Friday, July 20, 2018

Bensin Naik, Bu


Oleh : Yuliyati Sambas

Member Akademi Menulis Kreatif



Siang hari yang panas, debu banyak beterbangan mengiringi setiap langkah kaki pengguna jalan, deru motor dan mobil sesekali melintas di jalan komplek tidak mengurangi riangnya anak-anak bermain menghabiskan masa liburan yang hanya tinggal beberapa hari lagi.


Begitupun dengan tiga mujahidah kecilku Aisyah, Fathimah, dan Nusaibah siang yang terik tetap merasa senang dan riang bermain dengan teman-temannya di teras pelataran rumah salah satu tetangga kami.


"Bun, ada kereta lewat... Dede pengen naik, kakak sama teteh juga ya Bun?" Dari kejauhan Teteh Aisyah berlari sambil meminta ijin untuk bisa naik kereta anak yang biasa lewat dan muter di sekitar komplek.


"Iya boleh... Tapi janji dedenya duduk di tengah dijagain ya sama kakak dan teteh." Aku memberi syarat kepada kakak-kakaknya.


Kubekali uang sepuluh ribu kepada anak sulungku "Nanti uang kembaliannya yang seribu kembaliin lagi ke bunda ya." Di zaman sekarang para ibu harus benar-benar ekstra cerdas mensiasati uang belanja yang diamanahkan oleh suami agar bisa cukup untuk kebutuhan keluarga selama sebulan. Uang recehan _gope_ atau seribuan sekalipun harus benar-benar dihitung dengan cermat penggunaannya.


Setengah jam berlalu, dari jauh lamat-lamat terdengar lagu _super hero_ nya Romaria yang lagi ngehits di kalangan anak-anak.


"Bunda uangnya kurang." Kali ini si kakak yang mendekatiku.


"Lho tadi kan bunda kasih sepuluh ribu ke Teh Aisyah, tiga ribu kali tiga orang teteh, kakak, dede jadi sembilan ribu. Harusnya masih ada kembalian seribu Kak." Aku hawatir kejadian beberapa hari lalu dimana ketika si kakak disuruh membeli terigu dan merica ke warung ternyata uangnya jatuh sebagian di tengah jalan, dan didapati kresek wadah terigu dan merica digabung sama uang kembaliannya sobek.


"Kata 'mangnya uangnya kurang lima ribu Bun."


Kudekati kereta yang masih berhenti di depan gerbang rumah dan menghampiri 'mang pengemudinya.


"Mang uangnya kan sepuruh ribu."


"Iya Bu, sekarang harganya naik jadi lima ribu per orang. Jadi ibu kurang lima ribu lagi." Jelas si 'mang.


"Oooh pantesan. Kok naiknya sampe dua ribu sih Mang. Itu sih bukannya naik, tapi ganti harga" Jawabku.


"Sekarang BBM naik Bu, jadi ya mau ngga mau saya juga naikkin harga. Kan keretanya butuh bensin Bu." Jelasnya.


"Yang naik kan pertamax aja. Memangnya 'mang pake pertamax?"


"Ngga sih bu, saya pakenya pertalit atau kadang premium. Tapi biarpun mereka ga ikut naik, istri saya di rumah minta uang belanjanya dilebihin dari biasanya Bu. Pokoknya kalau BBM naik pasti harga-harga kebutuhan yang lain juga pada naik Bu."


"Iya ya Mang, katanya negeri kita _teh_ kaya tapi bensin saja minyak mentahnya _kudu_ impor dari luar. Jadi _aja_ harganya harus _ngikut-ngikut_ harga minyak dunia."


Aku kasih uang lima ribu dan kugamit lengan bungsuku untuk kuajak masuk ke rumah.


❄❄❄


Islam memandang bahwa segala hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak tidak bisa dikuasakan kepada perorangan atau perusahaan swasta. Ia harus dijadikan sebagai _almilkiyah aammah_ (kepemilikan bersama) dimana pengelolaannya dilakukan oleh negara yang amanah untuk kemudian hasilnya diberikan secara utuh bagi kesejahteraan masyarakat luas. Kekayaan bahan tambang adalah salah satunya.


Maka jika kini pada kenyataannya, barang tambang _wa bil khusus_ minyak mentah di bumi pertiwi diserah kelolakan oleh pemerintah kepada sepuluh perusahaan besar dunia lebih tepatnya 8 perusahaan asing, 1 perusahaan lokal, dan terakhir untuk pertamina yang merupakan Badan Usaha Milik Negara. Yang terjadi adalah meski kekayaan alam melimpah tapi pada kenyataannya minyak mentah tetap impor dan masyarakat yang semestinya menjadi pemilik sah harus legowo dengan kebijakan sesat dari para pemegang kendali negeri, dan hanya bisa gigit jari, menjerit demi makin tak terjangkaunya segala kebutuhan hidup.


❄❄❄


Solusi terbaik adalah kembali pada aturan Allah SWT yang sempurna sehingga kesejahteraan, keberkahan di dunia bahkan hingga akhirat akan dapat diraih. Dan yang terpenting Allah sebagai pemilik alam jagat raya akan ridha dengan diterapkannya aturanNya yang sempurna di muka bumi ini.

 _Wallahu a'lam bishawab_


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!