Monday, July 30, 2018

Gempita Artis di Panggung Politik


Oleh: Arin RM, S.Si*


Sambut pemilu 2019, dunia politik diwarnai dengan banyaknya pelakon panggung sandiwara tanah air ke ranah politik. Dikabarkan 54 artis dipinang partai politik. Mereka didaulat sebagai calon legislatif dari masing-masing parpol pelamar (liputan6.com, 21/07)2018). Jika selama ini publik mengetahui kopral mereka hanya sebatas sorot kamera dunia hiburan, maka pada musim pemilu tahun depan kualitas politik mereka baru bisa dipertimbangkan. Laman nasional.kompas.com (19/07/2018) menuliskan "Banyak Artis Jadi Caleg, KPU Serahkan ke Pemilih untuk Menilai."


Gempita artis di panggung politik bukan perkara baru. Namun pemiih tetap harus mendapat edukasi politik yang lebih dari biasanya. Agar apa yang mereka lakukan dalam tindakan memilih calon dewan tidak dianggap enteng. Tidak disamakan dengan sekedar memilih pelakon yang akan dimasukkan dalam nominasi dan menjuarai penghargaan panggung hiburan. Sebab selama ini, masyarakat mengenal para artis dengan perannya di layar kaca, bukan di lingkungan legislatif yang menjalankan tugas negara.


Edukasi  juga berlaku bagi calon legislatif, semuanya, siapapun itu termasuk artis. Bahwa keterlibatan  dalam dunia politik mengandung konsekuensi besar, siap menjadi pelayan rakyat dalam segala bidangnya. Terjun dalam dunia politik artinya terjun dalam kerja pengabdian, murni untuk pengurusan umat. Jangan sampai hadirnya para pesohor hiburan ini hanya dimanfaatkan sebagai pendulang suara, pemantik kemenangan semata. 


Artis perlu tahu bahwa hakikat politik muaranya adalah menyelesaikan problematika umat dan mengatur segala kepentingan mereka dengan Islam. Oleh karenanya setiap calon politikus harus paham bahwa makna amanah dan kepemimpinan sekecil apapun adalah sesuatu yang akan dipertanggung jawabkan. Tanggung jawab akan amanah ini tidak akan muncul tanpa pemahaman Islam yang benar.


Sehingga benarlah bila  Islam mewajibkan ilmu dituntut selamanya oleh umatnya. Agar umat paham makna politik yang benar sesuai pandangan Islam. Agar tak takut ketika agama membahas politik. Agar melek politik sehingga tidak menjadi korban kebijakan politisasi. Agar bisa berpartisipasi dalam melakukan muhasabah. Meluruskan jika ada yang salah dan menjaga atas apa yang sudah benar. Semuanya tidak lepas dari perintah Allah yang menjadikan amar makruf sebagai bagian tak terpisahkan dari diri umat Islam (Ali Imran ayat 104).


Umat perlu tahu bahwa politik Islam yang bervisi amar makruf ini jauh berkebalikan dengan versinya demokrasi kapitalis. Politik di jagat kapitalis yang sekuler ini adalah kendaraan untuk mencapai kekuasaan semata. Jika sudah berkuasa maka kekayaan yang mengisi ruang kepala. Maka hitamlah citra politik oleh ambisi kekuasaan dan kekayaan tersebab kerap menghasilkan koruptor berbaju politisi. Ini lah yang harus dibuang jauh. Dan kontribusi artis dalam ranah politik ini yang sangat dinanti, benar membawa visi berpolitik, bukan sekedar pendulang suara semata. [Arin RM].


*Freelance author dan member TSC



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!