Friday, July 20, 2018

Benarkah Islam Moderat Menebar Keadilan?


Oleh: Tri S, S.Si

Islam moderat atau sering disebut dengan Islam wasathiyah, gencar dilemparkan ke publik, menunjuk pada Islam yang baik, yang benar, sebagai “Rahmatan lil ‘Alamin”. Sebut saja Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifuddin, dalam rakornas MUI di Bogor tanggal 28 November 2017 mengatakan “muslim wasathi atau muslim moderat adalah muslim yang mampu memberikan ruang bagi yang lain untuk berbeda pendapat, menghargai pilihan keyakinan dan pandangan hidup seseorang”. Dalam acara yang sama KH Makruf Amin mengatakan “Islam wasathi adalah Islam yang cara pandangnya moderat, tidak tekstual, tidak liberal, gerakan-gerakannya juga moderat, santun, tidak galak, toleran, tidak egois, tidak memaksa, semua dikerjakan sesuai dengan konstitusi dan sesuai dengan mekanisme kehidupan masyarakat Indonesia dalam berbangsa”. (antara news.com,18/12/2017). 

Kedua pendapat tersebut diatas mengandung ide yang sulit dibuktikan dalam realitas. Islam seperti apa yang tidak tekstual, namun tidak liberal? Padahal sudah nyata bahwa ajaran Islam digali dari nash Al-Qur’an, As Sunnah dan ijma’ shahabat. Pernyataan bahwa Islam moderat menghargai pilihan keyakinan dan pandangan hidup seseorang akan semakin menyuburkan faham pluralisme. Setiap orang bebas untuk berkeyakinan agama, bahkan boleh tidak menganut agama apapun, yang penting mengakui sebagai penganut kepercayaan. Ajaran Islam pun tidak luput dari penafsiran pihak-pihak yang lemah dari sisi pemahaman Islam, bahkan orang kafir pun merasa berhak untuk menafsirkan Islam sebagaimana kasus penodaan al Qur’an surat al Maidah. Istilah kafir yang sudah jelas maknanya dalam al-Qur’an (Surat al Kafirun) juga kembali diperdebatkan, bahkan digadang gadang lebih tepat diganti dengan sebutan non muslim. Bagaimana mungkin orang kafir dikatakan lebih layak untuk memimpin? Padahal dengan tegas al-Quran menyatakan dalam surat al-‘Ashr bahwa iman merupakan dasar seseorang termasuk rugi atau beruntung. Mayoritas para mufassir menafsirkan kata wasath tersebut dengan al-‘adl (adil) dan atau al-khiyar (terbaik dan pilihan). Ringkasnya ummat[an] wasath[an] adalah umat yang adil dan pilihan. Sikap wasath bukanlah sikap moderat, kompromistis dan selalu mengedepankan jalan tengah, sebagaimana yang banyak dilontarkan oleh tokoh-tokoh termasuk mentri agama. Jadi, mengartikan Islam moderat sebagai Islam wasathiyah, sejatinya menjauhkan makna dari yang ditunjukkan al-Qur’an. Karenanya Islam moderat tidak layak dijadikan rujukan. 

Demikian juga jargon Islam moderat sebagai pembela keadilan nyatanya hanya klaim semata. Sekalipun diklaim menjunjung tinggi keadilan, jalan moderat yang ditempuh lewat kompromi dan kesepakatan tetap saja memunculkan pihak yang dimenangkan dan pihak yang dirugikan. Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan para pemimpin muslim dengan menerima keputusan dua negara, Israel dan Palestina (sesuai keputusan Oslo 1993) sebagai solusi masalah Palestina, keputusan ini dianggap paling tepat demi perdamaian dunia. Solusi dua negara masih pilihan terbaik. Ini sebagaimana juga dikatakan sekjen PBB Antonio Gutteres. Yaitu dua negara merdeka -Palestina dan Israel- yang hidup berdampingan secara damai. Negara Palestina merdeka berada pada batas-batas sebelum Perang 1967, yakni Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/17/02/20/olmgii319-palestina-diantara-solusi-dua-negara-dan -satu-negara. 

Pernyataan ini tidak saja menyakiti umat Islam, namun kian memastikan bahwa jalan moderat dan kompromi tidak akan mewujudkan kemerdekaan Palestina sebagaimana dijanjikan pada perjanjian Oslo. Berdamai dengan perampas negeri muslim bukan sekedar menunjukkan sikap lemah namun  juga berarti pengkhianatan terhadap darah para syuhada yang telah gagah berani mempertahankan kemuliaan tanah yang diberkahi ini. Jadi, berharap Islam moderat akan melahirkan keadilan dan solusi bagi permasalahan adalah harapan kosong yang mustahil terwujud. 

