Wednesday, July 11, 2018

Aplikasi Tik Tok, Satu dari Seribu Jebakan Gadget  


Oleh: Sumirah, M.Si

(Ibu pemerhati masalah umat)


Perbincangan remaja pengguna aplikasi Tik Tok di media sosial jadi sorotan. Salah satunya unggahan Yunu Rusmini. Dalam unggahan tersebut terdapat foto status dari seorang ayah yang mengatakan bahwa anaknya rela mencuri uang sebesar Rp500 ribu untuk menghadiri acara jumpa penggemar (meet and greet) dengan Bowo, salah seorang selebritas Tik Tok. Kemudian ada pula unggahan status seorang remaja yang mengatakan ingin membuat agama baru dengan menjadikan idolanya sebagai Tuhan mereka. Ada lagi seorang fans yang dengan bangganya upload foto dan mengatakan tak segan menjual ginjal demi bertemu artis idolanya.  Ada juga seorang ABG yang tanpa sungkan-sungkan menulis rela pecah keperawanan asalkan yang melakukan adalah sang idola. Na’udzubillaah.

Itulah sekelumit cerita tentang aplikasi Tik Tok. Aplikasi-aplikasi semacam ini pasti jumlahnya banyak di dunia maya. Memang perkembangan teknologi terutama teknologi gadget telah maju pesat dan penggunanya pun sangat banyak sekali, tidak hanya para orang tua tetapi kaum muda bahkan anak-anak seusia 2 tahun pun sudah dikasih gadget. Telah banyak juga fakta bahwa gadget ini memberikan efek negatif. Lihatlah kasus aplikasi Tik Tok tadi, bahwa pengguna Tik Tok yang mampu mencari dukungan popularitas sampai fans-nya sudah tidak lagi memerhatikan norma, menghalalkan segala cara hanya untuk bisa bertamu fans mereka, sampai kepada kebebasan yang membahayakan aqidah mereka. Inikah anak muda sekarang? Mau dikemanakan generasi muda sekarang jika mereka menjadi generasi Alay?


Bukan hanya kasus Tik Tok yang membuat kita sebagai orangtua miris. Bulan Januari kita mendapatkan berita adanya siswa Bondowoso yang gila karena gadget, terjadi juga dengan bocah kelas 6 SD yang tinggal di Blimbing, Kota Malang, bocah tersebut kecanduan gadget, berteriak sekencang-kencangnya ketika gadget tersebut diambil orangtuanya, bahkan buku LKS dirobeknya dan baru menghentikan perilakunya setelah diberi gadget. Perubahan sikap tersebut dialami sejak sering bermain gadget. ”Hal yang menimpa bocah ini (Royhan) karena kecanduan gadget. Sejak berusia dua tahun, dia sudah bermain gadget,” ujar Daniel Sember, konsultan psikologi yang mengobati Royhan di Biro Konsultasi Psikologi, Psychosense Training and Consulting Malang, kemarin (23/1).  (https://www.radarmalang.id/karena-gadget -gila-hingga-sayat-nadi/)

Di pusat rehabilitasi pecandu gadget juga banyak ditemukan pasien yang sama, bahkan anak SMP yang sampai ingin bunuh diri dengan menyayat nadinya. Menurut Dokter Dewi Prisca Sembiring, Poli jiwa RSUD Dokter Koesnadi, Bondowoso Jawa Timur penggunaan gadget menyebabkan gangguan jiwa karena menyebabkan pengecilan pada otak yang seharusnya mampu membedakan mana yang benar dan salah. Sementara otak yang menginginkan kemauan agar dituruti membesar. Padahal normalnya tidak demikian, terlebih dengan usia 15 tahun dan 17 tahun seharusnya sudah memahami apa itu yang benar dan salah. 


Adalagi masalah pornografi yang begitu mudahnya didapatkan dari gadget ini. Menurut Dr Mark, B. Kastlemaan, pakar adiksi pornografi dari USA, pornografi dapat menyebabkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama pada Pre Frontal Corteks (bagian otak yang tepat berada di belakang dahi). Sedangkan kecanduan narkoba menyebabkan kerusakan pada tiga bagian otak.


