Wednesday, July 25, 2018

Karena-Mu Aku Hijrah


Oleh: Asma Ridha


Sobat coba diingat-ingat, berapa banyakkah dosa diri selama Allah beri nafas ini? Seberapa sering kita berucap syukur? Seberapa sering kita mengadu kepada-Nya? Seberapa banyak kebaikan kita perbuat? Seberapa banyak pula kita lalai kepada-Nya? 

.

Seakan ilmu diperoleh semata-mara karena kecerdasan dan keuletan manusia. Tidakkah kita yakin, Allah menitipi akal agar kita menjadi hamba yang sempurna. Menjadi makhluk yang istimewa, tidak ada derajat mulia selain karena akal ini. Lantas kemana posisi akal ini ditempatkan? Ketika kehidupan dunia fokus utama menjadi tujuan kita.  Sajadah merindukan sujudmu, merindukan ratapanmu. Al-Quran telah berdebu tanpa ada sentuhan jemari indahmu.

.

Sobat, andai kita ingin menghitung-hitung nikmat Allah, maka nikmat Allah tak sepadan dengan pengabdian seorang hamba. Matamu masih berkedipkah saat ini? Tanganmu masih bisa digerakkan? Kakimu masih bisa melangkah? Jemarimu masih bisa mengepal? Lidahmu masih bisa berucap? Gigimu masih bisa mengunyah? Telingamu masih bisa mendengar? Hidungmu masih bisa menghirup udara segar? Mudah dan sangat mudah bagi Allah mencabut kenikmatan ini satu persatu bukan? Tapi lagi-lagi Allah tidak mencabut itu semua. Allah tidak mengambil itu semua, Allah tidak ingin kau menemui-Nya karena kakimu patah, lenganmu sakit, gigimu rontok, jemarimu busuk. 

.

Allah hanya ingin kau menemui-Nya karena hati dan cintamu tulus mencintai-Nya. Bergetar hati menyebut asma-Nya, bercucurah air mata begitu derasnya ketika mengingat-Nya, tersungkur jiwa dan raga menemui-Nya. Andai rasa itu tidak ada, murnikah cinta itu? Tuluskah kau meyakini Allah? 

.

Astagfirullahhal 'Adzim.... Astagfirullahhal 'Adzim... Astagfirullahhal 'Adzim... Ucapkanlah hingga hatimu bergetar hebat. Hingga air matamu mengalir deras, jiwamu hanya mengingat Allah saja. Karena Allah begitu dekat lebih dekat dari yang di bayangkan. Allah begitu sayang lebih dari sayang seorang Ibu kepada anaknya. Allah begitu mencintai, tanpa memilih hamba pendosa atau ahli ibadah.

.

Sobat.. Lagi-lagi kita tidak sadar diri. Akal kita begitu kotor dan picik. Cerdasnya akal manusia  seakan hasil jerih payah  usahanya. Tamat kuliah S1, S2, S3, dan seterusnya, seakan ilmu yang kita peroleh semata-mata hanya karena usaha manusia. 

.

Demikian pula  jika kehidupan kita kaya raya seolah jerih payah tenaganya saja. Memiliki keluarga adalah murni cintanya, pekerjaan dan jabatan seolah-olah kerja kerasnya. Termasuk sebagai aktivis dakwahpun tidak dipungkiri, terkadang rasa ujub dan sombong menghampirinya. Menganggap ilmu agamanya lebih kuat, lebih mulia, lebih terhormat. Padahal itu tipuan belaka. Menyebut asma-Nya saja hati serasa hambar, air mata sulit menetes. Iri dan dengki terus bergejolak, "maaf" kata yang mudah di ucap tapi hati sedikitpun tidak ikhlas. Inilah hamba Allah yang meyakini-Nya?  Atau mengaku-ngaku mencintai-Nya?seberapa pantas kita di tampar oleh Allah wahai sobat?

.

Sobat.. Jangan-jangan kita punya kepribadian ganda. Satu sisi mengaku beriman dan mencintai-Nya, tapi disisi lain kita mendua. Tanpa sadar kita lebih mencintai pasangan hidup kita, anak, jabatan, harta kekayaan, kendaraan dan sebagainya. Buktinya, karena itu semua kita terkukung pada kelalain. Jika salah satu di ambil dengan mudahnya kita mencerca sang Maha Segalanya. Dan nyaris kita menjadi pemaksiat dan pendosa.

.

Hijrah seakan pilihan sulit, opsi setelah keterpurukan, setelah nikmat satu persatu di cabut. Padahal konsekuensi iman hakiki, mengharuskan kita tunduk kepada-Nya. Hijrahlah karena kau tulus mencintai-Nya, hijrahlah karena hatimu masih bergetar ketika disebut nama Allah. Maka Allah SWT berfirman : 


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ


Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2).


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!