Sunday, July 29, 2018

Artis Jadi Politisi, Solusi Atau Adu Gengsi?


Oleh: Vivi Nurwida (Member Akademi Menulis Kreatif)


     "Kesempatan tidak datang dua kali", peribahasa tersebut atau yang sering kita dengar dengan istilah "aji mumpung", rasa-rasanya cocok untuk menggambarkan fenomena artis yang berbondong-bondong terjun ke panggung politik dengan bermodal ketampanan/kecantikan, popularitas dan fans yang bejibun yang mereka punya,  tanpa pemahaman yang benar tentang politik itu sendiri mereka mendaftarkan diri untuk menjadi wakil rakyat.

     "Tercatat sekira 54 artis akan berpartisipasi sebagai bakal calon legislatif pada Pemilu Legislatif 2019. Partai Nasdem menyumbang 27 orang artis, diikuti PDI Perjuangan sekira 13 orang, PKB sebanyak 7 orang, dan sisanya dari partai-partai lain". (Antaranews.com)

     "Banyaknya artis yang maju jadi caleg tergambarkan saat sejumlah parpol mendaftarkan nama-nama bakal caleg Pemilu 2019 di gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Selasa (17/7)". (Pontianak.tribunnews.com)

     Melihat fenomena partai politik yang berbondong-bondong mengusung para artis yang sama sekali tidak  kompeten di dunia perpolitikan ini seharusnya membuat masyarakat berfikir, apakah bisa seorang artis yang biasa menghibur khalayak dengan berbagai aktivitas di dunia entertaiment sanggup mengemban amanah menjadi wakil rakyat? Ataukah ini hanya upaya yang dilakukan partai politik untuk mendulang suara yang banyak dengan menggandeng artis-artis kenamaan ibu kota??

     Di dalam sistem perpolitikan demokrasi siapapun bisa maju ke dalam kancah perpolitikan, termasuk para artis. Mereka (para artis) ini beranggapan bahwa dirinya mampu mengemban amanah untuk menjadi wakil rakyat dengan menyalurkan ide-ide yang membangun ketika terpilih nanti. Bermodal pandangan seperti itu tanpa mengetahui hakikat politik yang benar mereka ingin menggeluti dunia baru yang awam baginya. Mereka menggunakan partai politik sebagai kendaraan politiknya. Wakil partai itulah yang lebih tepat disematkan pada mereka yang pada akhirnya nanti tidak akan berpihak kepada rakyat, tapi berjuang untuk kepentingan partai. Karena wakil rakyat tersebut sebelum nya telah difasilitasi oleh partai agar bisa melenggang ke kursi pemerintahan. Dan ketika sudah menduduki kursi tersebut, saatnya membalas jasa kepada partai politik. Jadi pandangan mereka bahwa mereka akan bisa memberi ide-ide segar dalam dunia perpolitikan tidak akan terjadi ketika tidak sesuai dengan yang dikehendaki partai. Terlebih lagi ini hanyalah strategi partai untuk meraup suara dengan menggandeng publik figur, dengan meraup suara yang banyak dengan menampilkan sosok-sosok selebritas ternama, partai akan dengan mudah melenggangkan kepentingannya.

    Lain halnya dalam kancah perpolitikan Islam, orang-orang yang terjun di dalamnya adalah orang-orang yang benar-benar mengerti Islam, paham betul bagaimana meriayah urusan umat sesuai dengan hukum syara', bukan sekedar tampil tanpa ada kemampuan di dalamnya, terlebih lagi terjadi di sistem yang salah. Politik sendiri adalah bagian penting dari Islam, periayaahan urusan umat yang benar dan bagaimana hukum syara yang lain bisa ditegakkan hanya dengan sistem Islam, bukan yang lain.

    Jadi, terjunnya para artis ke panggung politik tidak akan memberi solusi, karena politik bukanlah ajang coba-coba atau adu gengsi semata. Solusi terbaik hanyalah kembali kepada sistem Islam. Wallahu' a'lam bi ash-shawab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!