Monday, July 9, 2018

Dikala Tugas Orang Tua Diambil Alih Oleh Senam Islam Nusantara


Oleh : Kaelani Dewi

( Komunitas Akademi Menulis Kreatif )

Hari ini, segala yang beraroma Islam Nusantara sedang ramai di percakap bincangkan.  Mulai dari Tugu Titik Nol Islam Nusantara, yang diresmikan Presiden Joko Widodo di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara pada 24-25 Maret 2017(https://nasional.kompas.com/read/2017/03/23/20263871/titik.nol.islam.nusantara), hingga Senam Islam Nusantara (SIN) yang diluncurkan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi  dua tahun lalu di Lapangan Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Sudirman Ambarawa, Minggu (25/9/2016).  

Meskipun sudah dua tahun yang lalu diluncurkan, ternyata masih banyak masyarakat yang belum tahu apa itu Senam Islam Nusantara (SIN). Menurut pencipta SIN, Muslih, gerakan senam ini terinspirasi dari gerakan-gerakan salat dan gerakan berwudhu atau bersuci. Sebab gerakan-gerakan salat ternyata memiliki unsur-unsur olahraga yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. "NU harus punya ciri khas dan gerakan-gerakan salat itu ternyata ada unsur olahraganya. Maka itu dikemas, sehingga kita ciptakan Senam Islam Nusantara ini," kata Muslih di sela peluncuran SIN. (https://olahraga.kompas.com/read/2016/09/25/20472401/senam.islam.nusantara.dengan.gerakan.salat.dan.wudu)

Diluar pro dan kontra atas peluncuran senam tersebut, ada satu hal yang menggelitik dalam benak. Kenapa Senam Islam Nusantara ini sampai terlahir hadir. Kenapa gerakan senam tersebut harus mengadopsi gerakan wudhu dan shalat, tak cukupkah gerakan yang sudah ada selama ini.  Tentunya selain untuk menjaga kebugaran tubuh, gerakan senam tersebut diharapkan dapat membantu anak didik dan siapa saja yang melakukan gerakan senam  dapat mengingat gerakan wudhu dan shalat. 

Di dalam Islam, orang tua berkewajiban untuk memperkenalkan anak-anak terhadap Tuhannya, mengajarinya tata cara beribadah, serta berbuat baik terhadap sesamanya. Orang tua wajib berkolaborasi untuk membersamai, menunjukkan, dan menuntun anak menuju syurga.

Allah SWT berfirman:


يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ  نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ  لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ


"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6).


Karena ketidakpahamannya akan tuntunan Islam, banyak orang tua yang dengan serta merta menyerahkan tanggung jawab atas anak-anak mereka kepada sekolah. Bahkan sampai pada urusan akidah dan tata cara ibadah. Sehingga untuk menghafal gerakan wudhu dan sholatpun, peran orang tua cukup digantikan oleh gerakan senam.


Faktor yang tak kalah mengerikan lagi adalah, karena orang tua sibuk bekerja. Bahkan dalam sistem kapitalis, yang segala sesuatunya diukur dengan materi, seorang ibu pun mampu tercerabut dari rumah demi turut menopang ekonomi keluarga. Himpitan ekonomi yang semakin menjepit menjadikan kaum ibu terpaksa atau bahkan dipaksa untuk bergelut dengan dunia kerja. Suami pun terpaksa mengizinkan bahkan ada juga yang mendorongnya untuk ikut-ikutan menafkahi keluarga. Alasannya, tidak cukup kalau hanya suami yang bekerja. Semua hal tersebut adalah sebuah kewajaran, sebab kapitalisme telah secara sistemik memiskinkan keluarga. 

Padahal Allah telah menciptakan wanita dengan fitrahnya sebagai seorang ibu. Di pundaknya terdapat amanah langit, yakni menjadi pengatur atas rumah tangganya dan madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya.  Meski dengan berat hati bahkan ada yang dengan riang gembira, para ibu mengambil keputusan untuk bekerja dengan sederet kesepakatan yang merampas kewajiban utama di rumahnya. Para ibu dengan suka rela berlepas tangan dari tanggung jawabnya merawat serta mendidik anak-anak. Serta mengalihkan dan menyerahkan amanah pengasuhan anak-anaknya kepada orang lain, semisal sekolah, guru, kakek nenek, bahkan pembantu rumah tangga. 

Tak mampu membayangkan, saat kita nanti berdiri di Yaumul Hisab. Di kala Allah bertanya pada kita, “ Siapa yang mengajari anak-anakmu wudhu dan Sholat ?”, dan kita menjawab, “ Guru di sekolahnya, melalui Senam Islam Nusantara.”



