Saturday, July 28, 2018

Islam Mengatasi Kemelut Sistem Zonasi dalam Pendidikan


Oleh Eli Yuliani (Komunitas Penulis Ideologis)

Polemik dunia pendidikan di negeri ini tidak pernah menemukan penyelesaian.

Seringnya berganti sistem dan kurikulum. Tentu saja hal itu membuat bingung peserta didik juga para orang tua, seperti peralihan PSB (penerimaan siswa baru) dengan sistem NEM, menjadi PPDB(penerimaan peserta didik baru) dengan sistem zonasi. Hal ini tentu saja banyak menuai kontroversi.

Disinyalir berbagai masalah muncul karena dengan diberlakukannya sistem ini banyak pihak yg merasa dirugikan. Di antaranya siswa yang sudah bersaing ketat dalam ujian akhir nasional dan siswa berprestasi juga adanya pemerataan kualitas sekolah.


Kebijakan yang diambil pemerintah yang hanya mengambil kebijakan sepihak sangatlah tidak mendasar. Ini bisa dinilai tidak menyelesaikan masalah. Kalau sudah begini, lagi-lagi masyarakat menjadi korban. Bagai kelinci percobaan sistem. Semua merupakan buah dari analisis pemikiran yang didasari faktor asas kapitalis-sekuler.


Pada hakikatnya kebutuhan pendidikan masyarakat adalah tanggung jawab negara. Adanya harus diselenggarakan oleh negara dengan pertanggung jawaban yang menyeluruh. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.: 

“Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya” (H.R. Bukhori dan Muslim).


Tentu saja sangat jauh berbeda dengan pendidikan dalam Sistem Islam, adanya negara berkewajiban sebagai penyelenggara. Ia memfasilitasi sarana dan prasarana untuk rakyatnya, memberikan kesempatan seluas luasnya bagi seluruh warga sesuai dengan kreativitas, daya cipta dan kebutuhan peserta didik. 


Adapun dengan kurikulum pendidikan Islam, secara struktural dijabarkan dalam tiga komponen,yaitu: (1)pembentukan kepribadian islam (2)penguasaan staqafah islam (3)penguasaan ilmu kehidupan(iptek,keahlian dan keterampilan).kurikulum juga dibangun berlandaskan akidah islam,sehingga setiap pelajaran disusun selaras dengan asas itu.


Di samping kurikulum, peranan guru sangatlah penting karena peran guru bukanlah hanya sekedar penyampai materi, tapi guru sangat berperan sebagai pembimbing dalam memberikan keteladanan (uswah),di mana setiap guru haruslah memiliki kekuatan akhlak yang baik sebagai penuntun bagi para siswanya.


Dalam sistem pendidikan Islam, ijazah bukanlah yang menjadi tujuan utama. Namun,  pemahaman yang bisa dijalankan dalam praktik kehidupan sehari hari dengan pertanggung jawaban penuh pada Rab nya. Hal tersebut tentunya sangat berbeda dengan sistem yang dijalankan saat ini. Di saat peserta didik dituntut untuk meraih gelar dan mendapatkan ijazah, menjunjung luhur tujuan materi tanpa ada pertanggung jawaban moral. Apalagi pertanggung jawaban kepada Rabb nya. Sungguh miris! 

Wallahu’alam bishowab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!