Tuesday, July 31, 2018

“Islam Nusantara”: Upaya Mengerdilkan Islam Sesungguhnya


Oleh Ammylia Rostikasari, S.S. (Aktivis Akademi Menulis Kreatif)


Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia disuguhi konsep “Islam Nusantara”. Pemantik awalnya saat qoriah yang ber-tilawah Al-Quran menggunakan langgam Jawa pada Momentum Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. (17 Mei 2015) di Istana Presiden.


Pasca kejadian tersebut, bincangan mengenai konsep “Islam Nusantara” pun kian bergulir. Baik dari pihak pengusung juga dari pihak yang menkritisinya. Semua memiliki argumen masing-masing.


Namun, sebagai seorang Muslim haruslah bersikap mencermati sebagai indikasi hati-hati. Apakah konsep  “Islam Nusantara” ini syar’i sesuai dengan tuntunan Ilahi Robbi dan teladan Nabi Muhammad saw. Atau bahkan sebaliknya?

Mari sebagai makhluk ciptaan Allah yang dibeli akal untuk melakukan proses berpikir, kita berupaya menelaahnya.

Pertama, “Islam Nusantara” dianggap sebagai wujud kearifan lokal Indonesia. Ketua PBNU, K.H. Said Agil Siradj menyatakan bahwa “Islam Nusantara” ialah Islam teologis penuh dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Menurut Said, Islam di Indonesia tidak harus seperti Islam di Arab atau Timur Tengah. Islam Nusantara, tegasnya adalah Islam yang khas ala Indonesia (Republika.co.id, 10/3/2015).


Jika ditelaah lebih cermat, maka pernyataan di atas sangatlah tidak mendasar. Hal demikian, karena Al-Quran diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk semua umat manusia. Adanya sebagai pedoman yang tak hirau kekhususan bagi orang Arab, Asia, Eropa atau bahkan Amerika. 

Adapun menyetarakan Islam sebagai agama sekaligus pandangan hidup yang mulia dengan adat istiadat juga budaya, ini sungguh telah mengerdilkan keluhuran Islam. Seharusnya adat budayalah yang tunduk patuh terhadap ajaran Islam, bukan malah sebaliknya. 

Selanjutnya, perlu pula ditegaskan bahwa Islam bukanlah produk budaya Arab. Walau adanya Al-Quran, kitabullah dan Sunah Rasulullah saw. itu berbahasa Arab. Namun sungguh esensinya bukanlah budaya Arab. Adanya merupakan seruan Sang Pencipta berupa perintah taat dan larangan bermaksiat untuk semua umat. Oleh karena itu, adanya sistem pendidikan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem peradilan juga pemerintahan Islam jelas nyata bukanlah produk budaya Arab.


Kedua, “Islam Nusantara” dianggap sebagai perwujudan Islam yang empirik. Ini diungkapkan Oman Faturrahman selaku Guru Besar Filosofi Islam (Nu.or.id, 22/4/2015). Argumentasi Oman ini tentulah menyalahi fakta.

Di dalam Islam, justru sesuatu yang normatif tidaklah terpisah empiriknya. Misalnya, secara normatif setiap Muslim haruslah taat kepada Allah secara kaffah (menyeluruh) kemudian Rasulullah saw. menjelaskan secara empirik pendetailannya supaya kenormatifannya dapat dilaksanakan dengan merealisasikan peradaban Islam dalam sebuah institusi negara Islam di Madinah. Adanya Daulah Islam di Madinah sebagai metode untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah.


Ketiga, “Islam Nusantara” dianggap sebagai bentuk alternatif untuk menyamarkan rupa Islam yang lebih ramah penjajah. Ia didominasi dengan nilai moderat dan toleran yang kebablasan. Hal ini terpicu karena kondisi Islam di Timur Tengah penuh dengan konflik sampai bersimbah darah.


Para pengusung “Islam Nusantara” memanfaatkan kesedihan Muslim di Timur tengah untuk kepentingan mereka. Sehingga mereka menyatakan ketidaklayakkan kondisi Timur Tengah untuk dijadikan citra Islam. Jadilah mereka mempromosikan “Islam Nusantara” sebagai Islam jalan tengah yang terkesan lebih pantas dijadikan potret ideal karena dianggap moderat dan mudah diterima berbagai pihak.


Subhanallah, sejatinya kondisi saudara Muslim di Timur Tengah adalah korban dari keganasan penjajah Barat. Mereka bertahan di sana karena ingin menjaga tanah kaum Muslim. Itu semata-mata karena panggilan takwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Keempat, “Islam Nusantara” dianggap sebuah tameng guna membendung perjuangan “Islam Transnasional”. Mereka lupa bahwa datangnya Islam kali pertama ada di tanah suci Makkah. Datangnya Islam ke negeri ini disampaikan oleh Wali Songo (orang luar). Sehingga jelas sejak dulu Islam sudah bersifat transnasional. 

Dakwah Islam digemakan lintas negara, lintas benua hingga menyentuh seluruh penjuru dunia termasuk di Indonesia tercinta. Sehingga tak yang salah dari Islam yang bersifat transnasional karena adanya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Wallahu’alam bishowab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!