Tuesday, July 31, 2018

Jejak Cinta Pembebas Baitul Maqdis


Oleh : Dini Prananingrum


Tangan-tangan kotor bersimbah darah para Nabi mempermainkan nasib Baitul Maqdis. Tangan-tangan rendah dan jiwa-jiwa hina menjadikan Baitul Maqdis sebagai bahan rebutan. Nilainya murah dan hina, dijual di pasar-pasar budak tatanan dunia baru. 


Jika Umar bin Khattab ra adalah orang yang menaklukkan Baitul Maqdis. Siapakah yang dapat membebaskannya kembali dari cengkraman kaum Salib? Siapakah sang fajar baru yang dapat menerangi dari kegelapan dan kezaliman angin kencang syahwat dunia.  


**************


Pada tahun 532 H/1137 M, di sebuah daerah bernama Tikrit, lahir seorang bayi laki-laki dari keluarga yang berasal dari etnis Kurdi. Dalam wafayat al a’yan, disebutkan bahwa awalnya sang ayah merasa dirundung sial dengan kehadiran sang bayi karena suatu alasan. Namun, salah seorang pengikutnya berusaha menghiburnya serta memberikan saran. Ia juga berdoa agar kelak anak ini akan menjadi seorang raja yang agung, memiliki marwah serta kedudukan yang tinggi. Kelak, umat Islam mengenal sang anak sebagai panglima pembebas Baitul Maqdis: Shalahuddin Al Ayubi. 


Damaskus dan Aleppo menjadi langkah awal Shalahuddin untuk menguasai ilmu agama. Tak hanya ilmu agama, kemahiran bertarung, berburu, memanah dan segala bentuk latihan layaknya seorang pahlawan ia peroleh dari sini. Bahkan ia pun mempelajari banyak hal tentang cara menata negara dan politik. Dan dari Nuruddin Mahmud Zanki-lah, sang guru yang sekaligus sultan Aleppo nan shalih, ia banyak belajar serta menghidupkan visi hebatnya untuk membebaskan serta mengembalikan Baitul Maqdis al Mubarak ke pangkuan kaum Muslim.


**************

Kala itu umat Islam tengah terkoyak dan terpecah-belah, daulah-daulah kecil menyebar, konspirasi, fitnah dan penyusupan menyelimuti. Unsur non-Arab menguasai pemerintahan dan mengatur alur persoalan. Khalifah yang berada di Baghdad hanya menjadi simbol. Di sekelilingnya banyak kelompok-kelompok yang saling bergesekan. Di Mosul, Aleppo, Persia terpecah belah. Khurasan, Damaskus dan di berbagai wilayah Islam lainnya. 


Kondisi ini bertambah parah dengan adanya Khilafah Fathimiyah di Mesir. Khilafah yang dikuasai sektarian, mengedepankan kekuasaan, rakus kepemimpinan dan cinta syahwat. 


Demikian pula halnya Khilafah Umawiyah di Andalusia. Wilayahnya bertebaran menjadi beberapa bagian di antara Cordoba, Sevilla, Granada, dan Toledo. Semuanya meraup berbagai kenikmatan dan kesenangan dunia tanpa perhitungan. 


Sehingga gelombang gaduh menyeruak memerangi negeri-negeri Islam di bawah simbol salib. Orang-orang Eropa berhasil menguasai wilayah Islam dan mengeruk kekayaan alam mereka. Kaum Salib mendirikan kerajaan dari ujung utara negeri Syam hingga ke pedalaman perbatasan Mesir, Al Quds dan Al Karak. Baik di dataran rendah, kawasan pesisir maupun pengunungan. 


*************


Di akhir tahun 488 H/1095 M, di bawah pimpinan Paus Urbanus II Perang Salib diserukan untuk merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslim. Kepada pasukan yang ikut serta dalam misi perang salib, Paus berjanji akan menghapus hukuman dari dosa-dosa yang telah mereka lakukan di masa silam serta melindungi keluarga yang ditinggalkan. Dengan jumlah dan kekuatannya yang besar, Pasukan Salib menjadi momok menakutkan, membuat kekuatan kaum Muslim terlihat sangat rapuh.


