Saturday, July 28, 2018

Antara Menikah Dini Dan Pendidikan


Oleh: Sukma Okta (pelajar SMA di Karawang) 


Membicarakan soal menikah dini di zaman now, pasti dianggap tidak mementingkan pendidikan. Karena menikah dini 'katanya' akan mengganggu pendidikan si pelaku.


Sebagai remaja, saya menanggapi fenomena menikah dini adalah hal yang jauh lebih baik dibanding pacaran. Jika disuruh untuk memilih, diumur saya yang masih 16 tahun ini (muda banget nih ye), ya pasti saya akan memilih menikah dibanding pacaran yang jelas-jelas dilarang oleh Allah SWT.


Ketika saya menikah, bukan berarti saya tak bisa menuntut ilmu dan tak bisa mendapatkan pendidikan. 


Kendatipun, dalam pendidikan formal memang pelajar tidak disyaratkan dalam kondisi sudah menikah.


Berbeda pada masa di mana Islam diterapkan sebagai sistem kehidupan. Seseorang boleh menikah jika memang sudah matang secara fisik (baligh) dan sudah mampu (baik secara psikis maupun ekonomi) tanpa dibatasi usia.

 

Berkaitan dengan pendidikan, pelaku menikah dini tentu tidak terlarang untuk tetap mengenyam pendidikan karena status menikah bukanlah keharaman untuk tetap menuntut ilmu. Baik laki-laki maupun perempuan. Keduanya difasilitasi oleh negara.


Tentu bagi perempuan, ini sangat penting. Mengingat dialah pendidik pertama dan utama generasi suatu bangsa. Apabila perempuan-perempuan tidak cerdas bagaimana dengan generasinya kelak?


Sungguh miris, tatkala melihat muda-mudi yang terjerumus ke dalam aktifitas pacaran yang merupakan pintu ke arah perzinahan. Dan dianggap masyarakat sebagai hal yang biasa. Lumrah. Padahal Allah sudah memberikan peringatan:


"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zuna itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (TQS. Al-Isra': 32)


Sedangkan ketika melihat adanya pernikahan dini mereka katakan itu tindak kriminal karena membiarkan generasi terganggu pendidikannya, katanya. Sebenarnya, siapa yang menghambat pendidikan itu sendiri? 


Bukankah menikah berpahala? Bukankah menikah membuat kita bebas dari maksiat? Lantas apa yang dipermasalahkan?


Jikalau pendidikan yang dipermasalahkan apa harus kita yang disalahkan? Apa harus mereka yang menikah dini yang disalahkan? 


Saya remaja, tak mau berdosa karena pacaran yang menodai kesucian cinta. 


Saya remaja, tak mau orang tua saya masuk neraka hanya karena kemaksiatan yang dilakukan di luar pernikahan.


Saya remaja, yang ingin kan pendidikan tanpa ada syarat-syarat yang bertentangan dengan syariat.


Jikalau menikah dini bukan solusi remaja yang dimabuk asmara, maka pacaran jauh lebih merusak untuk dijadikan solusi remaja yang dimabuk asmara.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!