Thursday, July 19, 2018

Generasi Alay, Buah Liberalisme – Sekulerisme


Oleh: Lili Agustiani, S. Pd

(Pemerhati Perempuan dan Generasi, Anggota Komunitas Revowriter Samarinda)


Team Bowo mana suaranya? Bikin agama baru yuk! Kak Bowo jadi tuhan nya, aku jadi nabii nya kalian jadi umatt nya. ini adalah status Ara Zahira di akun media sosialnya dengan hastag bowofans. Kemudian adapula unggahan status seorang anak remaja yang ingin membuat agama baru yang menjadikan bowo sebagai tuhan mereka. Statusnya seperti ini "Bikin agama baru kuyyy!! Namanya kaum Bowoww. Kaka Bowo jadi Tuhannya. Akoh jadi malaikatnya. Dan kalian semua jadi umatnya. Yg mau jadi nabi2 chat aja. Lapak gw khusus orang2 epic elite saja,,,, Ga perlu rame2, berisik tauk!! Ayo fans bwowoh.. hastag Savebowo, bowotohann Tiada Tuhan selain Bowo,".

Melihat tulisan seperti ini akan memunculkan pertanyaan. Siapa Bowo sebenarnya? Apakah dia pembawa agama baru? Yah, itulah yang ada dibenak kita. Namun ternyata Bowo yang diagung-agungkan oleh kalangan anak remaja ini adalah pria yang berusia 13 tahun masih duduk di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama. Dia banyak digemari oleh para remaja putri karena memiliki paras yang tampan.

Popularitas bowo ditunjukkan dengan banyaknya pengikut dia di instagram yang sudah mencapai 200 ribu. Sementara videonya di Tik Tok sudah ditonton oleh lebih dari 700 ribu kali dan telah menyebar ke berbagai media sosial lainnya. Bowo yang bernama asli Prabowo Mondardo ini memang merupakan salah satu contoh orang yang bisa memanfaatkan aplikasi Tik Tok sebagai medium untuk mencapai popularitas.

aplikasi Tik Tok yang berasal dari negeri Tirai Bambu merupakan platform maupun aplikasi yang menyediakan dukungan pembuatan video dengan hal menarik pada pengguna smartphone. Tik Tok adalah aplikasi yang memberikan special effects unik dan menarik yang dapat digunakan oleh penggunanya dengan mudah sehingga dapat membuat video pendek dengan hasil yang keren serta dapat dipamerkan kepada teman-teman atau pengguna lainnya.

Tik Tok sendiri diklaim oleh pengembangnya dapat melakukan pengelanan wajah dengan kecepatan tinggi yang akan disugestikan pada fitur wajah menarik, seperti ekspresi imut, keren, konyol, dan memalukan.

Selain itu, Tik Tok juga telah menyediakan musik background dari berbagai artis terkenal dengan berbagai kategori, mulai dari DJ, Dance, R&B, Western, Cute, KKC, Addict, Populer, dan masih banyak lagi yang dapat membuat video memiliki alunan lagu untuk disesuaikan dengan situasi di video.

Banyak pertanyaan yang diajukan kepada saya ketika melihat fenomena Bowo ini. Siapa sebenarnya yang salah? Ada yang mengatakan yang salah adalah Orang Tua Bowo yang telah membiarkan anaknya bebas bersosial media. Adapula yang beranggapan yang salah adalah media sosialnya.

Namun disini sebagai seorang muslim harus jeli ketika melihat suatu fakta permasalahan ditengah-tengah masyarakat. Sosial media sendiri diibaratkan seperti dua sisi mata pisau. Jika baik penggunaannya maka akan menghasilkan hal yang positif bagi penggunanya. Namun sebaliknya jika digunakan untuk hal-hal yang salah maka akan menimbulkan hal negatif pula.

Bagaimana dengan orang tua? Adakah orang tua yang menginginkan anaknya tersesat dalam hidupnya? Tentu tidak ada orang tua yang menginginkan hal seperti ini terjadi pada anaknya. 

Penomena Bowo ini adalah salah satu akibat diterapkannya sistem liberalisme (kebebasan) dan sekulerisme (menjauhkan agama dari kehidupan).  Wajar jika banyak anak-anak remaja yang kelak menjadi generasi penerus bangsa tergerus dan bermental alay. Kehilangan identitas diri serta terjerumus dalam “Fanatik Buta” dalam “Profil Figur.”

Penggunaan media tanpa batas dan lemahnya control penguasa dalam menjaga remaja dari kerusakan pemikiran adalah penyebab munculnya generasi alay.

Sebagai seorang muslim setiap perbuatan wajib terikat dengan hukum syara. Tidak boleh keluar dari apa yang pernah dicontohkan oleh Rosullullah saw sang pembawa cahaya Islam. Walaupun di masa Rosullullah tidak ada Tik Tok namun disini kita harus mencontoh perbuatan Rosullulah, dimana banyak waktu beliau bahkan usianya dalam segala aspek perbuatan digunakan untuk beribadah kepada Allah swt sang pencipta manusia.

seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang ia cintai dan yang dijadikan idola. Dalam hadits riwayat Ath Thobroni, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti.”

Oleh karena itu tidak ada larangan dalam mengidolakan seseorang. Hanya saja idolakan orang-orang yang sudah mendapat jaminan surga. Wallahua’alam



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!