Monday, July 30, 2018

Hukum Perempuan Naik Haji


Aslm. Ust Rivaldi.. Bagaimanakah hukum perempuan safar tanpa mahrom utk haji dan umroh?


 Jawaban :


Tidak boleh bagi seorang perempuan muslimah yang memiliki mahram untuk safar ( bepergian jauh ) tanpa ditemani olehnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam :


لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ تُسَافِرُ مَسِيرَةَ لَيْلَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا رَجُلٌ ذُو حُرْمَةٍ مِنْهَا


“Tidak halal bagi seorang perempuan yang beriman kepada Allaah dan hari akhir melakukan perjalanan jauh dalam jarak semalam, kecuali bersamanya ada seorang laki-laki yang menjadi mahram baginya”. (HR. Al-Bukhari No. 1088 dan Muslim No. 419).


Siapa yang disebut mahram bagi perempuan di sini ? dijelaskan oleh para ulama’ bahwa mahram adalah :


مَنْ لاَ يَجُوزُ لَهُ مُنَاكَحَتُهَا عَلَى التَّأْبِيدِ بِقَرَابَةٍ أَوْ رَضَاعٍ أَوْ صِهْرِيَّةٍ


“Seorang yang tidak boleh baginya untuk menikahi perempuan tersebut selamanya dengan sebab kekerabatan, persusuan, atau persaudaraan karena pernikahan”. (Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, 2/145).


Dalam hal ini bapaknya, anak laki-lakinya, pamannya, keponakan laki-lakinya dan yang lain  yang terkategori mahrom muabbad. Bukan mahrom muaqqot. Karena itu dalam riwayat lain disebutkan dengan lafadz :


لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ سَفَرًا يَكُونُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَصَاعِدًا إِلَّا وَمَعَهَا أَبُوهَا، أَوِ ابْنُهَا، أَوْ زَوْجُهَا، أَوْ ذُو مَحْرِمٍ مِنْهَا


“Tidak halal bagi seorang perempuan yang beriman kepada Allaah dan hari akhir untuk pergi dalam suatu bepergian jauh dalam waktu tiga hari atau lebih kecuali harus ditemani bapaknya, atau anak laki-lakinya, atau suaminya atau mahram ( lain ) darinya”. (Musnad Abu Ya’la Al-Mushili [2/411] No. 1197. Sanadnya shahih). (baca juga tulisan kami tentang mahram perempuan).


Yang dimaksud safar di sini adalah : bepergian jauh. Tidak ada batasan jarak minimal dalam masalah ini, karena batasan jarak yang disebutkan Rasulullaah berbeda beda dalam setiap riwayat hadits. Akan tetapi dikembalikan kepada 'urf/kebiasaan penduduk di negeri itu. Jika keumuman manusia telah menyatakan itu bepergian jauh, maka dinamakan safar. (Syaikh Musthofa Al 'Adawi, Jami' Ahkaam Al Musaafir, Hal. 462).


Adapun jika perempuan tersebut tidak memiliki mahram, atau memiliki akan tetapi mahram tersebut tidak berkenan atau tidak memungkinkan untuk menemaninya , maka kondisi ini diperinci menjadi dua :


*Pertama.* Safar yang dilakukan safar yang bersifat pilihan. Artinya boleh memilih antara pergi atau tidak. Contoh : safar untuk rekreasi, atau berkunjung kepada saudara, atau untuk shopping ( belanja ), atau sekedar jalan-jalan, atau naik haji untuk kedua kalinya, dan yang semisalnya.


Kondisi pertama ini tetap tidak diperbolehkan bagi perempuan tersebut untuk pergi. Karena tidak ada mahram yang menemaninya. Berdasarkan keumuman hadits yang telah kami sebutkan di atas.


*Kedua.* Safar yang dilakukan merupakan safar yang bersifat wajib/harus. Misalnya :


Berhijrah dari negeri kafir ke negeri Islam; Ibadah haji untuk pertama kali; Mengunjungi ibu atau bapaknya yang sakit keras; mencari ilmu yang bersifat wajib(yang mau tidak mau memaksa ia harus safar), dan yang semisalnya.


Maka dalam kondisi seperti ini, dibolehkan bagi seorang perempuan untuk safar tanpa mahram. Karena kewajiban untuk hal-hal yang kami contohkan, lebih kuat dibandingkan kewajiban safar dengan ditemani mahram. Ini merupakan pendapat Imam As-Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad dalam suatu riwayat dan selain mereka.


Dalil untuk hal ini apa yang terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Ketika itu Nabi dan para sahabat di awal-awal memeluk Islam, mendapatkan intimidasi dan siksaan dari kaumnya. Maka kemudian beliau shallallahu ‘alayhi wasallam dan para sahabatnya hijrah dari Mekah ke Madinah. Beliau juga pernah hijrah ke Habasyah ( Etopia ).


Diantara yang ikut hijrah waktu itu, ada dari kalangan para perempuan yang tidak memiliki mahram. Karena saudara-saudaranya memilih kekafiran dari pada memeluk Islam. Akan tetapi Nabi shaNgaji FIQH, [10.03.18 16:29]

llallaahu ‘alayhi wasallam tidak mengingkari keikutsertaan mereka. Maka hal ini menjadi hukum bolehnya hal tersebut. Kemudian diqiyaskan kepada hal ini kondisi yang memiliki bentuk yang sama.


Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata :


وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى عَدَمِ جَوَازِ السَّفَرِ لِلْمَرْأَةِ بِلَا مَحْرَمٍ وَهُوَ إِجْمَاعٌ فِي غَيْرِ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ وَالْخُرُوجِ مِنْ دَارِ الشِّرْكِ وَمِنْهُمْ مَنْ جَعَلَ ذَلِكَ مِنْ شَرَائِطِ الْحَجِّ


“Hadits di atas dipakai berdalil tidak bolehnya seorang perempuan untuk melakukan perjalanan jauh tanpa ditemani mahram dan perkara ini merupakan perkara yang telah disepakati ( para ulama’ ) kecuali dalam masalah haji, umroh dan keluar dari negeri syirik. Dan diantara mereka ada yang menjadikan hal itu ( pergi dengan mahram ) sebagai syarat-syarat haji”. (Fathul Baari, 2/569).


Imam Ibnu Baththal rahimahullaah berkata :


وفى قوله: (لا يحل لامرأة) ، شاهد أنه إنما نهاها عن السفر الذى لا يلزمهن ولهن استحلاله وتركه فمنعهن (صلى الله عليه وسلم) من الأسفار المختارة إلا الضرورية الجماعية التى لا تعدم فيها المرافقة


“Dalam ucapan beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam “Tidak halal bagi seorang perempuan”, yang menjadi dalil ( pembahasan di sini ) sesungguhnya beliau hanya melarang perempuan ( safar tanpa mahram ) dalam safar yang tidak mengharuskan mereka ( untuk pergi ). Dan baginya untuk minta penghalalan dan meninggalkannya. Maka Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam melarang mereka dari berbagai safar yang bersifat pilihan ( tidak wajib ) kecuali ( safar ) bersifat darurat dan berjama’ah yang tidak kosong dari perempuan yang menemaninya”. (Syarh Shahih Al-Bukhari, 3/80).


Imam Ibnul Atsir rahimahullah berkata :


والذي ذهب إليه الشافعي: أن المرأة لا تسافر إلا ومعها ذو محرم منها أو زوجها، أو تكون مع نساء ثقات ولو امرأة واحدة ثقة


“Yang menjadi pendapat Imam As-Syafi’I rahimahullah : Sesungguhnya seorang perempuan tidak boleh safar kecuali bersamanya ada seorang mahram, atau suaminya, atau bersama para perempuan yang terpercaya walaupun satu orang”. (Syarah Musnad Asy-Syafi’I, 3/283).


Adapun Imam Abu Hanifah rahimahullah dan Imam Ahmad dalam suatu riwayat, menjadikan kesertaan mahram bagai perempuan merupakan syarat bolehnya safar secara mutlak, baik safar yang hukumnya wajib ataupun tidak. Pendapat ini bersandar kepada dzohir dari hadits larangan perempuan safar tanpa mahram.


Beliau juga berdalil dengan ayat : 


وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً


“Dan Allaah telah mewajibkan kepada manusia untuk ibadah haji bagi yang mampu dalam perjalanan untuk ke sana”. (QS. Ali ‘Imran : 97).


Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa keberadaan mahram bagi perempuan termasuk dalam makna “kemampuan” tentunya setelah kemampuan biaya dan fisik. Artinya, perempuan yang dianggap mampu untuk haji adalah yang memiliki mahram. Jika tidak, maka dianggap tidak mampu.


Imam As-Syafi’I berpendapat jika keberadaan mahram tidak masuk dalam ayat di atas. Sepanjang dia mampu secara fisik dan materi ( bekal ) untuk ke sana, maka sudah dianggap mampu walaupun tidak memiliki mahram. Sebagai mana dalam suatu riwayat dari sahabat Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhu :


قَامَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا يُوجِبُ الْحَجَّ؟ قَالَ: "الزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ


“Seorang laki-laki berdiri kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam seraya berkata : “Wahai Rasulullah ! Apa yang mewajibkan haji ? beliau shallallahu ‘alayhi wasallam menjawab : “Bekal dan kendaraan”. (HR. Ibnu Majah No. 2829).


Dalam hadits ini tidak disebutkan mahram. Hadits ini dan yang semisalnya telah diriwayatkan dari sekelompok para sahabat. Akan tetapi semuanya lemah sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Katsir  dalam tafsir beliau. Akan tetapi, setelah itu Ibnu Katsir berkata :


لَا يُشَكُّ أَنَّ هَذَا الْإِسْنَادَ رِجَالُهُ كُلُّهُمْ ثقات سوى الحوزي هَذَا، وَقَدْ تَكَلَّمُوا فِيهِ مِنْ أَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ، لَكِنْ قَدْ تَابَعَهُ غَيْرُهُ


“Tidak diragukan, sesungguhnya sanad ini semua perawinya tsiqoh ( terpercaya ) selain Muhammad bin Ibrahim Al-Khuzi. Dia tela


Ngaji FIQH, [10.03.18 16:34]

h dilemahkan disebabkan hadits ini. Akan tetapi selainnya telah memberikan mutaba’ah ( penguat ) kepadanya”. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/71).


Dilihat dari sisi kehati-hatian, maka pendapat Imam Abu Hanifah lebih selamat dan menenangkan hati. Sebagaimana dalam sebuah riwayat : Dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhu berkata :


جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فقَالَ: "إِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا، وَامْرَأَتِي حَاجَّةٌ، قَالَ: "فَارْجِعْ مَعَهَا"


“Telah datang seorang Arab badui kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam seraya berkata : “Aku telah ditetapkan dalam perang ini dan ini. Sedangkan istriku akan naik haji”. Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam berkata : “Pulanglah dan temani dia“. (HR. Ibnu Majah No. 2900). Wallaahu a'lam.


🌸🍃 Sebar Ilmu, Raup Pahala Besar..


Instagram : www.instagram.com/ngaji_fiqh

Facebook : www.facebook.com/MuhammadRivaldyAbdullah

WhatsApp : +201019133695 (Nomor Mesir)

Telegram : Ngaji FIQH

https://telegram.me/ngajifiqh

Blog : lisanulama.blogspot.com


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!