Friday, July 27, 2018

Islam dan Islam Nusantara


Oleh: Arin RM, S.Si*

Syaikh Muhammad Taqiyuddin bin Ibrahim bin Musthafa bin Isma’il bin Yusuf an-Nabhani, di dalam kitab Nizhamul Islam telah menjelaskan definisi Islam secara komprehensif. Menurutnya Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yang  mengatur hubungan manusia dengan Khaliq-nya, dengan dirinya dan dengan manusia sesamanya. Hubungan manusia dengan Khaliq-nya tercakup dalam perkara akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya tercakup dalam perkara akhlak, makanan, dan pakaian. Hubungan manusia dengan sesamanya tercakup dalam perkara mu’amalah dan uqubat (sanksi).

Definisi di atas memiliki dua bagian: pertama: batasan dan ruang lingkup yang jelas tentang Islam. “Agama yang diturunkan Allah” memberikan batasan bahwa agama Islam berasal dari Allah dan hanya menyembah Allah. Segala agama yang tidak menyembah Allah tidak termasuk agama Islam. Kalimat “kepada Nabi Muhammad SAW” bermakna bahwa agama-agama yang diturunkan kepada selain Nabi Muhammad tidak termasuk agama Islam. Kedua: ruang lingkung ajaran agama Islam meliputi aspek peraturan yang menyangkut hubungan individu dengan Penciptanya (Allah SWT), seperti ibadah, baik shalat, puasa, zakat, haji maupun jihad. Peraturan yang menyangkut hubungan individu dengan dirinya sendiri, seperti hukum pakaian, makanan, minuman dan akhlak, yang mencerminkan sifat dan tingkah-laku seseorang. Dan peraturan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, seperti masalah bisnis, pendidikan, sosial, pemerintahan, politik, sanksi hukum dan selainnya.

Penyebutan kata manusia pada definisi di atas juga memberikan katerangan jelas bahwa Islam diturunkan untuk semua yang hidup di masa Nabi Muhammad telah diangkat menjadi Rasul hingga akhir zaman kelak. Konsep Islam untuk semua ini diperkuat dari dalil Alquran surat Alanbiya ayat 107 dan semisalnya. Islam berlaku untuk seluruh alam raya, termasuk nusantara yang notabenenya adalah makhluk bagi Allah SWT, pemberi ridlo Islam sebagai agama.

Maka, menjadi hal yang aneh jika akhir-akhir ini justru bermunculan kembali frasa Islam nusantara.  Istilah yang sejatinya merendahkan Islam. Posisi Islam yang harusnya level dunia, bahkan alam raya direduksi menjadi level lokal, setingkat nusantara. Konsep ini juga menunjukkan fanatisme kesukuan yang tidak ada panduannya dalam ajaran Islam itu sendiri. Maka sangat wajar jika Islam ala nusantara ini mendapat kritik keras dari berbagai pihak. 

Salah satu penolakan tegas datang dari putra ulama kenamaan di tanah air, tepat berdekatan dengan awal kemuculannya sebagai puncak tema muktamar ormas tahun 2015 lalu. Sebagaimana dikutip dari laman suaranasional.com (https://suaranasional.com/2015/10/09/putra-kh-maemoen-zubair-bongkar-kesesatan-islam-nusantara-ini-buktinya/), pernah menuliskan bahwa Putra ulama terkenal KH Maemoen Zubair, KH Najih Maemoen (Gus Najih) mengkritik keras Islam nusantara. Gus Najih membuat makalah berjudul “Islam Nusantara dan Konspirasi Liberal”. “Islam Nusantara hadir untuk mensinkronkan Islam dengan budaya dan kultur Indonesia. Ada doktrin sesat di balik lahirnya wacana Islam Nusantara,” ungkap Gus Najih. “Dengan Islam Nusantara mereka mengajak umat untuk mengakui dan menerima berbagai budaya sekalipun budaya tersebut kufur, seperti doa bersama antar agama, pernikahan beda agama, menjaga Gereja, merayakan Imlek, Natalan dan seterusnya.  Para pengusung Islam Nusantara juga ingin menghidupkan kembali budaya-budaya kaum abangan seperti nyekar, ruwatan, sesajen, blangkonan, sedekah laut dan sedekah bumi (yang dahulu bernama nyadran)”. Gus Najih menegaskan, ada misi “Pluralisme Agama” di balik istilah Islam Nusantara, di samping juga ada tujuan politik (baca; partai) tertentu, yang jelas munculnya ide tersebut telah menimbulkan konflik, pendangkalan akidah serta menambah perpecahan di tengah-tengah umat.

