Saturday, July 21, 2018

Isuk Dele Sore Tempe


Oleh : Nurul Sakinah Bayti, S.Hut. (Wirausaha & Member Developer Property Syariah)


Aneh bin ajaib mendera negeri mayoritas muslim ini. Negeri yang Alloh karuniai sumber daya alam yang melimpah. Dengan jumlah penduduk yang besar, hampir 200 juta lebih. Namun tak nampak rasa syukur yang muncul dari lisan bangsa ini. Justru kecurigaan muncul dari kalangan sesama muslim sendiri. Menganggap masjid sebagai biang penyebar radikalisme. Sungguh aneh.

Jakarta - Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) menyesalkan temuan Rumah Kebangsaan dan Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Survei lembaga itu, mengungkapkan ada 41 masjid di lingkungan kantor kementerian, lembaga negara dan BUMN digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan radikalisme dalam khotbah jumat. Liputan 6.com.

Dalang Sekukerisme

Cara berpikir sekulerisme, memisahakan peran agama dalam mengatur kehidupan telah menjadi penyakit negeri muslim ini. Umat Islam justru alergi dengan aturan Islam. Saat menjalankan sholat tunduk diatur dengan Islam. Namun diluar sholat, meninggalkan aturan Islam. Ketika menikah menggunakan hukum Islam. Namun setelah menikah enggan berhukum dengan Islam. 

Seolah Islam dipandang sebagai aturan yang berhubungan dengan urusan ibadah semata. Sementara dalam urusan pendidikan, ekonomi dan pemerintahan tak sedikitpun Islam digunakan. Dalam berakhlak menggunakan Islam. Namun masih menjamur juga praktek korupsi. Penjualan aset rakyat ke asing. Mengaku berpihak pada rakyat, malah mencekik rakyat. Kenaikan harga BBM buktinya. Langkah dzolim yang dilakukan penguasa dan telah mengkhianati janjinya terhadap rakyat.

Banyak yang harus dikoreksi dalam kehidupan bangsa ini. Muncul ungkapan atas kecurigaan terhadap masjid. Masjid dituduh menyampikan pesan radikalisme. Mengapa terjadi? Sesungguhnya arah pernyataan itu ke mana? Apakah ingin mengkerdilkan fungsi dan peran masjid ? Atau jangan-jangan ada kepentingan "politik" yang tersembunyi di balik ungkapan tsrsebut. 

Waspada Tahun Politik

Di tahun politik ini, apapun akan dimanfaatkan bagi yang berkepentingan. Akan membuat pernyataan-pernyataan yang dinggap mampu menaikkan pamor. Menaikkan dukungan terhadapnya. Terlebih kalau sudah berkaitan dengan kepentingan "parpol" akan dilakukan segala cara, sekalipun menyakiti hati rakyat. Bahkan melukai perasaan umat Islam sendiri. 

Bak pepatah jawa, isuk dele sore tempe (paginya kedelai, sorenya menjadi tempe). Perubahan sikap secara mendadak karena ada kepentingan. Awalnya membela Islam. Eh, sorenya berbalik arah berkoalisi dengan penista agama Islam.

Tak ada kawan yang abadi. Yang ada adalah kepentingan yang abadi. Politik sudah tercemari dengan kepentingan duniawi semata. Seolah menjadi hal biasa orang menjadi munafik. Bermuka dua. Na'dzubillah.

Berharap kebaikan dalam sistem yang sudah rusak, ibarat bermimpi di siang bolong. Tak akan pernah berpadu kebaikan dengan kebatilan. Tak bisa bercampur minyak dengan air. Hitam dan putih sangatlah jelas. 

Sistem Islam yang diturunkan dari Robb, Pencipta Semesta Alam. Al Kholiq, Al mudabbir. Yang dengan diterapkannya akan sejahteralah rakyatnya. Akan makmur & tentram hidupnya. Sebagaimana gambaran penerapan sistem Islam yang telah dilakukan oleh Rosululloh Saw di Madinah. Niscaya sistem ini akan tegak kembali atas ijinNya. Insyalloh.






SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!