Friday, July 20, 2018

Depolitisasi Ulama : Pengkebirian Dakwah Islam


Oleh : Silvi ummu Zahiyan ( Muslimah Peduli Negri, Tinggal di Bogor )

Berlangsungnya Multaqo Ulama yang laksanakan di Hotel Grand Cempaka 06 Juli 2018 pertanda bahwa sesungguhnya ghirah kaum muslimin utamanya para ulama tidak mundur. Tapi justru semangat para ulama tak mengenal sekat dan batas waktu.  Seperti diketahui, Multaqo ini merupakan Forum Ilmiah Internasional kelima ulama dan dai se-Asia Tenggara, Afrika dan Eropa dengan tema Bersatulah. Forum tersebut merupakan kerja sama antara Yayasan Al-Manara dan Pemerintah Jakarta. Adapun yang hadir dai, ulama, peneliti, aktivis, dan tokoh masyarakat. 

Adapun forum ini menghasilkan sebanyak 10 poin rekomendasi di antaranya menekankan pentingnya hidup berdampingan secara damai antara muslim dan nonmuslim, berpegang kepada Alquran dan Sunnah dengan pemahaman komprehensif terintegrasi kaidah ilmiah dan praktis, membangun kemitraan antara lembaga dakwah, pemerintah, pendidikan dan swasta. Lebih lanjut, meningkatkan peran dan kontribusi lembaga dakwah terhadap sumber daya manusia, memperkuat posisi keluarga sebagai institusi dan pondasi dasar bermasyarakat, mendorong dai dan ulama memanfaatkan teknologi informasi Selain itu,  menjadi menciptakan perdamaian melalui dakwah dan pendidikan, menghargai semua perbedaan seperti etnis, sosial, dan budaya, memperkuat kedudukan Jakarta sebagai pusat peradaban berbasis pendidikan Islam, serta membentuk panitia khusus untuk merealisasikan seluruh keputusan forum Multaqo ini melibatkan semua unsur-unsur terkait (bisnis.Com 06/07/2018).

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menutup acara Multaqo Pertemuan ulama dan dai se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa yang telah berjalan selama 4 hari di Jakarta. Dia mengapresiasi penyelenggaraan Multaqo yang berjalan dengan lancar, serta antusiasme sebanyak 600 peserta yang terdiri dari para ulama dan dai internasional. "Multaqo kali ini ketika dibuka, kursi penuh semua hadir, ketika ditutup pun peserta bertahan merasakan hal yang sama. Ini menandakan betapa pertemuan di tempat ini merupakan  ini pertalian kasih sayang di antara kita yang hadir dari seluruh dunia  (bisnis.Com 06/07/2018).

Sayangnya ketika semua ini dalam sudut pandang kacamata demokrasi, niscaya poin-poin butir kesepakatan yang dihasilkan akan sulit dicapai. Kita ambil contoh saja, salah satu poin yang pertama yang berisi tentang perdamaian sesama saling hidup berdampingan antara muslim dan non muslim berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunah. Namun berbagai realita fakta dunia membuktikan bahwasanya justru kaum muslimin minoritas di berbagai negara diperlakukan dengan zalim. Jeritan nyawa tak berdosa tak mampu menghentikan tangan-tangan besi pelaku kedzoliman yang dilakukan oleh penguasa. Sebut saja muslim Ughyur di Cina, Muslim Rohingnya di Myanmar dan di berbagai wilayah lainya.

Sebaliknya di negeri yang mayoritas muslim pun kaum muslimin dibuat tak berdaya dengan apa yang mereka miliki. Umat Islam sendiri seolah tak mengenal Islam lagi hingga sampai pada taraf menjual keimanan kepada cukong-cukong penghamba demokrasi.

Bahkan hal ini juga yang melanda para ulama kita. Hingga membawa kepada dakwah tak lagi menyampaikan apa yang seharusnya di sampaikan tapi justru sebaliknya. Menyampaikan apa yang dipesankan oleh para penguasa. Karna ulama tak lagi diperbolehkan untuk berpolitik tapi cukup hanya menyampaikan hal-hal yang kaitanya bersifat Ibadah mahdoh saja. Terbukti dengan berbagai persekusi yang dilakukan oleh penguasa baik secara langsung atau tidak langsung.

Padahal sejatinya ulama itu pewaris Nabi yang menyampaikan ilmu kepada kita. Menyampaikan kebenaran Islam tanpa ditambahi dan dikurangi. Ulama itu ibarat lampu yg menerangi bumi. Menunjukkan manusia ke jalan yang benar. Semestinya ulama itu dimuliakan, didengar nasehatnya oleh umat maupun penguasa. Agar damai dan tentram karena syariat diterapkan. Bukan seperti sekarang ini, ulama dianiaya, disiksa bahkan dibunuh dan ini hanya terjadi pada era demokrasi sekarang ini.  Ulama dan dakwah Islam tak bisa dipisahkan. Menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah kepada kemunkaran. Termasuk menyeru kepada penguasa terhadap berbagai kebijakan zalim yang diterapkan. 

Dalam hal ini jelas berdampak kepada kehidupan masyarakat, begitupun para ulama. Perbedaan sikap yang tidak adil dalam mensikapi penganiayaan ulama dan perusakan masjid. Maupun penganiayaan pendeta dan perusakan gereja sangat mencolok ditampakan. Jikalau yang menimpa ulama itu pelakunya dikatakan orang gila dan tindak kriminal biasa. Sedangkan yang menimpa pendeta dan gereja dikatakan pelakunya teroris.

Dakwah Islam juga tidak bisa dipisahkan dengan aktifitas politik. Karena Islam sesungguhnya adalah rahmat Lil alamiin. Mengatur seluruh lini kehidupan masyarakat. Segala bentuk kezaliman yang dilakukan oleh penguasa harus diluruskan oleh umat Islam. Tentunya hal ini tidak bisa dipisahkan juga peran dari Ulama. Ulama menjadi garda terdepan dalam dakwah Islam menyampaikan Islam kafah.Tentunya dengan berbagai resiko seperti penganiayaan, persekusi, teror bahkan membunuh ulama sebagai bentuk tekanan kepada ulama dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Penganiayaan ulama ini merupakan teror agar ulama takut menyampaikan amar ma’ruf nahi mungkar, agar ulama diam terhadap kemungkaran.

Berbeda ketika sistem Islam diterapkan,  pemimpin negara (Khalifah) menjadi pelindung ulama dan didengar nasehatnya dalam menggambil kebijakan. Seperti dalam hadits Nabi “innamal imamu junnah” sesungguhnya seorang imam (khalifah) adalah perisai..Umat Islam dan ulama butuh Khilafah. Umat Islam harus membela, melindungi dan marah jika ulamanya diperlukan seperti itu, kalau tidak ingin dikatakan sebagai himar (keledai) sebagaimana maqalahnya imam As Syafi’i. Teror terhadap ulama ini harus segera dihentikan dan diselesaikan aparat pastinya.

Maka, Ulama tidak boleh takut menyampaikan kebenaran, menyampaikan syariah dan khilafah.Umat Islam wajib melindungi ulamanya. Aparat wajib melindungi ulama dan masjid.Ulama kita butuh pelindung yang sejati yaitu seorang khalifah.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!