Monday, July 2, 2018

Gen Z dalam Buaian Teknologi Bebas Nilai


Oleh: Hafidhah Silmi

Anggota RSC (Remaja Smart Club) Magetan. Jatim


 


Kalau kita menanyakan ini pada generasi X, "Kalian tau Bowo kan?" Rata rata mereka akan merespon "Bowo? Siapa sih? Yang mana orangnya?"

Tapi kalau kita bertanya pertanyaan yg sama pada anak anak milenial gen Z, mereka pasti langsung connect dengan memberi penjelasan siapa bowo dengan detail.


Ya. Bowo adalah seorang remaja 13 tahun yg mendadak tenar di dunia maya. Berkat aksinya di aplikasi Tik Tok, ia berhasil menyedot perhatian netizen terutama para remaja putri. Video-video pendeknya berseliweran di Tik Tok, bahkan di like lebih dari 30.000 kali. Sungguh Bowo dipuja laksana dewa. Hingga kini, follower akun instagramnya telah mencapai 266rb pengguna.


Yang membuat geleng-geleng kepala, para fans Bowo sangatlah fanatik. Mereka rela hadir ke acara meet and greet yang digelar oleh tokoh idolanya tersebut meski dikenakan tarif yakni sebesar 80rb hingga 100rb per orang. Tak hanya itu, beberapa orang bahkan rela melakukan aksi nekat di luar nalar. Salah satunya adalah rela menjual ginjalnya demi bertemu Bowo. (Tribunnews.com/29-06-2018)


Bukan itu saja, seorang fansnya mengatakan dalam sebuah caption di akun instagramnya "aku rela tidak masuk surga, asalkan perawanku pecah sama Bowo." Sungguh miris. Sedangkal itukah pemikiran generasi masa kini?


Teknologi Merusak Generasi?


Bowo hanyalah satu dari sekian banyak korban kecanggihan teknologi masa kini. Dan para remaja pemuja Bowo pun adalah korban dari sistem rusak yang menenggelamkan akal di atas nafsu.


Sungguh memprihatinkan, generasi muda yang semestinya menjadi ujung tonggak perubahan sebuah peradaban, nyatanya kini terbelenggu ke dalam permainan yang tidak berfaedah.


Amat nyata bahwa sistem sekularisme-liberal hari ini sungguh merusak generasi. Jadi, bukan teknologinya yang salah melainkan sistem yang menaungi teknologi dan penggunanya itulah yang bermasalah. Mereka sibuk memuja popularitas dan syahwat.


Generasi Penuh Prestasi


Hal ini sungguh berbeda dengan generasi di masa Islam berjaya. Mereka sibuk memikirkan bagaimana menjadi yang terbaik di mata Rabbnya. Bukan itu saja, mereka sibuk dalam aktivitas menegakkan agama Allah di atas muka bumi. Sebut saja Ali Bin Abi Thalib, di usia 6 tahun telah masuk Islam dan ikut kajian Islam bersama Nabi di Darul Arqam. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa tertunjuki hidayah jika nalarnya beku dari berpikir tentang kebenaran?


Muhammad Al-Fatih, di usianya yang baru 21 tahun ia menjadi panglima perang yang berhasil menakhlukkan Kota Konstantinopel. Betapa agung sosok pemuda dalam sistem Islam. Jiwa dan raganya bertaut dalam balutan Takwa. Maka tidak lah ada aktivitas sia-sia apalagi maksiat yang mereka lakukan. Yang dicari adalah rida Ilahi Robbi, bukan popularitas semu. Maka wajarlah jika pada masa itu, banyak kegemilangan yang ditorehkan oleh para pemuda Islam


Sungguh sudah sepatutnya generasi masa kini menjadikan Islam sebagai pedoman atas tutur dan lakunya. Sebab sejatinya, dengan itulah akan tercipta sosok-sosok generasi berkualitas yang akan mampu mengisi peradaban di masa depan.


Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi dari berbagai pihak untuk mengubah wajah generasi hari ini, di antaranya keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga merupakan benteng pertama dalam menancapkan adab dan akidah dalam diri anak-anak sejak dini. Dengan itulah diharapkan, tidak akan muncul generasi haus popularitas dan krisis jati diri. Sebaliknya, akan tercipta generasi yang memiliki kejelasan visi hidup, untuk apa ia diciptakan.


Masyarakat pun menjadi pengontrol wajah generasi. Bukannya mudah meng-amini atas suatu fenomena, sebaliknya harus kritis jika menabrak hukum syara. Dengan itulah segala bentuk penyimpangan akan ditekan, bahkan diberantas habis.


Adapun negara sebagai benteng terakhir adalah bertanggungjawab menciptakan suasana kondusif bagi pelaksanaan seperangkat hukum syariat. Maka, negara tidak boleh mendiamkan segala sesuatu yang dapat mengantarkan pada pelanggaran hukum syariat. Apalagi jika berdampak pada rusaknya akidah dan akhlak.


Ingatlah firman Allah swt:


"Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ?" [al-An’âm/6: 32]


Wallahu alam.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!