berfikir.


_Tuh bener kan_, dalam hati aku berujar.


"Kenapa sih kerjaan susah didapet Bun? Katanya di kita banyak pekerja asing yang _dateng_ dari China?" _Serius nih pertanyaannya_, gumamku masih dalam hati.


"Kok Teteh bisa tahu tentang pekerja asing segala? Pinter _ih_ Teteh..." Kujawil dagunya yang bulat dan merekah.


"Aku baca dari _Media Ummat_ Bun. Katanya Pak Presiden lebih _mentingin masukkin_ pekerja asing China buat kerja di Indonesia dibanding ngasih kerjaan buat masyarakat pribumi." Dengan lancar ia bercerita tentang kondisi bangsa yang memang sedang carut marut dari berbagai bidang termasuk masalah pekerja asing dan kebutuhan lapangan kerja buat masyarakat pribumi.


"Itu dia yang jadi pertanyaan banyak orang, kenapa seorang pemimpin yang harusnya memikirkan kondisi rakyat yang hidup di bawah pengurusannya, ini malah lebih sayang sama rakyat orang... Ya itu dia orang-orang China, Teh." 


"Kalau saja mau ngikutin para khalifah yang ngurusin rakyatnya di masa lalu, pasti kita semua akan merasakan keamanan, kerjaan gampang buat para ayah, para ibu ngga harus ikut pusing mikirin uang dapur dan jajan buat anak-anaknya, anak-anak juga bisa tenang sekolah dan belajar. Ngga kayak sekarang ya semuanya serba mahal dan sulit." Panjang lebar aku bercerita tentang kondisi Bangsa ini, saking panjangnya sampai nasi goreng selesai, cucian piring beres, cucian baju tinggal di press.


Alhamdulillah untuk selesainya pekerjaanku dan menjawab dengan tuntas pertanyaan panjang dari sulungku. Miris dan sedih terasa menelusup dalam hati memikirkan kondisi ummat yang menuai kesempitan hidup karena syariat Allah tidak diterapkan secara sempurna di negeri ini.


❄❄❄


Duhai Robbi, bimbinglah kami untuk senantiasa mengikuti jejak panutan kami Rasulullah yang mulia dalam memperjuangkan dan mengeluarkan manusia dari keterpurukan hidup menuju benderangnya cahaya alam disebabkan  _dzahirnya_ aturan Allah SWT yang sempurna dan solutif untuk setiap permasalahan kehidupan. _Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin._


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!