Friday, July 20, 2018

Islam Nusantara, milik siapa?


Oleh : Kurniapeni Margi R


Istilah Islam Nusantara kembali mengudara,  setelah sempat beberapa tahun lalu digaung-gaungkan.  Ada yang pro, ada yang kontra. Lalu, bagaimana kita mengatasinya?

.

Sebelum jauh ke sana,  baiknya kita pahami dulu definisi Islam Nusantara. Islam Nusantara banyak digagas oleh kalangan kiyai/tokoh NU. Mereka mendefinisikan, "Islam Nusantara adalah Islam yang menampilkan agama yang santun, demokrat, dan menjaga toleransi. Islam yang berasaskan ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah,  dan ukhuwah insaniyah. Islam yang melawan ekstrimisme dan terorisme. Bukan Islam yang sekarang berkembang di Arab."-Said Aqil Siradj-

Ada lagi pendapat tokoh NU yang lain mengungkapkan,  "Islam kita ini Islam Nusantara.  Islam kita ini Islam yang sejati, bukan Islam abal-abal seperti model Timur Tengah. Karena Islam di nusantara hadir bukan sebagai penakhluk, seperti Islam di Arab dan anak-anak peradabannya yang hadir sebagai penakhluk/penjajah. -Yahya Tsaquf-"

.

Benarkah demikian?

Mengutip dari ustad Adi Hidayat,  "pada dasarnya "Islam" adalah sebuah kata yang sempurna. Kata yang jika dikurangi maupun ditambahi maka akan mempersempit makna." Jika sudah sempurna,  mengapa seolah perlu disempurnakan?

.

Pemaknaan Islam Nusantara sungguh beragam. Jika dimaknai sebagai agama Islam yang ajarannya diekspresikan oleh muslim di Nusantara selama tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka tidak mengapa. Hal ini sebagai wujud penggambaran saja bahwa ketika Islam hadir di Nusantara, maka realisasinya demikian. Jelas, sarung & peci tidak ada di Arab kan? Tapi, apa tidak boleh berpeci? Jelas boleh, karena tidak bertentangan dengan syariat.

.

Berbeda jika istilah ini digunakan sebagai upaya pengkerdilan Islam non Nusantara, entah Islam Arab maupun Islam selainnya, dan menganggap Islam Nusantara adalah satu-satunya Islam yang haq, selain darinya adalah tertolak, maka ini yang tidak tepat. Mengapa? Karena Islam itu universal,  rahmatan lil alamin, bukan rahmatan lil nusantarayin. Kasihan sekali mereka yang tidak Allah takdirkan lahir di Indonesia sehingga tidak mengenal apa itu Islam Nusantara.

.

Mengapa lahir istilah Islam Nusantara?

Islam Nusantara adalah frase gabungan dua kata antara Islam dan Nusantara. Melihat konteks bahasa Arab, PERTAMA jika frase yang digunakan adalah idhofah (Islam yang ada di Nusantara), is OK,  tak masalah. Ini sudah penulis paparkan di paragraf sebelumnya.

KEDUA, jika frase yang digunakan adalah sifat mausuf, yakni kata Nusantara mensifati kata Islam maka artinya adalah "Islam yang Nusantara". Berarti ada dong Islam yang tidak Nusantara? Hal ini bisa menjadi rancu, seolah Islam (saja) tidaklah cukup, sehingga butuh kata sifat yang menyempurnakan si "Islam", yaitu "Nusantara". Hal ini bisa berdampak sebagai pembedaan dan klaim bahwa yang Islam yang ini benar, dan yang itu salah.

.

Jika lahirnya istilah ini karena latar belakang yang kedua,  berarti ada ketidakpahaman kaum muslim terhadap Islam itu sendiri. Bukankah Allah telah berfirman 

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu.” ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, “Maksudnya adalah Islam. Allah telah mengabarkan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman bahwa Allah telah menyempurnakan keimanan kepada mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan penambahan sama sekali.”(https://almanhaj.or.id/2043-islam-adalah-agama-yang-sempurna.html)


Islam telah turun dengan sempurna. Tak perlu lagi ada penambahan/perubahan. Lahirnya istilah tersebut karena seolah ada ketidakpercayadirian muslim terhadap Islamnya. Yang mereka kenal, Islam itu teroris, Islam itu ekstrim, Islam itu perang. Sehingga lahir Islam yang "tidak teroris", "tidak ekstrimis" dan "tidak mengajarkan perang".

.

Coba, renungi lagi dari dalam hatimu, bandingkan dengan ayat Allah di atas. "Telah Aku sempurnakan..." ini Allah loh yang menyempurkan.

.

Emang ada ajaran Islam yang teroris? Yakin ada? Emang iya Islam mengajarkan kejahatan/keburukan? Kemudian, ketika Allah memerintahkan perang, apakah yang terjadi adalah keburukan? Padahal di ayat selanjutnya Allah sebutkan "apa yang kamu sukai belum tentu baik bagimu, dan apa yang kamu benci belum tentu buruk bagimu." Jadi, yang salah Islam atau kamu yang ga kenal Islam? Masak sih Islam melahirkan kekerasan? Terus akhirnya kalian akan bilang, "itu individunya kok, bukan Islamnya." Nah, itu tau. Sudah tau begitu kenapa masih melegalkan Islam yang "baru"? Cukuplah Islam hanya dari Allah yang dirisalahkan kepada nabi Muhammad, orang Arab.

.

Jadi, jika yang nampak adalah ketidakbaikan Islam (seolah-olah Islam tidak baik), coba teliti lebih dalam, sudahkah ajaran Islam terealisasi sempurna sehingga ajarannya bisa menjadi Rahmat untuk semuanya? Atau kita sendiri yang memilah-milah syariat Allah, seolah-lah tahu, mana yang pas dan mana yang tidak. Yang menurut kita pas dijalankan, yang tidak ya ditinggalkan. Lantas, wajar saja jika Islam terlihat tidak sempurna, lah kitanya sendiri tidak menyempurkan penerapan Islam, dalam daulah Khilafah, misalnya.

^o^


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!