Tuesday, July 24, 2018

Generasi Tiktok VS Genersai Taktik


Oleh Suhaeni, M.Si

(Penulis dan Praktisi Pendidikan)


Jagat medsos kemarin sempat dihebohkan dengan aksi seorang remaja berusia 13 tahun. Adalah Bowo “Apenlieble” sosok remaja yang saat ini tengah terkenal berkat aksi unfaedahnya. Hanya bermodalkan aplikasi tiktok kemudian aksi lipsinc dan joget-joget tidak jelas, berhasil membuat Sang Bowo viral. Bak artis papan atas.  


Apakah remaja seperti ini yang diharapkan Islam? 

Oh tentu, bukan. Bagaimana mungkin remaja alay dan tak punya malu ini bisa memiliki pemikiran yang cerdas dan kritis dan punya solusi tentang problematika yang menjangkiti umat saat ini. Apalagi tidak tanggung-tanggung virus dari aplikasi alay ini tengah membuat remaja krisis identitas dan akidah. 


Banyak fans yang tergila-gila dan tidak lagi memiliki rasa malu. Sesak dada ini melihat di media sosial adanya ungkapan remaja yang ingin membuat agama baru dengan salah satu artis tik tok yang viral sebagai Tuhannya. Dimana akal mereka? Hingga kata-kata beraroma syirik itu terungkapkan? Tidak tahukah bahwa ini sama saja dengan membuat tandingan baru bagi Alloh SWT?


Sungguh sejarah Islam telah menyuguhkan kepada kita tentang gambaran-gambaran sosok teladan yang bisa kita teladani. Bukan genreasi tik tok yang menumpulkan akal dan pikiran serta menyeratkan akidah. Tapi generasi tak tik yang penuh dengan ide cerdas dan cemerlang  untuk perjuangan Islam. 


Berbicara tentang generasi tak tik yang full ide, cerdas dan pemberani, tiba-tiba saya teringat dengan sosok sahabat Nabi yang bernama Salman Alfarisi. 


Salman Alfarisi adalah tokoh brilian dalam strategi perang. Siapa sangka, berawal dari kegelisahaan batin remaja Persia tentang agama asalnya (Majusi) dan menaruh hati pada Islam, ternyata malah menjadi mutiara berharga dalam sejarah peperangan umat Islam. 


Salman Alfarisi terkenal karena andilnya dalam peperangan semasa jihad Rasulullah. Ia ikut andil dalam perang khandaq sebagai perancang taktik perang. Ia merekomendasikan taktik cemerlangnya kepada Rasulullah dan tentaranya, yaitu: TAKTIK PARIT. Taktik jitu ini sangat luar biasa karena mampu membawa pasukan Islam dalam kemenangan di perang khandaq. 


Tersebutlah dalam tarikh tentang Perang Khandaq. Perang ini menghadirkan 24.000 orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn sebagai musuh. Mereka menghampiri Madinah dengan tekad memerangi Islam dan membunuh Rasulullah Muhammad SAW. Pasukan musuh ini menyatakan perang terhadap kaum muslimin karena menganggap Islam sebagai agama yang berbahaya dan Nabi Muhammad pantas dilenyapkan saja agar tidak lagi berdakwah. Tentara kafir itu tidak hanya terdiri dari Suku Quraisy saja. Namun merupakan pasukan gabungan yang terdiri dari banyak suku dan kabilah.


Dalam kondisi genting dan merasa terdesak, maka bermusyawarahlah Rasulullah dengan kaum muslimin. Guna menyusun strategi. Mereka memutuskan untuk mengangkat senjata dan berusaha bertahan. Namun mereka masih bingung dengan cara apa bertahan di situasi genting ini. Pada waktu itu, tampillah Salman Al-Farisi mengemukakan pendapat tentang Taktik Parit.


Taktik ini dipilih karena Salman telah mengamati bentang alam kota Madinah. Didapatinya kota ini dikelilingi gunung dan bukit yang berbatu yang sebenarnya bagaikan benteng. Namun di Madinah juga banyak ditemukan daerah terbuka yang sangat luas dan terbentang panjang, sehingga ini akan menjadi celah dari pasukan musuh untuk mudah masuk menerjang.


Maka dari itu, dibuatlah parit-parit dalam dan lebar di daerah terbuka itu untuk menyusahkan pergerakan lawan. Salman mampu membangun parit semacam ini karena pengalamannya sewaktu masih di Persia. Ia memang berpengalaman dalam teknik dan sarana perang. Maka dapat dibayangkan bahwa parit yang dibuat tentara Islam pada waktu itu pastilah sangat hebat. Bukan sekadar parit kecil.


Nyatanya, pasukan kafir yang jumlahnya 24.000 itu kesusahan menembus kota Madinah. Mereka tertahan di camp-campnya. Semua ini berkat Salman Al-Farisi, sahabat Nabi dari tanah Persia. Namun kekalahan pihak musuh dalam Perang Khandaq ini disebabkan oleh Kuasa Allah juga dalam Mendatangkan angin topan. Sungguh pada saat itu, angin topan besar datang memporak-porandakkan kemah-kemah musuh. Setelah perkemahan tentara musuh hancur, barulah mereka mundur menyatakan kalah.


Namun persoalan pembangunan parit yang digagas Salman Al-Farisi ini sukses berkat kerja keras dan dukungan dari semua pihak kaum Muslimin. Diceritakan dalam tarikh, bahwa Nabi Muhammmad pun turut membawa tembilang dan membelah batu. Di saat para tentaranya sibuk menggali tanah.


Masya Alloh, generasi muslim seharusya meneladani sosok seperti Salman Alfarisi. Sosok pemuda yang cemerlang dan juga pemberani. Bukan malah membebek pada sosok-sosok yang menjauhkan umat dari akidahnya. 


Memang, tidak kita pungkiri bahwa generasi tik tok itu adalah korban dari sistem kapitalis liberalis yang masih bercokol di negeri yang kita cintai ini. Korban dari aplikasi milik korporasi asing yang haus akan pundi-pundi materi. Iya, aplikasi tersebut berhasil diblokir oleh pemerintah, eh masih dalam hitungan hari sudah dibuka kembali. Ini menunjukkan bahwa pemerintah lemah dan abai menjaga moral warganya, khususnya remaja.


Sob, sudah saatnya kita hempaskan sistem kapitalis sekuleris ini. Dada ini sudah terlalu sesak, mata ini sudah terlalu perih menyaksikan kebobrokan demi kebobrokan buah sistem yang rusak ini. Sudah saatnya kita menjadikan Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan manusia dan alam semesta. Insya Alloh jika sistem ini diterapkan, sangat mungkin sekali melahirkan generasi-generasi taktik yang cemerlang dan pemberani seperti sosok Salman Alfarisi.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!