Tuesday, July 31, 2018

Hanya Ilusi Demokrasi Berantas Korupsi


Oleh: Lilih Solihah  

(Revowriter Karawang)


Baru-baru ini ramai diperbincangkan berita tentang terbongkarnya fasilitas mewah di lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat yang ditempati para narapidana kasus korupsi,. Bagaimana koruptor bisa jera dan tidak mengulangi perbuatannya kalau fasilitas yang mereka peroleh di lapas masih "istimewa" dibandingkan napi lain, kata Almas di Jakarta, (29/7/2018)

KPK mengungkap kebobrokan lapas Sukamiskin lewat kasus dugaan suap praktik jual beli fasilitas mewah yang menyeret kalapasnya, Wahid Husen. Dalam operasi senyap tersebut KPK tak hanya menangkap Wahid Husen, KPK juga menangkap  narapidana kasus korupsi proyek Bakamala,  Fahmi Darmawansyah, sebab suami Innekeu Koesherawati ini di duga menyuap Wahid Husen agar mendapatkan fasilitas mewah di dalam kamar selnya. (Sumber: okezonenews.com)


Wakil ketua KPK Saut Sitimorang mengatakan untuk mendapatkan sel mewah ala lapas Sukamiskin harganya terbilang fantastis bisa mencapai 500 juta, itu belum termasuk jika sang napi ingin menambah fasilitas lainnya dan hal ini terbukti jika para koruptor suka dimanjakan dengan kemewahan. (Sumber: liputan6.com. com)

Menurut Almas terbongkarnya fasilitas mewah di lapas para napi bukan kali ini terjadi,  tahun 2010 fasilitas mewah juga pernah ditemukan di sel terpidana narkoba Artalyta Suryani alias Ayin di rutan kelas 2A Pondok Bambu Jakarta Timur. 

Fasilitas mewah lapas juga pernah dinikmati kasus mafia pajak Gayus Tambunan.  Tahun 2010 Gayus ketahuan sering keluar lapas Mako Brimob Depok dengan menyuap sejumlah petugas, dan tak hanya keluar kota Gayus bahkan sempat pergi ke luar negeri dengan nama paspor palsu atas nama  Sony Laksono. Saya rasa jangan hanya dilihat perilaku narapidana korupsinya saja tetapi juga peluang atau kesempatan para napi di dalam itu, kan enggak mungkin tanpa izin, ucap Almas. (Kompas.com)


Betapa tidak di dalam lapas "mewah" ini bak hotel berbintang dengan adanya AC, kulkas, televisi, rak buku, toilet duduk, furniture apik dan lain-lain dengan segala kemewahannya. 

Tak bisa dipungkiri tindak pidana korupsi di Indonesia merupakan penyakit klasik yang tidak kunjung terobati meskipun upaya pemberatsannya sudah dilakukan dengan berbagai cara, namun pada faktanya korupsi di Indonesia malah semakin menggurita. 

Begitulah demokrasi berantas korupsi tidak ada efek jera terhadap para napi, malah membuat mereka nyaman tinggal di sel tahanan dengan fasilitas kemewahan, kalau masalah seperti ini tidak diberantas jangan harap negara ini aman dari korupsi karena dengan begitu masalah yang sama akan bermunculan kembali


Karena itu untuk menuju Indonesia yang lebih bersih haruslah dengan syariah Islam. Dalam sistem Islam mencegah korupsi ialah ditempuh dengan menggunakan pengawasan oleh individu, pengawasan kelompok, pengawasan negara. Dengan pengawas seperti ini tentu peluang terjadi korupsi semakin kecil, juga diberlakukan hukuman pidana keras, hal ini bertujuan untuk menimbulkan efek jera bagi pelaku dan calon pelaku, sistem sanksi berupa ta'zir bertindak sebagai penebus dosa(al-jawabir) sehingga mendorong para pelakunya bertobat dan menyerahkan diri, dan inilah yang tidak dimiliki oleh sistem yang diterapkan sekarang. Dalam sistem Islam juga sangat memperhatikan kesejahteraan para pegawainya dengan cara menerapkan penggajian yang layak 


Rasulullah SAW bersabda: “Siapapun yang menjadi pegawai kami hendaklah mengambil seorang istri, jika tidak memiliki pelayan , hendaklah mengambil seorang pelayan, jika tidak mempunyai tempat tinggal hendaknya mengambil rumah. (HR. Abu Dawud). Dengan terpenuhinya segala kebutuhan mereka, tentunya hal ini akan cukup menekan terjadinya tindakan korupsi.


Kemudian, untuk menghindari membengkaknya harta kekayaan para pegawai, sistem Islam juga melakukan penghitungan harta kekayaan. Pada masa kekhilafahan Umar Bin khatab, hal ini rutin dilakukan. Beliau selalu menghitung harta kekayaan para pegawainya seperti para Gubenur dan Amil.


Dalam upaya menghindari terjadinya kasus suap dalam berbagai modusnya sistem Islam melarang pejabat negara atau pegawainya untuk menerima hadiah. Rosulullah SAW bersabda: 'siapa saja yang kami(negara) beri tugas untuk melakukan suatu pekerjaan kepadanya telah kami beri rezeki(upah/gaji) maka apa yang di ambil olehnya selain  (upah/gaji) itu adalah kecurangan  (HR. Abu Dawud)

Upaya pencegahan korupsi dalam islam adalah dengan keteladanan pemimpin. Sebagi contoh khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah memberikan teladan yang sangat baik, ketika beliau menutup hidungnya saat membagikan minyak wangi karena khawatir akan mencium sesuatu yang bukan haknya, beliau juga pernah mematikan lampu diruang fasilitas kerjanya saat menerima anaknya 


Hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi saat ini di negeri kita, ketika rakyatnya banyak yang lagi kesusahan, mereka malah enjoy dengan mobil mewah terbarunya serta fasilitas fasilitas mewah yang lainnya. (Sumber: eramuslim)

Itulah strategi islam dalam pemberantasan korupsi, dan ini memang harus diterapkan secara menyeluruh tidak di ambil sebagian karena demi sempurnanya kemaslahatan yang di inginkan. 

Bersegeralah negeri ini untuk menerapkan islam secara kaffah  karena hanya islam lah solusi yang paling tuntas untuk menyelesaikan semua permasalahan yang ada saat ini, pun dengan masalah korupsi...

Allah SWT berfirman:


اَفَحُكْمَ  الْجَـاهِلِيَّةِ يَـبْغُوْنَ ۗ  وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّـقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ


"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 50)



Wallahua'lam bish-shawab.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!