Monday, July 30, 2018

Aturan Islam Perihal Pakaian Muslimah


Oleh: Tri S.S,Si*

Dengan adanya serangan gencar dari Barat, kaum Muslimah yang telah menjadi korban konsep kebebasan individu Barat akan meniru gaya berpakaian ala Barat . sekarang ini sudah bukan barang aneh lagi melihat gadis-gadis Muslimah yang menjalani kehidupan ganda. Di depan orangtua dan di rumah, mereka menjalani hidup yang sesuai dengan tuntunan budayanya, tapi giliran di sekolah, kampus, atau tempat kerja, mereka menanggalkan identitas khasnya itu dan mengasosiasikan dirinya dengan konsep, nilai, dan gaya berpakaian ala Barat. Mereka ini adalah korban dari perbuatannya sendiri karena gagal mengikatkan dirinya kepada satu perangkat nilai-nilai dan hidup berdasarkan nilai-nilai khasnya itu. Muslimah yang sudah “ter-Baratkan” itu tidak merasa berdosa dengan tidak mengenakan khimar dan jilbab. Mereka malah menganggap khimar dan jilbab menghambat kehidupannya dan prospek karirnya di masa depan. Dengan menjalani profesi sebagai pengacara, dokter, ilmuwan, atau bahkan sekretaris, para Muslimah itu merasa harus berpenampilan seperti ‘citra wanita muda profesional’, dan di dalam benaknya ada pikiran bahwa mengenakan pakaian Islami tidak akan membuatnya ‘fit in’ (menyesuaikan diri dengan lingkungan). Para Muslimah yang sama juga memandang aspek lain dari Islam berdasarkan perspektif ini. 

Sekarang ini sudah lumrah bagi Muslimah pengejar karir untuk menunda pernikahan, karena pernikahan dianggap dapat menghambat cita-cita dan masa depannya. Pandangan mereka tentang kedudukan ibu dan isteri juga dipengaruhi perspektif Barat. Karena itu Muslimah seperti mereka terus menerus dipaksa untuk mengkompromikan nilai-niai Islami seperti kebersahajaan, kesucian dan rasa malu, demi meraih nilai-nilai khas Barat, yaitu ketidaksenonohan dan  kesia-siaan.

Terkait dengan pakaian perempuan di kehidupan publik, Allah Swt mewajibkan perempuan mengenakan jilbab yang menutupi pakaian (rumahnya) dan menjuntai kebawah hingga menutupi kakinya. Seorang perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa mengenakan jilbab. Jika ia pergi tanpa jilbab yang menutupi pakaian rumahnya, ia dianggap berdosa, karena telah melanggar kewajiban yang ditetapkan Allah Swt. Untuk bagian atas, ia harus mengenakan khimar (penutup kepala) atau yang serupa dengannya, yang menutupi seluruh kepala, dan belahan pakaian di bagian dada. Jika sudah mengenakan dua jenis pakaian ini, ia baru boleh keluar rumah. Jika tidak mengenakan keduanya, atau salah satunya, ia tidak boleh keluar sama sekali. Allah Swt berfirman: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya,kecuali kepada suami mereka.” (TQS. An-Nur[24]: 31)  Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka” (TQS. Al-Ahzab[33]: 59)

Di dalam kehidupan privatnya, seorang Muslimah dibolehkan menampakkan perhiasannya kepada suaminya. Suami adalah orang yang berhak melihat isterinya dan menikmati kecantikan sang isteri, sedangkan lelaki asing tidak berhak. Seoarang  muslimah juga boleh memperlihatkan perhiasannya dan mengenakan pakaian rumah dalam batas-batas yang diperbolehkan syari’at di hadapan laki-laki yang menjadi mahramnya. 

Inilah panduan berpakaian ala Islam, dan inilah hukum Allah Swt yang tidak membutuhkan jastifikasi di hadapan serangan intelektual Barat. Hukum Allah Swt tak lain adalah hukum-hukum yang harus ditaati yang mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan bukanlah hawa nafsunya, melainkan aturan syari’at.

Adalah suatu kehormatan bagi seorang Muslimah untuk menaati ketentuan Sang Pencipta dan mengikuti tata cara berpakaian yang Islami. Ia tidak boleh mengadopsi gaya berpakaian ala Barat atau Timur dalam kehidupan privat atau publiknya. Islamlah yang harus menjadi standart perbuatan seorang Muslimah, bukan Budaya Barat. Yang menjadi teladan kita adalah para shahabiyat, yang ketika dihadapkan pada hukum menutup aurat, mereka serta merta menerapkan perintah Sang Khaliq itu. 

Dengan Islam sebagai sumber rujukan yang melekat di dalam kepalanya, terlepas dari tekanan atau realitas yang ada, serang Muslimah akan mampu mempertahankan identitas ke-Islamannya dan sumber rujukannya, serta merasa terhormat dengan identitasnya sebagai Muslimah di dalam kehidupan publik. [Tri S.]

*(Penulis adalah pemerhati perempuan dan generasi)



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!