Wednesday, July 25, 2018

All About Love


Oleh: Trisnawati


Cinta adalah anugerah dari sang pencipta kepada makhluknya. Agar ia merasakan suka, sayang, rindu, ingin, terpikat, pengharapan, sedih. Itulah cinta, sesuatu yang dapat dirasakan namun tak dapat dilihat. Hanya tanda-tanda dan penampakannya saja yang dapat disaksikan.


Cinta memiliki komponen yang menjadikan cintanya benar dalam menyalurkannya. karena cinta adalah fitrah yang memerlukan pemenuhan namun tidak mengakibatkan sang pemilik cinta akan meninggal karenanya bila tak tersalurkannya cinta.


Komponen cinta terdiri dari yang mencintai (habib), yang dicintai (mahbub) dan cara mencintai. Maka terkait cara mencintai ada yang didalam jiwa (internal) dan ada yang penampakannya dapat dilihat dengan kasat mata.


Cinta yang benar tentu cinta yang diberikan oleh yang mencintai kepada yang dibenarkan untuk dicintai dengan cara yang benar, baik didalam jiwa (internal) maupun penampakkannya. Dan tentu membutuhkan tolak ukur dalam menilai cinta, apakah cintanya benar, karena manusia dengan akalnya dapat menyalurkan rasa cinta dengan cara yang berbeda dan bermacam-macam tanpa tahu arah cinta yang benar. 


Sehingga terkadang manusia bisa buta karena cinta. Kisah cinta Adam dan Heru adalah kisah cinta mereka adalah cinta suci (menurut pandangan mereka). Sebab mereka saling mencintai tanpa memandang jenis kelamin. ikatan cinta mereka pun terjalin dalam sebuah ikatan pernikahan sesama jenis. mereka merasa bahagia bahkan mereka menginginkan hadirnya anak diantara mereka.


Love is blind, karena cinta itu buta.

Cinta bahkan mendorong orang yang terkena virusnya bisa melakukan apa saja. Perselingkuhan pun menjadi jalan untuk mengapresiasikan cinta terlarang, berlakon menjadi pelakor pun tak masalah asal cinta tak bertepuk sebelah tangan. 


Bahkan ada cerita cinta yang berakhir dengan pembunuhan oleh pasangannya lantaran cemburu, cinta ditolak dan sekelumit perasaan cinta yang hanya dengan mengakhiri hidup salah satu pasangan menjadi solusi. Cinta apakah ini? Cinta yang seharusnya menimbulkan kebahagian namun berubah menjadi sebuah kegelisahan dan ketidaktentraman bahkan berakhir dengan tragis.


Namun tak selamanya cinta itu buta. Tak selamanya tahi kucing berasa coklat. Karena ada yang masih "normal" dengan mengunakan akal sehatnya untuk menyalurkan rasa cintanya dengan benar.


Masih ada kisah cinta yang melibatkan 3 komponen (habib, mahbub dan cara mencintai). Karena cinta seorang Ibu bersedia mengorbankan dirinya demi keselamatan anaknya. Karena Cinta, seorang Ayah bersedia menjual ginjalnya demi menebus ijazah anaknya. Juga karena cinta, pada perang uhud sejumlah sahabat menjadikan dirinya tameng untuk melindungi nabi Muhammad Saw, sehingga Rasulullah selamat dan sahabat tersebut tewas. 


Demi cintanya kepada Allah mereka meninggalkan istri, anak, sanak saudara, dan harta demi memenuhi seruan jihad. Bahkan puncak keagungan cinta ditunjukkan oleh khalilullah (kekasih Allah) nabi Ibrahim. Cinta nabi Ibrahim kepada Ismail putera semata wayangnya tak membuatnya ragu memenuhi perintah Allah untuk menyembelihnya. 


Memiliki fitrah yang sama namun tak semua manusia mampu merealisasikan rasa cinta dengan cara yang benar. Sehingga disinilah manusia membutuhkan tolak ukur dalam merealisasikan cinta. tolak ukur ini tidak boleh dikembalikan kepada logika dan nafsu manusia. karena manusia sangatlah lemah. bisa jadi ia membenci sesuatu padahal ia amat baik untuknya, atau malah sebaliknya ia sangat menyukai sesuatu namun bisa jadi itu hal terburuk buatnya. Benarlah Allah dalam firmannya:


كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (البقرة: 216)


“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!