Saturday, July 14, 2018

Islamphobia dinegeri Mayoritas Muslim


Oleh : Risma Althafunnisa


Kebahagiaan yang teramat saya syukuri adalah ketika allah memberikan kesempatan kepada saya untuk berhijrah

membenahi segala kesalahan yang pernah diperbuat dimasa lalu


sebelum berhijrah bukan tak pernah mengenal pengajian atau pemahaman agama

tetapi belum ada kesadaran yang penuh dan takut akan sang pencipta


contohnya saja dalam hal pakaian 

sebelum hijrah masih enggan memakai pakaian muslimah yg sesuai syara bukan karna tak faham akan kewajiban menutup aurat tetapi belum ada kesadaran untuk hal itu

dan masih memikirkan resiko omongan manusia.


beberapa tahun lalu allah memperkenalkan saya dengan seorang guru 

disititulah awal mula saya mengkaji islam secara kaffah dan kontinyue


setelah mengkaji islam saya memahami Hijrah bukanlah perubahan menjadi sesosok alim ulama ataupun malaikat

Namun hijrah adalah cara seseorang untuk menjadi seorang hamba yang ta'at

Proses untuk memperbaiki dan memantaskan diri yang dimulai dari menutup aurat,

Kemudian melaksanakan perintah dan laranganNya sesuai dengan syariat.


Islamophobia pun muncul ketika saya rajin-rajinnya mengkaji islam dimana islamphobia yang menjangkiti Amerika dan Eropa rupanya merambah ke tanah air dengan sangat halus bak debu. Hal ini sangat mengherankan mengingatkan Indonesia berstatus sebagai negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Tentu hal ganjil ketika di dalam komunitas Islam, terjadi ketakutan akan Islam itu sendiri.


Pandangan negatif tentang Islam dan muslimin di negeri ini sangat terasa ketika muslimin yang membela agamanya dianggap fundamental. ormas Islam pun yang menyuarakan dakwah dianggap radikal. 


bahkan keluarga pun ketika saya menikah dan memutuskan untuk infishol tam ( terpisah ) perlu diskusi yang amat panjang karena dikalangan masyarakat umum yang masih asing dan bertabrakan dengan tradisi masyarakat


Tak sedikit pula sebutan aliran sesat dan wahabi disematkan sebelum akad itu terjadi Segala prasangka tersebut membuat islamophobia merasuki keluarga hingga tak peduli lagi itu saudara atau anak.

padahal aturan yang dipakai ini semata-mata untuk kemaslahatan ummatnya dari sang pencipta.


Islamphobia di indonesia sebetulnya telah mulai sejak peristiwa bom Bali pada tahun 2002 silam. Sejak itu rentetan penangkapan tersangka yang semuanya berpenampilan muslim membuat masyarakat Indonesia mulai was-was dengan pria berjenggot lebat dan bergamis panjang. Pun dengan wanita bercadar dan berjubah hitam.


yang mempelajari Islam dengan baik pastilah tahu betul bahwa agama ini datang sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam. Aturan Islam selalu mengajarkan perdamaian dan keadilan. Namun pelajaran mendasar ini rupanya minim diketahui masyarakat muslim di Indonesia. Tak heran jika kemudian mereka mudah terpedaya akan isu aksi terorisme dan radikalisme yang mengatasnamakan Islam.


Sebagai solusi islamophobia, perlunya membangun pandangan yang terbuka terhadap Islam. Sebaliknya, pandangan yang tertutup perlu diminimalisir. dan mulai mengkaji islam secara kaffah sehingga asupan-asupan yang mengarah ke islamphobia bisa ditangkis


Oleh karena itu, yuk mulai dari diri sendiri, perlu upaya membuka pandangan tentang Islam dengan cara terus mempelajari agama ini. Jangan mudah hanyut pada pendapat seseorang yang menyudutkan muslimin dengan beragam prasangka. 


Tepis segala isu dan stereotip dengan ilmu agama. Jika sudah melakukannya dari pribadi, maka lanjut menebarkan aksi ini ke orang sekitar. Indonesia sebagai penyumbang 11 persen muslim dunia sudah semestinya muncul sebagai pengobat islamophobia, bukan justru turut terjangkitinya.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!