Thursday, July 19, 2018

Generasi Tik tok vs Generasi Gemilang


(Oleh : Ahsani Ashri, Dietetian dan Pemerhati Generasi)

Setelah fenomena Dilan, kini gantian fenomena Bowo "Alpenlieble" yang menduduki ranting atas menggemparkan dunia dikalangan pemuda. Dengan aplikasi Tik Tok yang digunakan, hanya dengan bermodal lipsinc lagu dan bergoyang Bowo menjadi terkenal seperti halnya artis papan atas. Sistem kapitalis seolah tiada henti untuk mengekspor berbagai paham mereka ke negeri muslim. Liberalisme, freedom of expression, sekulerisme, pluralisme, dan hedonisme. Masih banyak isme-isme berbahaya lainnya dan tentunya gak berasal dari Islam. Produk mereka pun dikemas semenarik mungkin. Berbalutkan kesenangan tak ketinggalan berbagai label diselipkan. Kemudian dijajakan kepada generasi muslim. Salah satunya ditawarkan melalui aplikasi video musik nan narsistik.

Sebagai generasi muslim wajib tahu something that maybe make you speechless. William Ewart Gladstone (1809-1898), mantan Perdana Menteri Inggris berkata “Percuma kita memerangi umat Islam, kita tidak akan menguasainya. Selama di dalam dada pemuda-pemudi Islam masih tertanam Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati mereka. Baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Nabi Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu, tanamkanlah di dalam hati mereka rasa cinta kepada materi dan seks.” Nau’dzubillah min dzalik.

Seperti analisa Montgomery bahwa rahasia kemajuan peradaban Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika dan ajaran agama. Satu dengan yang lain dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syari’at islam sama pentingnya dengan riset-riset ilmiah. Tidak heran, ketika syari’at Islam dijadikan rujukan sumber hukum, dan sudah terbukti lebih dari tiga belas abad menghasilkan manusia-manusia yang produktif. Mereka bukan hanya menjadi ahli dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi mereka juga menjadi ulama-ulama terkemuka.

Siapa yang tak kenal Muhammad al-Fatih, pemuda yang mampu menaklukkan Konstantinopel di usianya yang sangat muda. 21 tahun. Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [HR. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335] Ia mampu menaklukkan sebuah kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa 11 abad lamanya. Dengan kekuatan iman, lelaki yang tidak pernah meninggalkan Shalat fardhu, Shalat Sunat Rawatib dan Shalat Tahajjud sejak baligh dan menguasai 7 bahasa ini berhasil menghilangkan kedzaliman dengan mewarnai peradaban baru islam. Sumber: (http://www.dakwatuna.com)

Ibnu Rusyd {1126-1198} seorang ulama yang di Barat terkenal dengan namanya Averous, diakui sebagai ilmuan handal dibidangnya. Ibnu Rusyd adalah filosof, dokter dan ahli fiqih Andalusia. Bukunya yang terkenal dalam bidang kedokteran adalah Al-Kulliyat, yang berisi kajian ilmiah mengenai jaringan-jaringan tugas dalam kelopak mata. 

Selain Ibnu Rusyd, Islam memiliki ilmuan yang pertama kali memperkenalkan ilmu pembedahan, dialah Az Zahrawi yang lahir di Cordova pada tahun 936 Masehi, dikenal sebagai penyusun ensiklopedi pembedahan yang karya ilmiahya dijadikan referensi bedaah kedokteran selama ratusan tahun. Sejumlah universitas, termasuk di barat, menjadikannya acuan. 

Kontriibusi Islam dalam bidang ekonomi tidak kalah penting. Adalah az Zarkalli, astronom muslim kelahiran Cordova yang pertama kali memperkenalkan astrolabe. Yaitu instrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison bumi. Penemuan ini menjadi revolusioner karena sangat membantu navigasi laut. Dengan begitu pelayaran sangat berkembanng cepat setelah penemuan astrolabe.

Fantastis memang ketika syari’at islam menjadi acuan dalam pendidikan. Bukan bagian-bagian yang terpisah. Maka tidak heran ketika masa kejayaan Islam, selain mereka faqih fiddin, mereka juga ahli kedokteran, astronom dan lain-lain.

Itu sebabnya, dalam sistem pendidikan Islam, negara akan memprioritaskan pendidikan agama daripada ilmu umum untuk dipelajari. Namun, tidak berarti ilmu umum menjadi warga nomor dua, tetapi berjalan beriringan.

Dalam Islam juga telah membedakan antara orang yang berilmu dan tidak, sebagaiman firman Allah dalam QS. Al Mujadalah [58]: 11 yang artinya : “… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang dibri ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Sayangnya kita sekarang ini hidup dalam sistem kapitalis, dimana atas dasar kebebasan yang di elu-elukan, jangankan memberikan pendidikan yang berbasis aqidah Islam, yang ada justru negara membiarkan warganya bersikap bebas layaknya binatang. Ilmu bukan menjadi sesuatu yang penting, sehingga wajar jika menghasilkan manusia-manusia tak beradab.

Pendidikan berbasis aqidah Islam yang mampu membentuk manusia yang berpikir dan bersikap Islam hanya bisa diwujudkan jika Islam dijadikan rujukan hukum. Negara yang mampu menerapkan hukum-hukum islam dalam sebuah sistem pemerintahan. 

Wallohu a’lam bisshowaab.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!