Telah terlihat  dengan jelas bahwa Islam Moderat sesungguhnya adalah pemahaman yang tidak datang dari Islam dan tidak dikenal dalam Islam. Pemahaman ini justru berkembang pasca diruntuhkannya institusi penerap Islam Kaffah yang mendapat dukungan dari negara-negara Barat. Tujuannya tidak lain agar nilai-nilai dan praktek Islam khususnya yang berhubungan dengan politik Islam dan berbagai hukum-hukum Islam lainnya dapat dieliminasi dari kaum muslim dan diganti dengan pemikiran dan budaya barat. Strategi penghancuran ini dibangun dengan dasar falsafah “devide et impera” atau politik pecah-belah. Karenanya wajib bagi kita untuk memahami lebih jauh bahaya ide Islam Moderat ini, menolaknya dan membuang jauh-jauh dari benak kaum muslimin. 

Setidaknya ada enam bahaya ide Islam Moderat yang harus dicermati dan dipahami oleh umat Islam: Pertama, Istilah Islam Moderat adalah cara yang digunakan Barat untuk membendung tegaknya Islam, memecah-belah dunia Islam dan melanggengkan penjajahan Barat atas dunia Islam. Siapa saja yang mau menerima dan mengakomodasi kepentingan penjajahan Barat akan disebut Muslim moderat. Sementara siapa saja yang bertentangan dengan hal itu akan disebut Muslim radikal dan teroris. Kedua, Meracuni Aqidah Umat. Ide Islam moderat pada dasarnya adalah bagian dari rangkaian proses sekulerisasi pemikiran Islam ke tengah-tengah umat, yang diberi warna baru. Ide ini menyerukan untuk membangun Islam inklusif yang bersifat terbuka dan toleran terhadap ajaran agama lain dan budaya. Ketiga, me’deideologisasi’ Islam, yaitu menjauhkan umat dari pemahaman Islam sebagai idiologi yang tidak hanya merupakan ajaran ritual, namun juga memancarkan berbagai aturan hidup disertai dengan thariqah penerapannya. Menjauhkan Islam idiologis berarti memandulkan Islam, karena hukum-hukum Islam hanya menjadi konsep yang tidak bisa diterapkan. Umat juga dibuat ragu dengan kebenaran Islam sebagai satu-satunya solusi bagi seluruh permasalahan umat. Keempat, Menghancurkan Syari’ah Islam. Sesungguhnya nampak jelas bahwa gagasan Islam Moderat ini mengabaikan sebagian dari ajaran Islam yang bersifat qath’i baik dari sisi redaksi (dalalah) maupun sumbernya(tsubut). Kelima, Menyusupkan Paham Pluralisme yang Memandang Semua Agama Benar. Hal ini karena Islam Moderat bersumber pada kaidah “qabulul akhar”, menerima yang lain secara terbuka dan tidak mengklaim kebenaran diri sendiri. Menganggap perbedaan adalah hal lumrah tetapi berusaha mengajak atas perbedaan-perbedaan tersebut untuk bahu-membahu, serta bersama-sama membangun peradaban dunia yang lebih baik. Namun ketika menerima perbedaan itu disertai dengan menerima kebenaran agama atau kepercayaan lain, yakni tidak menganggap salah aqidah mereka seperti yang dituntut oleh ide Qabulul Akhar, maka hal ini adalah manifestasi dari pluralisme yang haram bagi kaum muslimin. Dari sinilah kita mendapati penganut Islam moderat memberlakukan toleransi melampaui batas yang telah digariskan oleh Islam. Bahkan murtadnya seseorang ataupun menjadi atheis dianggap sebagai hak seseorang. Keenam, Islam Moderat digunakan untuk menghadang upaya penegakan instneritusi penerap Islam kaffah. Oleh karena itu, tegaknya kembali institusi penerap Islam Kaffah harus dicegah dengan segala cara. Salah satunya dengan menggunakan politik belah bambu. Umat Islam yang mendukung mereka diangkat, dipuji-puji dan dijuluki muslim Moderat, sedang yang bertentangan harus ditekan habis. Walhasil ide Islam Moderat ini telah mengaburkan identitas individu muslim yang hakiki. Jelas-jelas mengacaukan pikiran, memandulkan perasaan serta merubuhkan tatanan kehidupan masyarakat. Terbukti mengaborsi cikal bakal persatuan hakiki umat, lebih jauh lagi menghadang tegaknya institusi penerap Islam Kaffah. [Tri S.]

*(Penulis adalah pemerhati perempuan dan generasi)













SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!