Thursday, July 26, 2018

Bagai Menanti Godot


Oleh Rismayanti, S.Pt. 

(Praktisi Pendidikan, tinggal di Kabupaten Bandung)

Waiting for godot adalah naskah klasik karya Samuel Beckett. Sebuah kisah yang menggambarkan harapan yang tidak kunjung berakhir. Dalam drama ini, para tokoh dihadapkan dengan persoalan menunggu kedatangan Godot.


Tidak jelas sosok Godot tersebut apakah Tuhan, hewan, benda atau yang lainnya. Mereka menghabiskan waktu dan usia bahkan terus memperdebatkan kapan Godot akan datang. Mereka berharap Godot segera datang.


Namun, penantian mereka sia-sia karena hingga akhir drama pun dikisahkan bahwa godot tak pernah muncul.


Walau hanya sebuah drama, tetapi kondisi yang kita alami bisa saja seperti tokoh dalam drama tersebut. 

Di bawah sistem kapitalis-sekuler, sudah lama bangsa ini menunggu datangnya kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan. Kita menggantungkan seluruh harapan kita pada wakil rakyat yang kita pilih. Menunggu perubahan dan harapan akan masa depan yang lebih baik. 


Sayang seribu sayang, faktanya perubahan tersebut tak kunjung datang. Sementara masa membeku sepanjang waktu. 


Akhirnya kita bagaikan terpenjara oleh harapan semu, yang diciptakan oleh kita sendiri. Sebuah kesia-siaan karena telah mempercayai sistem ini,  seolah sistem ini adalah sistem yang terbaik. 


Pada akhirnya rakyat dibuat terus menunggu dan menunggu. Menunggu kebaikan yang dijanjikan demokrasi. Namun, kesejahteraan tak kunjung datang, keadilan hanya untuk segelintir orang. Maka sepertinya benar adanya bahwa menunggu kebaikan pada demokrasi sama hal dengan menunggu Godot datang. 


Sebagai seorang muslim tentulah harus punya harapan. Namun, harapan itu hanya digantungkan pada Allah subhanahu wata’ala. 

Demokrasi ibarat Godot, yang kita nantikan sepanjang hidup demi mendapatkan sebuah kata sejahtera, tapi sepertinya tidak akan pernah terwujud. 


Rakyat akan sejahtera jika kita beriman dan bertakwa. Langkahnya diwujudkan dengan menerapkan seluruh aturan yyang sempurna dari Sang Pencipta jagat raya.


Aturan itu diterapkan bukan oleh sembarang sistem, tapi sistem yang sudah disiapkan Allah swt., disertai pemimpin amanah yang hanya takut pada Allah swt. Sistem pemerintahan itu adalah khilafah. Sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah dan khulafaur rasyidin selama lebih dari 13 abad lamanya. Hidup sejahtera secara paripurna. 

QS 7. Al A'raaf:96 


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلأَْرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَـٰهُمْ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ 


"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. "


Wallahu’alam bishowab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!