Rupanya para penjaja Islam nusantara tak bergeming dengan penolakan. Terus-terusan berupaya memasarkan ide racun berbalut madunya dengan segala cara. Termasuk mencatut nama beberapa ulama dan diposisikan di barisan pendukung Islam nusantara, berhasil memecah belah umat. Sebut saja apa yang terjadi antara MUI pusat dan MUI Sumbar baru-baru ini. MUI Sumatera Barat menolak konsep Islam Nusantara. MUI Pusat yang setuju dengan konsep Islam Nusantara menyebut penolakan dari Ranah Minang itu gara-gara pemahaman yang tidak selaras (news.detik.com, 25/07/2018). 

Dari sumber yang sama disebutkan bahwa sebelumnya, Rapat Koordinasi Daerah MUI Sumbar dan MUI Kabupaten/Kota Se-Sumbar di Padang, 21 Juli 2018, menghasilkan kesimpulan untuk menolak Islam Nusantara. Ada sejumlah pertimbangan yang melandasi penolakan ini. Pertama, istilah 'Islam Nusantara' mengundang perdebatan yang tak bermanfaat dan melalaikan umat Islam dari berbagai persoalan penting. Istilah 'Islam Nusantara', masih menurut MUI Sumbar, bisa membawa kerancuan dan kebingungan dalam memahami Islam. Kedua, Islam Nusantara juga dinilai mengandung potensi penyempitan makna Islam yang universal. Istilah Islam Nusantara juga sering digunakan untuk merujuk cara beragama Islam yang toleran. Menurut MUI Sumbar, toleransi hanya merupakan satu aspek saja dalam Islam, padahal banyak aspek lain dalam Islam. Islam tidak bisa direduksi hanya menjadi satu aspeknya saja, melainkan harus menyeluruh.

Benarlah apa yang disampaikan MUI Sumbar. Pasca turunnya Almaidah ayat 3, Islam telah disempurnakan oleh penguasa alam raya beserta isinya. Bisa diaplikasikan oleh mereka yang beriman dimana saja, termasuk di nusantara. Tak layak menjadikan Islam tereduksi dengan istilah lokal hanya karena ada kepentingan liberal. Ada agenda titipan mengekang penderasan penyatuan Islam dalam skala dunia. Tak bijak memainkan frase nusantara dan menjadikannya sebagai embel-embel Islam untuk memukul penyeru kebangkitan hanya lantaran membahaykan sang tuan, barat beserta ajaran kapitalisme sekulernya. Sebab tanpa diajari barat pun, Islam telah memiliki ajaran melayani penduduk lokal dengan aturan versi tercanggih dari pencipta, Islam telah mengenal toleransi lebih dari ucapan lisan politisasi. 

Disinilah umat perlu kritis. Mewaspadai pahitnya racun dibalik manisnya promosi Islam nusantara sebagaimana penjelasan ulama di atas. Umat perlu menyadari bahwa agen liberal yang eksis saat ini sebenarnya adalah mesin politik untuk kepentingan AS dan sekutunya. Berkedok semboyan memajukan atau mencerahkan Islam, mereka berupaya menyeret generasi Muslim menjadi peluru penjajah. Isu utama yang mereka angkat selalu disesuaikan dengan isu-isu yang yang diusung AS dan sekutunya. Kelompok liberal di negeri ini bersama Asia Foundation, Heritage Foundation, dan Rand Corporation, gencar menyerang ide syariah dan Khilafah dengan menganggap syariah dan Khilafah sebagai ancaman bagi Nusantara. Sebaliknya, perilaku moral yang rendah, seperti menjamurnya pornografi dan pornoaksi di area publik akibat liberalisme, juga kesengsaraan ekonomi yang buah installing kapitalisme sama sekali tak direspon. Betapa hebatnya uang mengeringkan akal dan nurani. Dari sini, maka sekali lagi umat perlu terus kritis, terus diedukasi dengan Islam kaffah agar tidak terjebak kepentingan politis. [Arin RM].


*freelance author, member TSC



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!