Perselisihan aliran serta politik antara Daulah Fathimiyah dan Dinasti Saljuk mengalami puncaknya ketika pasukan salib mulai mendekati dan bergerak di wilayah-wilayah kaum Muslim. Baik penguasa-penguasa Dinasti Saljuk maupun Daulah Fathimiyah, masing-masing melihat dan berharap kedatangan rombongan tentara salib akan membantu mereka untuk menumpas maupun memangkas kekuatan saingan mereka dari kalangan kaum Muslim sendiri. Akibatnya, rombongan pasukan salib Eropa dengan mudah bergerak serta leluasa memasuki wilayah Syam, sampai akhirnya mereka berhasil menduduki Baitul Maqdis dan wilayah bagian Pantai Syam secara keseluruhan.


Dari samudera dan ombak besar inilah Shalahuddin Al Ayyubi muncul dan mengapung ke permukaan sebagai seorang nahkoda yang layak memegang kendali kapal menuju pantai keamanan dan keselamatan. Ia menghabiskan usianya untuk berjihad tanpa henti di dua sisi, internal dan eksternal. Mempersatukan dan memerdekakan. Tak pernah henti hingga mewujudkan harapan yang diimpikan.


Shalahuddin berada di barisan terdepan kaum Muslim. Memimpin mereka untuk menampakkan izzah Islam yang bertahun-tahun dihinakan oleh pasukan musuh. Dihadapinya setiap pertempuran dengan gagah sampai mereka berhasil membebaskan Baitul Maqdis. 

Shalahuddin akhirnya betul-betul menunjukkan semangat jihad yang membara, dalam waktu yang sangat singkat (pada tahun 583 H/ 1187 M), Shalahuddin dan pasukan kaum Muslim koalisi pasukan Mesir dan Syam berhasil menaklukan hampir seluruh daerah kekuasaan pasukan Salib di daerah Timur Tengah. Ada sekitar 50 kota dan desa yang berhasil direbut kembali dari tangan pasukan Salib pada tahun itu. Kekuatan pasukan Salib dibabat habis. Puncaknya terjadi dalam perang Hiththin (bulan Rabiul Awal), di mana pasukan Salib dihancurkan dan pasukan yang selamat hanya sekitar 150 orang saja.


Beberapa saat setelah perang Hiththin, pasukan Shalahuddin bergerak menuju Baitul Maqdis dan mengepung kota suci ketiga umat Islam itu selama satu pekan. Tepat pada 27 Rajab 583 H (bertepatan dengan tanggal Isra’ dan Mi’raj Rasulullah). Shalahuddin memasuki Baitul Maqdis setelah pasukan Salib yang menguasai kota itu sejak 392 H menyerah. Shalahuddin tersungkur dalam sujudnya, bersyukur kepada Allah azza wa jalla atas nikmat-Nya. Tidak ada pembantaian saat ia dan pasukannya memasuki Baitul Maqdis, sebaliknya para musuh dan tawanan ia perlakukan dengan adil. Di hari itu, Baitul Maqdis yang mulia kembali ke pangkuan umat Islam melalui sosok panglima hebat nan shalih, Shalahuddin al Ayyubi.


Namun kekalahan pasukan Salib ini membuat orang-orang Eropa merasa terhina. Oleh karena itu, pada tahun 586 H/ 1190 M, raja-raja Eropa membentuk pasukan-pasukan besar yang dipimpin oleh Richard Lion Heart, raja Inggris, Philip II, Raja Prancis, dan Fredrick Barbarusa, Raja Jerman, untuk menyerang Jerussalem. Ekspedisi perang Salib ketiga ini berangkat dan mulai menyerang Jerussalem dengan gencar. Namun hingga dua tahun berperang di daerah Akka, tak ada pihak yang menang hingga digagaslah perjanjian damai antara kedua belah pihak.


Pada tahun 588 H (tepatnya 1 September 1192), perjanjian antara kedua belah pihak ditandatangani oleh Shalahuddin dan Richard Lion Heart. 