Jika kita lihat gadget memang menjadi kebutuhan kondisi saat ini. Beragam aplikasi yang bisa kita pakai, mulai dari telp, sms, wa, peta, medsos, ojek online, alarm pengingat, sampai kepada aplikasi hiburan berupa music, game bahkan belanja pun saat ini bisa lewat gadget. Gadget memang seperti pedang bermata dua. Jika bisa menggunakannya dengan bijak maka kita akan memperoleh manfaat, tetapi jika tidak bisa menggunakannya maka mudarat yang didapat.


Istilahnya gadget dengan fasilitas internet seperti dunia luar yang terbuka hanya dengan sebuah layar. Bisa berselancar kemanapun dengan layar kecil itu. Terbayang kan jika seorang anak kecil atau anak-anak yang belum tahu hal mana yang benar mana yang salah menggunakan gadget. Bisa salah melangkah dan fatal akibatnya.


Bagaimana Islam memandang gadget?

Gadget adalah suatu benda/barang hasil teknologi. Islam memandang bahwa gadget adalah sesuatu yang mubah atau boleh selama masih dalam bentuk yang umum atau normal tanpa dipengaruhi oleh suatu ideologi. Untuk gadget dengan aplikasi-aplikasi tertentu yang menghantarkan pada kelalaian atau bahkan membawa pada kerusakan aqidah seperti pada kasus aplikasi Tik Tok diatas maka aplikasinya ini yang dilarang bukan gadgetnya, karena gadget hanyalah sebuah benda.


Sebagai orangtua yang peduli dengan generasi muda, seharusnya ada rambu-rambu ketika memberikan gadget kepada anak. Menurut Abah Ihsan, pakar Parenting, rambu-rambu ketika menggunakan gadget adalah 3D yaitu didampingi, dibutuhkan dan dipinjamkan.


Didampingi artinya seorang anak ketika menggunakan gadget harus didampingi, tidak sendirian, jika ada yang tidak tahu dijelaskan. Dibutuhkan artinya memang menggunakan gadget untuk kebutuhan, misalnya untuk mengerjakan tugas sekolah, komunikasi. Selain hal-hal yang tidak dibutuhkan tidak dibolehkan. Gadget untuk anak-anak belum dibutuhkan, anak-anak yang masih dalam tahap berkembang mereka justru butuh untuk beraktifitas fisik, bergerak, bertemu bertatap muka, bukan duduk manis di depan layar. Dipinjamkan artinya anak tidak punya gadget sendiri, tapi dipinjami orangtuanya.


Jadi ketika orangtua mau tegas dan menerapkan hal ini kepada anak, hal-hal negatif yang muncul akibat berselancar menggunakan gadget plus fasilitas internetnya bisa dihindari. 


Selain peran orangtua, diperlukan juga peran masyarakat yang mengawasi. Seperti sekarang, adanya pengaduan dari masyarakat mengenai aplikasi Tik Tok dan ajakan untuk memblokir aplikasi ini juga merupakan salah satu contoh wujud dari peran serta masyarakat dalam menjaga generasi dari hal-hal yang merusak. 


Dibutuhkan juga peran negara yang serius untuk mengurusi masalah ini, misalnya:

1. Negara seharusnya membatasi kepemilikan gadget. Gadget dengan beragam aplikasinya dikhususkan hanya untuk orang dewasa, buka untuk anak-anak atau balita. Misalnya dibatasi diumur 17 tahun baru boleh memegang gadget.

2. Negara seharusnya membatasi aplikasi-aplikasi yang tidak bermanfaat, situs-situs yang berbau pornografi dan pornoaksi, game-game yang berbau kekerasan, karena aplikasi-aplikasi ini membawa banyak hal negatif, kelalaian, bahkan pada perusakan akidah.

3. Negara juga wajib menanamkan pendidikan bagi generasi muda mengenai sistem pergaulan dalam Islam, bagaimana bergaul dengan lawan jenis, bagaimana seorang perempuan menjaga izzah (kemuliaan) sehingga tidak dengan begitu bebasnya mengumbar pergaulan seperti di aplikasi Tik Tok. Jika generasi muda paham akan syariat Islam mengenai hukum pergaulan, hukum media maka insyaAllah generasi muda akan terselamatkan.


Jadi dalam hal ini memang dibutuhkan kontrol baik dari keluarga, masyarakat dan negara pada khususnya. 



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!