Monday, July 16, 2018

Islam, Si Kambing Hitam Radikalisme


Oleh : Dhelta Wilis S.ST (Pemerharti Sosial)

Radikal menjadi Issue yang sukses dalam perhelatan akbar perpolitikan. Radikal mampu menyedot perhatian masyarakat Indonesia sehingga menjadi Issue yang senantiasa digaungkan, baik untuk pengalihan Issue atau menyudutkan salah satu pihak tertentu. Seolah-olah menggunakan bahan pengawet sehingga “Radikal” atau istilah“Radikalisme” terus digoreng hingga matang dan menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi siapa saja yang mampu menjualnya. 

Serangkaian Bom acapkali dipakai membumbui issue Radikal ini. Salah satu contohnya adalah Peristiwa Bom Surabaya ketika menjelang Ramadhan kemarin. Bom tersebut menyisakan issue-issue cabang tentang keterlibatan perempuan yaitu muslimah bercadar. Padahal cadar adalah salah satu bentuk taatnya terhadap syariat Islam. 

Seiring dengan terjadinya Bom-Bom bunuh diri tersebut, Pemerintah kembali mengaungkan “Perang Melawan Terorisme dan Radikalisme”. Terbukti Pemerintah melalui DPR mengesahkan revisi Undang-Undang Terorisme. Bahkan Presiden Jokowi mengeluarkan senjata pamungkas akan mengeluarkan Perppu bila DPR tidak segera mensahkan revisi UU Terorisme.

Efek UU Terorisme

Disahkannya revisi UU Terorisme oleh DPR tersebut langsung aberefek kepada ormas-ormas Islam . Bagaimana tidak, Ormas Islamlah yang selama ini disandingkan dengan aksi Terorisme dan Radikalisme. Tudingan Khilafah yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI menjadi acuan pembubaran Ormas Islam. Sebut saja HTI yang telah dicabut Badan Hukum Perkumpulan (BHP) karena Ide Khilafah yang disebarkannya.

Tidak cukup dengan itu saja, upaya selanjutnya adalah mulai menyisir Pegawai Negeri Sipil yang terlibat mengusung islam radikal dengan ancaman membebastugaskan alias dipecat. Kampus-kampus negeri daan swasta yang notabene nya adalah institusi pendidikan juga terkena dampaknya. Belum lagi muncul list 200 Mubaligh yang dirilis oleh pemerintah dengan tujuan membatasi ruang gerak mubaligh yang dicurigai radikal oleh pemerintah. 

Awal bulan Juli ini, pemerintah kembali mengeluarkan hasil survei. Seperti yang dilansir oleh liputan6.com bahwa sebanyak 41 Masjid dari 100 Masjid yang ada di kantor pemerintah terindikasi sebagai tempat penyebaran paham radikal. Survei tersebut dilakukan oleh Rumah Kebangsaan dan Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) pada saat khutbah Sholat Jum’at. 

Disebutkan bahwa Indikator konten radikal ini dilihat dari tema khutbah Jum’at yang disampaikan, seperti ujaran kebencian, sikap negatif terhadap agama lain, sikap positif terhadap KHILAFAH dan sikap negatif terhadap pemimpin perempuan dan nonmuslim. Dari temuan ini Agus (Ketua Dewas Pengawas P3M) mengatakan pihaknya telah melakukan peringkatan dan dari 41 Masjid ada tujuh masjid yang level radikalnya paling rendah. 

Masjid adalah simbol Umat Islam dan merupakan identitas Islam. Maka jelas sudah arah dari suvei tersebut yaitu kembali menempatkan Islam sebagai tersangka tunggal dalam Radikalisme dan terorisme versi Para Pembenci Islam.



STOP Kriminalisasi Islam, Mendudukkan Kembali Radikal

Fakta-fakta diatas kian menyudutkan satu pihak yaitu “ISLAM” sebagai dalang dari Terorisme dan Radikalisme yang terjadi di Indonesia. Tepatnya menjadi Kambing Hitam. Mari kita menggunakan akal kita untuk berfikir logis terkait makna Radikalisme.

Radikal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna (1) secara mendasar (Sampai pada hal yang prinsip), misalnya dalam frase “Perubahan yang Radikal” : (2) Amat Keras menuntut perubahan (Undang-undang pemerintah) : (3) maju dalam berfikir atau bertindak. Jika makna di dalam KBBI adalah makna yang umum lantas mengapa yang seolah-olah makna radikal hanya berlabel negatif dan ditujukan hanya kepada Islam Bukankan seharusnya jika melihat definisi Radikal tersebut bisa bermakna positif dan negatif. Jadi kesimpulannya adalah makna Radikal di dalam KBBI akan berubah jika disusupi oleh opini dari sudut pandang manusia. 

Gerakan Aceh Merdeka dan Operasi Papua Merdeka seharusnya juga menjadi sorotan terhadap issue Radikal. Pasalnya mereka adalah gerakan yang mengingikan lepas dari NKRI. Dari luar negeri, dunia sudah tidak asing lagi dengan Teror keji Israel terhadap Palestina. Jutaan nyawa hilang akibat tangan-tangan kotor Israel. Lalu pernahkah mereka disebut Radikal atau Teroris?

Nyatanya ketika umat Islam menjadi korban hanya langkah diplomasi yang ditempuh. Padalah berkaca pada disahkannya revisi UU Terorisme di Indonesia dalam waktu yang singkat seharusnya menunjukkan otoritas sebuah pemerintahan. Apalagi dengan pemerintahan skala dunia yang seharusnya bisa menindak tindakan sadis tersebut. Umat Islam harus meminta perlindungan kepada siapa?


Penerapan Islam Kaffah = Solusi

Umat Islam kini kehilangan Induknya selama hampir 1 (satu) abad. Induknya pun sengaja dijauhkan oleh orang-orang kafir sehingga semakin di ujung tanduk. Fitnah keji, Adu domba, penjajahan fisik, penjajahan pemikiran, penjajahan sumber daya alam adalah fakta mengelilingi umat islam. 

Umat Islam saat ini dibuat phobia dengan agamanya sendiri. Lalu Liberalisme, Kapitalisme-Sekuler datang sebagai pahlawan bagi umat Islam. Membawa janji manis yang sejatinya palsu. Hal ini tentu sengaja dilakukan oleh musuh-musuh Islam sebagai upaya membendung bangkitnya kesadaran islam pada umatnya. 

Islam menjadi sasaran tuduhan radikal padahal islam turun untuk memberikan solusi terhadap seluruh problematika kehidupan baik yang dialami muslim maupun non muslim. Islam sejatinya adalah rahmat bagi seluruh alam. Terbukti selama 12 abad lamanya Islam memberikan cahaya terang bagi umat manusia, kesejahteraan, keamanan, dan juga ketakwaan. Semua itu tidak lepas dengan diterapkannya Islam dalam naungan Khilafah yaitu sistem kenegaraan didalam Islam yang dapat menerapkan Islam secara sempurna. 

Oleh karena itu tidak ada jalan lain selain menerapkan Islam secara sempurna untuk kemaslahatan umat muslim dan non muslim. Saatnya mengganti mobil dan sopir yang rusak agar kita selamat sampai tujuan kehidupan dunia dan akherat. 

Wallahu ‘alam Bi Showab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!