Friday, July 27, 2018

Dunia Pendidikan dan Islam


Oleh : Mulyaningsih, S. Pt

Dunia pendidikan kembali dihebohkan dengan ulah dua orang siswi. Mereka melakukan aksi yang tak sepantasnya dilakukan oleh seorang pelajar. Bahkan yang sangat disayangkan adalah video aksi mereka (perkelahian) viral di media sosial FaceBook. Video tersebut berdurasi 1:52 detik. Sungguh tak habis pikir, mengapa masih saja ada siswa yang melakukan hal tersebut?

Dari informasi yang didapatkan bahwa perkelahiran kedua orang siswi tersebut terjadi antara siswi SMA Negeri Di Kota Parepare yang berinisial SL. Pada saat kejadian, SL memakai baju seragam olah raga SMA Negeri 4 Parepare. Pada kenyataannya ia terdaftar sebagai siswi kelas X di SMA Negeri 1 Parepare. Satu siswi lagi berseragam abu-abu adalah siswi SMA Negeri 2 Parepare. Mereka melakukan perkelahian tersebut adalah karena rebutan pacar (lintasterkini, 24/7).

Di tempat terpisah Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri 4 Parepare, Muhammad Taha Taking dengan tegas menyatakan bahwa jika siswi yang berpakaian olahraga bukan pelajar di sekolahnya. “Saya sudah tonton videonya, dan yang berpakaian olahraga itu bukan siswi kami. Saya akan kroscek dan mencari tahu dari mana dia mendapatkan pakaian olahraga sekolah kami. Pakaian itu adalah seragam olahraga pelajar kami yang baru tamat tahun ajaran lalu,” jelasnya.



Islam adalah agama rahmat yang diturunkan untuk membawa kebaikan kepada semuanya, terutama bagi manusia. Islam pun mengatur semua hal, tak hanya masalah ibadah ritual saja. Pengaturan tersebut dalam hal hubungan antara manusia dengan Rabbnya, kemudian dengan sesama manusia serta dengan dirinya sendiri.

Manusia adalah makhluk yang Allah ciptakan paling sempurna dibandingkan dengan yang lain. Akal yang menjadikan manusia derajatnya lebih tinggi. Dengan akal tersebut manusia mampu membedakan mana yang harus dilakukan dan ditinggalkan, tentunya harus sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Hadist. 

Kemudian kelebihan lain yang Allah berikan adalah naluri. Dari sini memungkinkan permasalahan itu muncul silih berganti. Seperti halnya kasus di atas, para pelajar melakukan perkelahi dengan alasan sepele pula. Ditambah lagi, hal yang membuat geleng-geleng kepala adalah pelaku perkelahian tersebut adalah perempuan. Innalillahi, jauh dari kata pelajar yang sesungguhnya. Mereka melakukan hal tersebut karena ingin menunjukkan eksistensinya serta wujud dari naluri kasih sayang (nau’). Padahal dalam Islam telah jelas mengatur masalah tersebut.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa yang namanya pelajar tentunya masih labil, emosi selalu turun-turun. Mereka ingin eksistensinya terjaga, maka dari itulah segala macam cara bisa dilakukan walaupun dengan perbuatan yang tak terpuji. Begitu pula dengan naluri kasih sayang, utamanya terhadap lawan jenis, maka hal tersebut harus terpenuhi. Bentuknya adalah dengan cara berpacaran. Padahal sejatinya, hal tersebut bisa dialihkan pada yang lain. Tentunya hanya dengan Islam semua itu dapat diselesaikan dengan tuntas. Dari sini harus kita sadari bersama ternyata ada yang salah pada diri pelajar sekarang. Mereka selalu bersikap arogan dan emosi berlebihan.

Keimanan, itulah benteng yang sebenar-benarnya. Jika keimanan seseorang telah kuat maka insya Allah dia tidak akan mau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan Islam. Dengan akal serta keimanan yang kuat maka akan membuat pelajar berbeda dengan yang lainnya. Segala tindak-tanduknya selalu bersandar pada Islam tadi, termasuk baik-buruk, terpuji-tercela harus bersandar padanya (Aqidah Islam). Begitu juga dengan perwujudan naluri nau’ tadi, ketika Islam berbicara maka akan dapat terselasaikan dengan baik. Hanya ada dua pilihan, ketika sudah mampu dan siap maka menikahlah. Jika belum mampu dan siap maka berpuasalah. Itulah gambaran Islam mengatur masalah tersebut. Dengan begitu maka ia menjadi sosok ahli ilmu dan ibadah. Ibarat cahaya yang selalu menerangi dikala gelap telah menyapa. Itulah hakekat sebenarnya pelajar.

Dalam hal ini, keimanan yang pertama kali dia dapatkan dirumah, berarti orang tua wajib hukumnya untuk memberikan bekal yang cukup kepada anak-anaknya. Dengan begitu maka setidaknya ada bekal awalan bagi mereka untuk berinteraksi dengan yang lain. Kemudian ketika berada di sekolah, berarti keiman harus tetap diberikan. Aqidah Islam harus dijadikan sebagai dasar dari pendidikan. Hal ini agar semakin tertanam kuat dalam benak pelajar. Sehingga nantinya tak salah jalan. Kurikulum disekolah juga perlu dibenahi. Utamanya dalam hal agama, perlu jam yang lebih banyak daripada pelajaran yang lain. Jangan malah dikurangi atau dihapuskan. Hal ini akan sangat berdampak. Ditambah harus adanya perlu sinkronisasi antar oring tua, sekolah dan masyarakat. Mengapa demikian? Karena dengan adanya hubungan diantara komponen tersebut maka akan terbentuk pelajar yang bermental sesuai dengan Islam. Ada amar ma’ruf sebagai wujud perhatian.

Komponen yang berikutnya adalah peran negara didalamnya. Hal ini akan membuat semua orang jadi tahu benar aturan yang memang harus dilaksanakan. Dengan adanya peran negara, maka memungkinkan sanksi yang tegas akan diberlakukan. Sehingga tidak akan ada lagi yang mau melakukan hal serupa. Negara juga mampu untuk menerapkan kurikulum yang sesuai dengan Islam. Tentulah ini semua bisa diterapkan jika sistem yang diterapkan sesuai dengan fitrah manusia. Hal itu bisa terwujud hanya dengan menerapkan sistem Islam. Sistem yang berasal dari Sang Pencipta dan tidak memiliki kecacatan sedikitpun. Dengan begitu maka pelajar-pelajar yang ada akan menjadi cahaya bagi umat, yang terus akan bersinar menerangi umat. Agar nantinya umat tidak salah jalan. Semoga sistem tersebut bisa terwujud dan mari bersama-sama untuk memperjuangkannya. Wallahu A’lam. [ ]

Mulyaningsih, S. Pt

Ibu rumah tangga

Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga

Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel





SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!