Dikala Tugas Orang Tua Diambil Alih Oleh Senam Islam Nusantara

Oleh : Kaelani Dewi

( Komunitas Akademi Menulis Kreatif )

Hari ini, segala yang beraroma Islam Nusantara sedang ramai di percakap bincangkan.  Mulai dari Tugu Titik Nol Islam Nusantara, yang diresmikan Presiden Joko Widodo di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara pada 24-25 Maret 2017(https://nasional.kompas.com/read/2017/03/23/20263871/titik.nol.islam.nusantara), hingga Senam Islam Nusantara (SIN) yang diluncurkan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi  dua tahun lalu di Lapangan Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Sudirman Ambarawa, Minggu (25/9/2016).  

Meskipun sudah dua tahun yang lalu diluncurkan, ternyata masih banyak masyarakat yang belum tahu apa itu Senam Islam Nusantara (SIN). Menurut pencipta SIN, Muslih, gerakan senam ini terinspirasi dari gerakan-gerakan salat dan gerakan berwudhu atau bersuci. Sebab gerakan-gerakan salat ternyata memiliki unsur-unsur olahraga yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. "NU harus punya ciri khas dan gerakan-gerakan salat itu ternyata ada unsur olahraganya. Maka itu dikemas, sehingga kita ciptakan Senam Islam Nusantara ini," kata Muslih di sela peluncuran SIN. (https://olahraga.kompas.com/read/2016/09/25/20472401/senam.islam.nusantara.dengan.gerakan.salat.dan.wudu)

Diluar pro dan kontra atas peluncuran senam tersebut, ada satu hal yang menggelitik dalam benak. Kenapa Senam Islam Nusantara ini sampai terlahir hadir. Kenapa gerakan senam tersebut harus mengadopsi gerakan wudhu dan shalat, tak cukupkah gerakan yang sudah ada selama ini.  Tentunya selain untuk menjaga kebugaran tubuh, gerakan senam tersebut diharapkan dapat membantu anak didik dan siapa saja yang melakukan gerakan senam  dapat mengingat gerakan wudhu dan shalat. 

Di dalam Islam, orang tua berkewajiban untuk memperkenalkan anak-anak terhadap Tuhannya, mengajarinya tata cara beribadah, serta berbuat baik terhadap sesamanya. Orang tua wajib berkolaborasi untuk membersamai, menunjukkan, dan menuntun anak menuju syurga.

Allah SWT berfirman:


يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ  نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ  لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ


"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6).


Karena ketidakpahamannya akan tuntunan Islam, banyak orang tua yang dengan serta merta menyerahkan tanggung jawab atas anak-anak mereka kepada sekolah. Bahkan sampai pada urusan akidah dan tata cara ibadah. Sehingga untuk menghafal gerakan wudhu dan sholatpun, peran orang tua cukup digantikan oleh gerakan senam.


Faktor yang tak kalah mengerikan lagi adalah, karena orang tua sibuk bekerja. Bahkan dalam sistem kapitalis, yang segala sesuatunya diukur dengan materi, seorang ibu pun mampu tercerabut dari rumah demi turut menopang ekonomi keluarga. Himpitan ekonomi yang semakin menjepit menjadikan kaum ibu terpaksa atau bahkan dipaksa untuk bergelut dengan dunia kerja. Suami pun terpaksa mengizinkan bahkan ada juga yang mendorongnya untuk ikut-ikutan menafkahi keluarga. Alasannya, tidak cukup kalau hanya suami yang bekerja. Semua hal tersebut adalah sebuah kewajaran, sebab kapitalisme telah secara sistemik memiskinkan keluarga. 

Padahal Allah telah menciptakan wanita dengan fitrahnya sebagai seorang ibu. Di pundaknya terdapat amanah langit, yakni menjadi pengatur atas rumah tangganya dan madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya.  Meski dengan berat hati bahkan ada yang dengan riang gembira, para ibu mengambil keputusan untuk bekerja dengan sederet kesepakatan yang merampas kewajiban utama di rumahnya. Para ibu dengan suka rela berlepas tangan dari tanggung jawabnya merawat serta mendidik anak-anak. Serta mengalihkan dan menyerahkan amanah pengasuhan anak-anaknya kepada orang lain, semisal sekolah, guru, kakek nenek, bahkan pembantu rumah tangga. 

Tak mampu membayangkan, saat kita nanti berdiri di Yaumul Hisab. Di kala Allah bertanya pada kita, “ Siapa yang mengajari anak-anakmu wudhu dan Sholat ?”, dan kita menjawab, “ Guru di sekolahnya, melalui Senam Islam Nusantara.”

















SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!