Monday, July 30, 2018

Fajar Kebangkitan Islam


Oleh : Insiyah

Semakin hari perkembangan dakwah Islam semakin membahana. Masyarakat dari berbagai kalangan menuntut adanya perubahan ke arah Islam. Mereka yakin bahwa solusi atas berbagai masalah negeri muslim termasuk Indonesia, hanya bisa diselesaikan dengan diterapkan Syari'at Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah. Dari sini akhirnya umat menyadari akan kebutuhan menegakkan Khilafah. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustadz Oemar Mita, Lc , yang menyatakan bahwa, Khilafah adalah kultur sunnah, "Siapapun hari ini, mau setuju atau tidak setuju, dia tidak mampu menghilangkan atau menafikan kulturnya sunnah yakni Khilafah, karena Khilafah adalah sarana untuk membumikan syari'at Allah di atas muka bumi" @ Khilafah Army. Sejalan dengan hal tersebut umatpun menyambut adanya seruan "Return The Khilafah" yang mengguncang sejumlah benua di dunia yang digelar serentak pada 28 Rojab 1439 / 17 April 2018 dan di hadiri puluhan ribu umat.

Melihat hal ini penguasa sekuler merasa kedudukan mereka terancam. Mereka berupaya menghadang dakwah dengan berbagai cara yang menurut mereka benar. Diantaranya mengkriminalisasi ajaran Islam yakni Khilafah, melakukan pembubaran sepihak dengan mencabut status badan hukum ormas tertentu yang mendakwahkan Khilafah. Kemudian mempersekusi para tokoh mubhaligh, diantaranya Ustadz Alfian Tanjung, dimana beliau mengungkap adanya komunis gaya baru di Indonesia, dan akhirnya beliau di penjara. Selain itu rezim sekuler ini juga melakukan tindakan represif terhadap para intelektual yakni Profesor  Suteki. Beliau menyatakan bahwa "Syari'at Islam tidak bertentangan dengan Pancasila", dari pernyataan tersebut, akhirnya beliau dinonaktifkan dari beberapa jabatan akademis. Dengan berbagai argumentasi di atas, maka cukup membuktikan bahwa penguasa sekuler terjangkit islamphobia akut.

Namun demikian dakwah harus terus berjalan karena dakwah adalah kewajiban atas kaum muslimin.

Dan saat ini baik masyarakat, ulama dan para intelektual harus bersatu mewujudkan cita- cita mulia ini. Karena persatuan adalah sebuah kebutuhan dan keniscayaan. Buktinya Eropa bisa bersatu dalam Uni Eropa, negara-negara bagian Amerika Berserikat, Jerman bersatu. Sebagaimana perjuangan dahulu, manakala menggunakan ikatan kedaerahan tidak berhasil sebaliknya ketika bersatu justru berhasil. Begitu pula yang telah disampaikan oleh Ustadz Abdul Somad, dalam ceramah beliau dihadapan ribuan jama'ah masjid Al Fathu di Soreang, pada sabtu, 31 Maret 2018, dengan tema " Bersatu Menuju Kebahagiaan Hakiki ". Beliau meyakinkan umat bahwa "semua umat Islam yang berbeda-beda organisasi ini bisa bersatu, karena sejatinya umat Islam memiliki Tuhan dan Kiblat yang sama". Begitu juga yang diungkapkan oleh Ulama Buya Hamka , yang dalam setiap sikap beliau sering menunjukkan bahwa persatuan itu lebih penting dan mendesak ketimbang memperlebar jurang perbedaan fiqih.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ali Imran (3) ayat 103, yang artinya "Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."

Penulis: Insiyah



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!