Thursday, July 5, 2018

Elpiji Non Subsidi : Derita Emak-emak Kian Memuncak


Oleh : Silvia Rahma ( Muslimah Peduli Negri, Tinggal di Bogor )

Tak ada lagi kata yang bisa disematkan kecuali Zalim. Pasca lebaran dengan berbagai kenaikan harga kebutuhan pokok, masih harus menerima kado pahit dari pemerintah. Dengan dicabutnya subsidi Elpiji tabung 3 kg. Tabung gas 3 kg yang basa kita dapat mulai harga Rp 20- 22 ribu, dengan adanya pencabutan subsidi maka akan di jual kisaran Rp 39 ribu. Dengan pertimbangan bahwa selama ini tabung gas bersubsidi tidak tepat sasaran.


PT Pertamina (Persero) memastikan akan segera menjual gas elpiji 3 kilogram nonsubsidi. Penjualan ini rencananya akan dimulai pada tanggal 1 Juli 2018. PLT Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, elpiji ini nantinya akan dijual bebas kepada masyarakat. Artinya baik masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) maupun yang mampu bisa membelinya. "(Elpiji non subsidi jadi dijual) per 1 Juli 2018. (Teknisnya) ya dijual aja tapi ini tidak di subsidi," ujarnya saat ditemui dalam acara halalbihalal di Kementerian ESDM (Detik.com 22/6/2018).


Bukan sekedar mengencangkan ikat pinggang lagi, namun juga dengan memutar otak berkali-kali untuk menyusun ulang anggaran belanja rumah tangga di tengah naiknya berbagai macam kebutuhan pokok dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Masya Allah. Benar-benar berbagai kebijakan pemerintah yang serba dadakan dan diam-diam berperan aktif dalam mensukseskan derita emak-emak sekarang.


Menanggapi kebijakan pemerintah tersebut, Ketua Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (Semmi) Erlyando Saputra menilai, kebijakan menjual gas elpiji 3 kilogram non subsidi ke masyarakat menengah berpeluang merugikan masyarakat kelas bawah dan menciptakan kelangkaan tabung subsidi 3 kilogram. Banyak pihak akan memanfaatkan kebijakan ini untuk ambil untung besar dengan fokus menjual tabung non subsidi yang rencananya akan dijual dengan harga Rp39 ribu (rmol.co, 24/6/2018).


Benar adanya  yang dikatakan Erlyando. Klasifikasi gas melon subsidi dan non subsidi dapat menciptakan kesenjangan sosial. Secara otomatis rentan menciptakan kecemburuan sosial di tengah masyarakat. Padahal jelas hak setiap warga negara mendapatkan keadilan sosial dan kesejahteraan yang sama. Sedangkan kewajiban dan tugas negara mencukupi seluruh kebutuhan warganya tanpa memandang kaya ataupun miskin. Keduanya  berhak memperoleh kesejahteraan oleh negara.


Tidak bisa dipungkiri, kebijakan elpiji non subsidi pun menuai banyak pertanyaan pastinya. Di pastikan kebijakan elpijinnon subsidi akan menghilangkan elpiji subsidi di pasar secara pelan-pelan. Karna jauh sebelum ada kebijakan ini saja elpiji subsidi sudah sering susah di dapat. Apalagi dengan adanya kebijakan elpiji non subsidi sejak tanggal 1 Juli, dipastikan akan menuai kelangkaaan yang merata di seluruh wilayah Indonesia. Seperti kasus konversi minyak gas ke elpiji di tahun 2007. Penghapusan gas subsidi 12 kg ke tabung 3 kg di tahun  2014, begitu pula dengan pengalihan premium ke pertalite. 


Sesuatu hal yang wajar kebijakan yang senantiasa ada dan akan terus berulang seperti halnya kebijakan elpiji non subsidi kali ini. Selama paradigma yang digunakan oleh pemerintah dalam mengatur rakyatnya adalah sekulerisme. Karena  sekulerisme dalam tata praktiknya tidaklah harus langsung dalam kepengurusan rakyatnya. Tetapi cukup menjadi fasilitator antara investor/swasta dengan rakyatnya. Karena memang tujuanya adalah materi. Hutang yang menggunung dan beban anggaran belanja yang tinggi cukup menjadi dalih negara mencabut subsidi rakyat. Ditambah dengan ancaman inflansi yang siap meluluh lantakkan perekonomian negri ini. Dalam keadaan yan terpuruk masyarakat dibiarkan menanggung beban yang begitu berat dan terus bertambah berat.


Seharusnya mudah saja jika pemerintah mengelola sumber daya alam dengan baik maka akan mampu memberi pelayanan murah bahkan gratis untuk rakyatnya. Seperti halnya yang tercantum dalam Pasal 33 UUD 1945. Namun realita berbicara lain. Karna penerapan sistem kapitalisme yang menjadikan aset-aset sumber daya alam yang seharusnya pengelolaan untuk kesejahteraan rakyat menjadi aset-aset dalam penguasaan swasta bahkan dominasi asing. Maka wajar jika pemerintah tak punya kekuatan dan daya dalam meriayah rakyatnya.


Berbeda dengan pengaturan Islam. Dalam Islam seluruh aturan diambil dari sang pemilik kehidupan, yakni Allah Ta'ala. Negara hanya bertugas merealisasikan melalui pepemimpinan dalam rangka Ketakwaan pada Allah Ta’ala. Hal ini cukup menjadi pegangan dalam sebuah realisasi yang hanya takut kepada Allah. Maka penguasa Muslim akan sangat takut jika rakyat sampai tidak terpenuhi haknya. Subhanallah.


Islam telah menetapkan benda-benda tertentu sebagai milik individu, milik negara dan milik umum. Dalam konteks migas yang jumlahnya tak terbatas, Islam menetapkannya sebagai milik umum alias milik umat, bukan milik individu atau milik negara. Sehingga haram bagi negara melakukan swastanisasi, asingisasi maupun kapitalisasi.


Islam mengatur tentang kepemilikan ini hingga terjamin hak-hak dasar setiap individu. Terkait dengan kepemilikan umum. Negara hanya bertugas mengemban amanah rakyat untuk mengelola dan mendistribusikannya semata-mata demi kesejahteraan rakyat tanpa terkecuali. Baik laki-laki maupun perempuan, kaya maupun miskin, tanpa memandang agama, bangsa, suku dan ras Sejarah telah mencatat bagaimana kegemilangan Islam dalam penerapan. Mampu menghantarkan rakyatnya sejatera berabad-abad. Di sepanjang itu pula umat Islam tampil sebagai pionir kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan, sekaligus menjadi tempat belajar bagi Barat menemukan peradaban modern mereka.


Kapitalisme jelas menjadi akar permasalahan berbagai kezaliman yang menimpa umat Islam. . Sebaliknya kita harus berupaya mengembalikan aturan Islam secara kaaffah ke tengah umat. Sebab hidup tanpa syariat-Nya hanya akan mengundang kehinaan dan kenistaan di tengah umat manusia. Wallahu a'lam bi-alshawab'



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!