Pada masa perdamaian damai inilah Richard Lion Heart jatuh sakit. Ia mengirim utusan kepada Sultan Shalahuddin, meminta tolong kepadanya agar mengirimkan seorang dokter untuk mengobatinya. Karena ia tahu bahwa di bidang kedokteran orang Arab jauh lebih diprioritaskan keilmuannya daripada orang Eropa. 


Bukannya mengirim seorang dokter untuk mengobati Richard, Shalahuddin justru datang sendiri dengan menyamar dan ditemani seorang pendamping. Shalahuddin mengobati Richard dengan sepenuh hati. Membawa sendiri sejumlah obat-obatan yang diperlukan, serta es batu dan buah-buahan sebagai penunjang kesembuhan Richard. Dengan berbagai keahlian farmasi dan kedokteran yang dimilikinya, akhirnya ia mampu menyembuhkan sang Lion Heart. Ketika Richard mengetahui bahwa sang dokter itu adalah Shalahuddin, kejadian tersebut menjadi sangat membekas di hatinya. Kekaguman akan kehebatan Shalahuddin pun disimpannya. 


Mengagumkan, Shalahuddin seorang pemberani dan memiliki pandangan jauh kedepan ini ternyata seorang yang sangat mulia serta mampu menjadi tabib dan  apoteker handal. Hafidzh qur’an, ahli hadits, sastrawan, ahli kimia. Semua ilmu bersatu dalam dirinya dan menyimpannya, berkomunikasi lalu menjalankan perannya.


**********

Hingga tiba saatnya mentari Sultan Shalahuddin sudah hampir terbenam. Tepat pada Subuh 22 Shafar 589 H. Allah menjemputnya pulang ke haribaan. Setelah 12 hari berjibaku dengan sakit demam kuning yang membuatnya tak sadarkan diri, maka kaum Muslim harus mengikhlaskan sang pahlawan hebat pulang ke pangkuan sang Pencipta. 


Hari kematiannya adalah hari yang disaksikan. Semua orang keluar rumah mengantarkan kepergian sang pahlawan ini ke tempat peristirahatan terakhirnya. Shalahuddin hanya meninggalkan selembar kain kafan lusuh yang selalu dibawanya dalam setiap perjalanan dan uang senilai 66 dirham Nasirian (mata uang Suriah waktu itu) di dalam kotak besinya. Tiada rumah-rumah, barang mewah, tanah,kebun dan harta lain yang ditinggalkannya. Bahkan untuk mengurus penguburan panglima alim tersebut, keluarganya harus berhutang terlebih dahulu. Masya Allah.

Semoga Allah merahmatinya, menempatkannya di kedudukan syuhada, shiddiqun, dan orang-orang shaleh. 


***********


Begitu luhur tekadmu untuk meraih kemenangan yang nyata...

Mata orang mukmin merasa teduh karenanya...

Pasukan salib yang gagah berani terasa remeh bagimu...

Orang-orang luhur terlalu mulia untuk menjadi hina...

Para raja berperang karena pamer...

Sementara kau memerangi para musuh karena agama...

Kau menyatukan dengan singa luhur yang telah kau tentukan...

Hingga menghasilkan peperangan dahsyat...

Sebagai sebuah kewajiban Islam...

Kau membenarkan segala harapan dan dugaan...

Kau guncang perasaan Al Quds dengan bahagia...

Mekah dan Syam pun ridha padamu...


(Penggalan syair Abu Hasan Ali Bis As-Sa’ati untuk Sang Sultan)


****************


Semoga dari tangan-tangan kaum muslim yang jiwa-jiwanya suci, mulia nan hebat pewaris Sultan Shalahuddin Al Ayyubi. Yang akan membebaskan Baitul Maqdis dari kejahatan teroris zionis! Serta membersihkannya dari kotornya konspirasi dunia. Hingga Baitul Maqdis kembali dalam pangkuan umat Islam. 

 

Referensi 

1. Para Panglima Islam Penakluk Dunia (Muhammad Ali : Ummul Qura / Aqwam/ 2016) 

2. https://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2017/12/26/131531/belajar-dari-shalahuddin-al-ayubi.html

3. https://www.jalansirah.com/sang-dokter-shalahuddin-al-ayyubi.html


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!