Monday, July 30, 2018

Fenomena Politikus Pindah Partai Dalam Perspektif Islami


Oleh : Fatimah (Muslimah Peduli Umat)


Guru besar politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Syamsuddin Haris mengaku prihatin atas fenomena politisi pindah-pindah partai. Para politisi kutu loncat ini biasanya sekadar mengejar kepentingan mereka sendiri.

"Rakyat akhirnya hanyalah nonfaktor dalam proses politik. Suara rakyat dicari saat pemilu & pilkada tapi setelah itu dicampakkan," tulis Syamsuddin Haris di akun twitternya. (http://wartakota.tribunnews.com/2018/07/21/prof-lipi-bicara-fenomena-politisi-pindah-parpol-nomor-4-sangat-pas-dengan-posisi-ahok-dan-lulung)


Dalam sistem Demokrasi Kapitalisme, memang sudah tidak aneh politikus berpindah-pindah partai. Karena idealisme tujuan NYALEG hanya berdasar pada Kapitalisme. Yakni tujuan kepentingan Karir (Kursi) dan urusan materi. 


Kekuasaan yang idealis yang bertujuan mengurus urusan rakyat, memberikan pelayanan pada masyarakat secara manusiawi, memenuhi hajat hidup orang banyak rupanya target nomor ke-sekian. Terlihat sekarang jarang mengubar janji, karena sering meleset. Akhirnya asal ada janji, tapi tak pasti.


Masyarakat sadar, dari harga bahan pangan mahal saja sudah menjadi bukti kurang tangkasnya peran penyelenggara negara. penanganan hajat mendasar rakyat sudah semakin 'ngap-ngapan'. CALEG yang diharapkan menjadi wakil rakyat sama sekali tidak mewakili rakyat. Saya sebagai rakyat, merasa tidak setuju dengan pelegalan miras, sistem riba, penerimaan LGBT. Semua itu sebagai bukti pelanggaran dan dosa dalam Islam. Dan Dewan yang terhormat yang rakyat pilih menjadi wakil rakyat malah menghalalkan yang haram. Ini sangat bertentangaan dengan kebenaran Islam.


Apa lagi yang diharapkan dari CALEG  partai di sistem Demokrasi Kapitalis?


Dari asasnya, Demokrasi menyandarkan semua keputusan penyelesaian masalah hidup pada manusia atau suara terbanyak. Manusianya (Dewan Legislatif) yang majemuk dengan pemikirannya melepaskan diri dari keterikatan pada aturan Islam dalam urusan bernegara. Ķita mengenal Demokrasi sebagai kedaulatan di tangan rakyat. Dan Kapitalisme menolak peran Allah dalam mengatur urusan bernegara. Jadi, Demokrasi dan Kapitalisme adalah saudara kembar. Sama-sama tidak bersandar pada hukum Syara'.


Berbeda dengan Islam. Musyawarah sebagai cara (wasilah) dalam Islam, merembukan permasalahan dengan hasil yang menyandarkan semua keputusan pada aturan Allah. Dalam Islam,  kedaulatan di tangan Syar'i (aturan Allah SWT dan Rosul-Nya, Ijma dan Qiyas).


Jadi, perbedaan yang sangat kontras antara Islam dan Demokrasi Kapitalis nampak dari dasarnya. 


Demokrasi hanya mampu melahirkan politisi-politisi dengan visi ideologis Kapitalisme. Wajar jika negara kacau balau karena diatur oleh orang-orang yang tidak kapabel dan hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Kursi yang diperebutkan hanya ajang bisnis. Awal NYALEG keluar modal. Udah berhasil nyari untung. 


Seorang negarawan Islami semestinya memiliki visi mulia layaknya Rosulullah  SAW.


Rosulullah SAW menerapkan aturan Islam dalam kehidupan. Setiap permasalahan kehidupan diselesaikan atas aturan-aturan Allah SWT. Rosulullah SAW adalah kepala negara yang adil, benar (siddik), dapat dipercaya (amanah), cerdas (fathonah), menyampaikan (membina/tabligh). Beliau mengajarkan para sahabat akan idealisme keterikatan akan hukum-hukum Allah SWT menjadi landasan dalam keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Rosulullah SAW  juga menggembleng para sahabat dengan menyadarkan mereka akan beratnya memegang amanah menjadi seorang pemimpin. Mengingatkan mereka akan adanya hari dimana Allah meminta pertanggungjawaban akan semua amalnya selama menjadi pemimpin.


Maka dari itu lahirlah sosok Abu Bakar Siddik RA, Umar Bin Khotob RA, Utsman bin Afan RA, Ali bin Abi Tholib RA, Abu Ubaidah bin Zarrah RA,  serta Sahabat yang lainnya yang amanah, cerdas dan mengutamakan akhirat. Sepak terjangnya dalam memimpin sangat hati l-hati dan selalu amanah. 


Allah SWT menjadikan Rosulullah SAW sebagai uswatun hasanah (teladan terbaik) dalam menjalani roda kehidupan. Seperti dala


90060 @fat:

m firman-Nya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat/pahala) Allah dan (kedatangan/keselamatan) hari kiamat dan yang banyak menyebut Allah." (TQS. 33:21)


Allah SWT telah menjelaskan dalam Al Qura'an bagaimana sebagai muslim wajib menjadikan Aturan Allah  Al Qur'an dan Sunnah sebagai pegangan hidup.

".......Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk jalan yang lurus".(TQS Al Imran: 101)


Inilah Islam, sebagai aturan yang sempurna. Dengan satu visi mencari Ridho Allah SWT. Satu visi persatuan yang hakiki. Dan keridhoan Allah SWT hanya akan didapat saat manusia berpegang teguh pada tali agama Allah SWT. 


Allah SWT berfirman: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (TQS Alimran: 103)


Bicara NYALEG dalam Islam sesungguhnya bicara akan amanah. Dan amanah itu dipertanggungjawabkan langsung pada Allah SWT. Dan sebagai muslim wajib memutuskan perkara bersandar pada hukum Allah SWT.


Jadi kalau membahas NYALEG di sistem Demokrasi Kapitalisme. Ko nampak seperti main-main saja. Pindah partai bak kutu loncat. Sudah terpilih lupa apa lupa visi idealis?

Wallohu 'alam.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!